Pengaruh Puasa terhadap Kesehatan Mental dan Fisik
Puasa di bulan Ramadan tidak hanya berdampak pada pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Proses menahan lapar dan dahaga selama berjam-jam ternyata dapat mempengaruhi cara kerja otak sekaligus melatih kemampuan pengendalian diri.
Dr Angga Wilandika, dosen Keperawatan Universitas ‘Aisyiyah (Unisa), menjelaskan bahwa saat berpuasa tubuh mengalami proses metabolisme yang berbeda dibandingkan hari biasa. Proses tersebut turut mempengaruhi kejernihan berpikir hingga kestabilan emosi. Pada awal waktu puasa, tubuh akan memanfaatkan cadangan energi yang tersedia dari glukosa. Namun setelah beberapa jam, tubuh mulai beralih menggunakan sumber energi lain.
“Saat berpuasa, tubuh kita awalnya menggunakan cadangan glukosa. Setelah beberapa jam, tubuh beralih dengan membakar lemak dan menghasilkan keton sebagai sumber energi alternatif bagi otak. Pada sebagian orang kondisi ini membuat kita menjadi lebih berpikir jernih dan lebih fokus,” ujar Angga.
Perubahan metabolisme tersebut bukan hanya berdampak pada energi fisik, tetapi juga mempengaruhi cara otak mengelola emosi dan perilaku. Angga menjelaskan bahwa proses menahan lapar, haus, serta mengendalikan emosi selama berpuasa turut melibatkan bagian otak yang disebut pre-frontal cortex. Bagian ini berperan penting dalam pengendalian diri dan regulasi emosi.
“Ketika kita menahan lapar dan menjaga kestabilan emosi saat berpuasa, sebenarnya kita sedang melatih kontrol diri. Bagian otak yang bekerja adalah pre-frontal cortex yang berkaitan dengan pengendalian diri dan pengaturan emosi,” jelasnya.
Secara psikologis, latihan pengendalian diri tersebut dapat berdampak positif pada kesehatan mental. Puasa, kata Angga, dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam menunda keinginan, mengelola stres, serta meningkatkan kesadaran diri. Namun demikian, manfaat tersebut tidak otomatis dirasakan oleh semua orang.
Ada sejumlah faktor penting yang mempengaruhi kondisi fisik dan mental selama menjalani puasa. “Efek puasa itu tidak terjadi begitu saja. Kualitas tidur, kecukupan cairan, serta asupan nutrisi saat sahur dan berbuka sangat menentukan. Jika kita kurang tidur atau mengalami dehidrasi, tubuh akan menjadi lebih lelah dan emosi juga bisa menjadi tidak stabil,” katanya.
Oleh karena itu, menjalani puasa dengan pola hidup sehat menjadi kunci agar manfaat fisik dan mental dapat dirasakan secara optimal. “Jika dilakukan dengan sehat, puasa bukan hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga mendukung keseimbangan kesehatan mental kita,” tambahnya.
Angga juga menyoroti kondisi emosional yang sering muncul pada jam-jam rawan menjelang waktu berbuka. Pada fase tersebut, rasa lapar dan lelah kerap memicu emosi yang lebih sensitif. Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar seseorang berusaha menenangkan diri dan meningkatkan aktivitas spiritual.
“Salah satu upaya mengelola emosi ketika berpuasa adalah dengan bersabar. Bagi umat Muslim, ibadah seperti salat tepat waktu atau mengambil wudu juga dapat membuat hati lebih tenang dan memberikan dampak positif bagi kesehatan mental,” jelasnya.
Menurutnya, aktivitas ibadah tersebut bahkan dapat memberikan sugesti positif yang membuat rasa lapar terasa berkurang. “Ketika hati menjadi tenang, tubuh juga akan merespons secara positif. Bahkan ada sugesti yang membuat rasa lapar seolah-olah berkurang,” katanya.
Selain pengelolaan emosi selama puasa, Angga juga menyinggung pentingnya menjaga kesehatan mental secara umum, terutama bagi generasi muda yang kerap membicarakan isu mental health. Ia menilai langkah sederhana seperti berpikir positif dapat menjadi awal untuk menjaga kesehatan mental.
“Ketika kita melakukan aktivitas apapun, kita harus berpikir positif terlebih dahulu. Pola pikir positif membantu kita menghadapi berbagai situasi sehingga tidak berkembang menjadi masalah dalam kesehatan mental,” ujarnya.
Aktivitas yang menyenangkan juga dapat menjadi cara efektif untuk menjaga kestabilan pikiran. Menurutnya, menjalankan hobi dapat memberikan efek relaksasi dan ketenangan bagi seseorang. “Melakukan hobi yang disukai bisa memberikan efek relaksasi. Ketika kita merasa senang dengan sesuatu, hal itu memberi ketenangan pada pola pikir kita dan menyehatkan secara mental,” kata Angga.
Ia menambahkan bahwa kegiatan seperti healing atau staycation memang dapat memberikan ketenangan bagi sebagian orang. Namun bagi mereka yang belum memiliki kemampuan finansial, aktivitas sederhana yang menyenangkan juga dapat menjadi alternatif. “Tidak semua orang harus melakukan kegiatan yang mahal. Yang penting adalah melakukan aktivitas yang positif dan sesuai dengan minat, tetapi tetap mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang tidak,” jelasnya.
Selama Ramadan, Angga juga menyarankan agar seseorang mengalihkan emosi negatif melalui aktivitas yang lebih produktif. Hal ini penting karena saat berpuasa seseorang tidak dapat melampiaskan emosi dengan cara-cara tertentu seperti makan berlebihan. “Ketika muncul kekesalan atau emosi, kita bisa melakukan distraksi atau pengalihan. Misalnya membaca Al-Qur’an, mengaji, atau mendengarkan pengajian. Itu bisa membantu mengalihkan emosi agar tidak dilampiaskan dengan hal yang kurang baik,” katanya.
Angga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda yang sedang mengalami kegalauan atau tekanan hidup, untuk memanfaatkan momentum Ramadan sebagai waktu memperbaiki diri. “Pertama, mendekatkan diri kepada Sang Mahakuasa. Ketika kita berdoa kepada Allah, kita akan mendapatkan ketenangan dan solusi atas berbagai masalah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjalankan ibadah secara konsisten, karena berbagai penelitian menunjukkan praktik ibadah dapat memberikan dampak positif bagi ketenangan jiwa. “Praktik ibadah seperti salat, mengaji, atau amalan sunah terbukti dapat memberikan efek kedamaian bagi seseorang, selama kita melakukannya dengan keyakinan,” katanya.
Selain itu, menjaga pola makan sehat saat sahur dan berbuka juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan fisik dan mental selama Ramadan. “Makan sahur, berbuka dengan baik, dan mengonsumsi makanan yang sehat juga berpengaruh pada kesehatan mental kita. Ketika tubuh sehat, pikiran pun akan lebih stabil,” ucapnya.





