Kegiatan Edukasi Tari Keroncong Nusantara Goes To School 2026 Berhasil Diadakan
Rudy Octave bersama Lembaga Irama Nasional Indonesia (LINI) dan Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) berhasil menyelenggarakan acara Roadshow Edukasi dan Lokakarya: Tari Keroncong Nusantara Goes To School 2026. Acara ini merupakan upaya nyata dalam melestarikan warisan budaya nasional yang sedang diperjuangkan menjadi Warisan Dunia UNESCO.
Acara yang diselenggarakan secara tatap muka ini berlangsung di SMK Negeri 57 Jakarta dan diikuti oleh 100 siswa dan siswi terpilih dari 11 SMA/SMK di wilayah Jakarta. Peserta mengikuti acara melalui pendaftaran dan undangan online.
Pemahaman Budaya Nusantara untuk Generasi Muda
Rina Mulyati, Kepala SMK Negeri 57, menjelaskan bahwa melalui acara ini para peserta diharapkan dapat lebih mengenal kekayaan budaya Nusantara. Tujuan utamanya adalah agar para murid dapat mengenali dekat kekayaan budaya Nusantara, meningkatkan keterampilan dan apresiasi seni serta menjadi generasi muda yang mampu menjaga dan mengembangkan budaya bangsa agar tetap hidup dan dicintai sepanjang zaman.
Acara ini terselenggara berkat dukungan penuh dan pendanaan dari Balai Pemajuan Kebudayaan Wilayah VIII (Banten-Jakarta), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam penguatan ekosistem kebudayaan lokal.
Pengenalan Tari Keroncong Nusantara
Dalam lokakarya ini, para peserta diperkenalkan pada Tari Keroncong Nusantara, sebuah inovasi gerak tari yang diciptakan oleh ASETI untuk mengiringi lagu berjudul Alunan Senja. Lagu tersebut merupakan karya orisinal dari Rudy Octave, musisi sekaligus pendiri LINI yang juga dikenal lewat gagasan dalam buku Indonesia Darurat Irama.
Rudy Octave menekankan bahwa irama khas seperti Keroncong akan lebih lestari jika didukung oleh gerak tari agar mudah diikuti oleh masyarakat luas. “Harapannya supaya anak-anak dari milenial ke bawah mengerti apa itu musik keroncong. Dengan cara kita kasih tarian, akhirnya mereka bisa menikmati,” ujar Rudy Octave.
Keunikan Tari Keroncong Nusantara
Tari Keroncong Nusantara memiliki keunikan tersendiri dengan menggabungkan 10 pola gerak yang merepresentasikan keragaman budaya dari ujung timur hingga barat Indonesia. Tarian ini mencakup unsur Melayu, Betawi, Sulawesi, Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara hingga Jawa. Filosofi tarian ini dirancang santai dan inklusif agar dapat dipelajari dengan mudah oleh generasi muda tanpa memerlukan energi berlebihan, namun tetap menjaga nilai estetika dan sejarah.
Sejarah dan Evolusi Irama Keroncong
Tari Keroncong Nusantara juga mencerminkan peta perjalanan penjelajah bangsa Portugis melewati daerah-daerah tersebut dengan membawa instrumen asli berupa gitar kecil yang bernama cavaquinho. Instrumen ini pada akhirnya berevolusi menjadi machina dan pronga di kawasan Kampung Tugu Jakarta Utara dan instrumen Cak dan Cuk di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga dikenal nama irama KERONCONG saat ini.
