Kehidupan Zainuddin Tambi yang Penuh Dengan Perubahan
Zainuddin Tambi, seorang guru honorer yang pernah bekerja sebagai wartawan, kini memicu heboh di Kedai Tok Awang. Sebelum menjadi guru, ia pernah menghabiskan waktu di berbagai media. Dari yang memiliki gaji tetap hingga yang hanya mampu memberikan honor dalam bentuk koran atau majalah yang harus dijual sendiri.
Salah satu media yang paling lama ia tempati adalah Wal-‘Ashr, yang sering disebut dengan nama parodi untuk ‘Demi Masa’, sebuah koran semi tabloid yang terbit dua kali seminggu. Kantornya berada tepat di samping diskotek yang buka 24 jam. Di jam-jam puncak showtime, suara house music bisa terdengar hingga ke ruang redaksi.
Meski kabar ini belum terkonfirmasi, banyak orang di Kedai Tok Awang mulai menebak-nebak. Idam Marley, salah satu pendukung tebakan tersebut, menyatakan bahwa Zainuddin Tambi sudah bosan menunggu pengangkatan menjadi pegawai tetap. “Bolak-balik cuma dapat angin sorga. Mo diangkat, mo diangkat, tapi nggak jugak. Umur makin tua, mo sampek kapan bertahan jadi honorer?” katanya.
Pendapat ini didukung oleh Riki Rikardo, Leman Dogol, Jek Buntal, Ocik Nensi, dan Tante Sela. Namun, tebakan lain datang dari Lek Tuman yang mengatakan bahwa Zainuddin Tambi tidak tahan dengan tekanan. Ia diberi tanggung jawab untuk mendistribusikan Makan Bergizi Gratis di sekolahnya dan membantu dua sekolah lain yang bertetangga.
“Kalok tak silap sempat ada murid di sekolahnya yang mual-mual setelah makan. Daripada makin parah, pakek duitnya yang gak seberapa, Pak Guru bawa murid itu ke puskesmas. Belum lagi EmBeGe-EmBeGe yang dibuang. Belum lagi orang-orang tua murid yang posting-posting di medsos sambil ngejek-ngejek. Stres dia,” ujarnya.
Jontra Polta, Ucok Morning, dan Tok Awang setuju dengan pendapat ini. Sementara itu, pandangan Marulam Disko agak berbeda. Ia mengatakan bahwa Zainuddin Tambi terpanggil kembali menjadi wartawan karena terluka harga dirinya akibat sentilan Hotman Paris Hutapea.
“Dibilang Si Hotman pulaknya wartawan gak punya otak,” ujarnya diikuti tawa berderai. “Bekuah kali memang mulut kawan tu. Semua digasnya. Cumak kali ini agak ngeper dia, ngeri-ngeri sedap. Si Razman bisa, lah, dia penjarakan, jangan cobak-cobak sama wartawan.”
Marulam Disko mengangguk-angguk. Pun Idam Marley, Jontra Polta, dan Leman Dogol yang duduk di sampingnya.
“Kau sampekkan aja nanti sama dia langsung, Ki. Keknya belum terlambat. Tadi pagi masih pergi ngajar dia. Ketemu kami di kede lontong depan pajak,” ujar Marulam.
Namun, Zainuddin Tambi tidak terlihat sejak semalam. Saat terik lepas tengah hari memecah jadi warna-warna yang beringsut meniti kabel-kabel listrik, kabel-kabel jaringan komunikasi, kabel-kabel antena, lalu turun ke trotoar, ke jalan raya, membasuh wajah para pejalan kaki, para pemotor, para penumpang angkot yang selalu menunjukkan air muka serba resah dan tergesa-gesa.
Tiba-tiba, terpal penutup kedai tersibak. Tante Sela, yang sedang meracik jamu pegel linu pesanan Ocik Nensi, berteriak. “Panjang umurnya!”
Zainuddin Tambi masuk kedai. Cengengesan. Sebagaimana yang sudah jadi biasa dalam beberapa waktu terakhir, ia menenteng tas plastik, yang meski kali ini tidak transparan, sudah bisa ditebak apa isinya. Ia mengambil posisi duduk di meja tak jauh dari steling, berhadap-hadapan dengan televisi yang mengalir sendiri tanpa suara.
“Kopi susu, Cik,” serunya. “Sekalian es kosongnya.”
“Nasi Goreng nggak, Guru? Ifu Mi kuah nyemek-nyemek?”
“Nggak, Cik. Awak makan nasik EmBeGe ini aja.”
“Masih jugak urus-urus EmBeGe, Guru?” tanya Jontra Polta menyeletuk.
“Iyah, diurus, lah, Jon. Apa pulak! Sepanjang masih tugas awak, ya, awak kerjakan. Walo gak jelas. Walo lebih banyak bikin kesal. Tetap awak kerjakan. Tanggung jawab itu namanya.”
“Dengar-dengar Guru mau berhenti,” sahut Idam Marley.
“Urus EmBeGe?”
“Iya, sekaligus berhenti jadi guru.”
“Bah! Siapa bilang?”
“Gak betul?”
“Nggak, lah, kenapa pulak harus berhenti?”
“Guru udah bosan jadi honorer.”
“Udah malas Guru urus EmBeGe. Sekaligus tertekan jugak, kayak Si Nanik. Takut Pak Guru kenak jantung,” sahut Lek Tuman.
“Terusik harga diri Pak Guru sebagai mantan wartawan,” sambung Marulam Disko.
“Bah! Bah! Bah! Apanya kelen ini. Kau lagi, Lam. Harga diri wartawan? Gak ngerti awak. Harga diri apa?”
“Ah, itu, Guru, yang dibilang Hotman Paris. Wartawan gak ada otak.”
Tawa Zainuddin Tambi seketika lepas. Keras sekali. Sampai terbatuk-batuk. Cepat diraihnya gelas air es, lalu diminumnya beberapa tegukan.
“Kau tahu, Lam, Hotman Paris itu sebenarnya gak salah-salah kali,” katanya setelah mengatur napas.
“Bisa dibilang dia separo betul. Memang gak semua wartawan punya otak. Banyak jugak yang bengak. Kurang ajar. Mengogapaja kerjanya. Carik-carik kesalahan orang, ngancam nulis, ujung-ujungnya minta duit. Sampek warga renovasi WeSe tumpat di rumahnya ditanyak-tanyak orang tu izinnya. Ini yang kelas kroco. Yang kelas berat lain lagi cara mainnya. Digas dulu, sampek ngampun-ngampun, tros datang minta proyek. Ibarat kata, pukul pakek tangan kiri mintak pakek tangan kanan.”
“Jadi Guru gak tersinggung?”
Zainuddin Tambi menyeruput kopi susu yang ia tuangkan ke piring tatakan gelas. Satu seruputan panjang. Lantas, setelah mengempas napas, ia menggeleng.
“Ya, nggak, lah. Ngapain? Jujur aja, awak lebih tersinggung sama yang dibilang sama presiden di pidatonya kemaren. Nggak tahu awak cemana dulu sejarahnya, tapi, kok, keknya dia ini sejak lama memang layas kali sama wartawan. Sepele kali. Hina kali dianggapnya. Ingat dulu kelen pernah dibilangnya wartawan gaji kecik gak pernah ke mal? Tapi yang satu ini memang rusak kali. Walo udah lama gak jadi wartawan awak tetap ngerasa tersinggung.”
“Yang mana itu, Guru?”
“Londo Ireng.”
“Londo Ireng?”
“Iya, dia sebut wartawan Londo Ireng. ElEsEm, ekonom, dan aktivis juga dibilangnya Londo Ireng, tapi keknya ke wartawan yang paling ditekankan sama dia. Ini jauh lebih kaco dari Hotman Paris.”
“Lebih kaco?” giliran Riki Rikardo melempar tanya.
“Awak bukan ngebela Si Hotman. Beserak jugak cakap dia. Gak pernah sukak awak. Ya, cumak, yang dibilangnya itu perkara pribadi. Wartawan yang becakap sama dia yang dibilangnya gak ada otak. Artinya, menurut dia si wartawan itu dongok, orang kata subjektif, tapi kalok Londo Ireng, ini tuduhan serius. Londo Ireng itu cuak, mata-mata, penjilat, orang-orang yang bekerja untuk Belanda. Pengkhianat-pengkhianat bangsa. Gak terima dia karena ada wartawan motret anak-anak makan EmBeGe di depan sekolah yang beserak. Dindingnya separo roboh, atapnya jugak. Padahal gak perlu jadi presiden untuk ngerti kalok yang wartawan tu maksud, daripada ngasih EmBeGe, baguslah sekolahnya yang dibangun duluan.”
“Sekarang, kan, kita gak dijajah Belanda lagi, Guru?” tanya Lek Tuman.
“Nggak tahu awak, Pak Kep. Mungkin baru tepikir sama belio. Gitu tepikir, gitu telintas, gitu disebut. Cumak kukira ini sebenarnya gak jauh dari antek-antek asing jugak. Sukak kali memang dia nuduh orang antek asing.”
“Padahal yang antek asing itu dia sendiri, ya,” celetuk Riki Rikardo sembari tertawa. “Yes, Sir! All my training is America, Sir!”
“Eh, udah rame kali soal ini di berita-berita. Rame di medsos juga,” ucap Leman Dogol yang sedari tadi tidak buka suara.
Leman membuka laman-laman berita telepon selularnya.
“Di sini ditulis, awalnya Londo Ireng istilah untuk tentara bayaran dari Afrika yang bantu Belanda perang. Tros lama-lama bergeser jadi orang kita yang kerja untuk Belanda, yang nindas sodara-sodaranya sendiri demi duit dan pangkat. Ada jugak nih wartawan yang udah bikin pernyataan. Prabowo disuruh mintak maaf, Pak Guru.”
“Nah!”
“Tapi ada yang keknya gak kalah menarik jugak ini.”
“Apa?”
“Ada nama Benjamin Thomas Sigar.”
“Siapa itu?”
“Kata berita ini, masih ada tali sodara sama Prabowo. Buyutnya, dari sebelah ibu.”
“Tros, hubungannya dengan Londo Ireng?”
“Kata berita ini, orang ini, bekerja untuk Belanda, kemudian dikirim ke Jawa untuk nangkap Pangeran Diponegoro.”
“Alamak!”
Dari balik steling, Ocik Nensi menggeberkan potongan lagu Radiohead, yang meski dinyanyikan dengan cengkok Arlida Putri, tetap saja terasa dingin dan mencekam.
You look so tired, unhappy/Bring down the government/They don’t, they don’t speak for us…





