Program Sekolah Lansia Nurani: Menjadi Ruang Kebersamaan dan Kemandirian bagi Lansia

Sekolah Lansia Nurani di Tarakan, Kalimantan Utara, telah menjadi tempat yang sangat berarti bagi para lansia. Di sini, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menemukan kebahagiaan, keterlibatan sosial, dan kesempatan untuk tetap aktif secara fisik maupun mental. Salah satu peserta yang sukses dalam program ini adalah Mardinah (62), yang meraih predikat terbaik dari 30 peserta lainnya.

Pengalaman Mardinah di Sekolah Lansia

Mardinah, seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya tinggal di Parepare, mengungkapkan bahwa ia bergabung dengan program ini sejak tahun 2025. Awalnya, ia diajak oleh ibu dari seorang Ustaz, dan pada saat itu, tempat tersebut masih dikenal sebagai Panti Jompo. Namun, seiring waktu, konsepnya berubah menjadi Sekolah Lansia yang lebih terstruktur dan berorientasi pada pemberdayaan.

“Kami dipanggil ke sekolah, dulu belum ada namanya sekolah lansia, masih Panti Jompo. Kalau saya tidak di panti tinggal. Cuma kami sering juga ke panti kalau ada pengarahan mengenai agama, pokoknya banyak macam-macam yang dikasih tau diundang,” kata Mardinah.

Selama menjalani program ini, Mardinah dan rekan-rekannya terus aktif mengikuti berbagai kegiatan seperti membuat gelang, belajar cara menanam apotek hidup, serta menghiasi kue donat. Ia juga menyebutkan bahwa selama ini mereka tidak pernah terlambat hadir dan selalu ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan.

Kurikulum Berjenjang dan Tujuan Program

Program Sekolah Lansia Nurani dirancang dalam kurikulum berjenjang, mulai dari S1 hingga S3. Setiap jenjang memiliki fokus yang berbeda. Di S1, fokus utamanya adalah mengubah kepedulian menjadi kebahagiaan, memastikan lansia kembali aktif dan berinteraksi dengan masyarakat. Di S2, peserta dibekali keterampilan produktif seperti membatik dan membuat sabun. Sementara di S3, lansia diharapkan menjadi duta lansia yang bisa berperan aktif di berbagai kegiatan sosial.

Menurut Muhammad Zulfunun, Ketua Yayasan Almarhamah sekaligus penggagas program NURANI, wisuda lansia merupakan penanda kelulusan tahap pertama dari Sekolah Lansia. “Ini bukan akhir, tapi awal untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya,” ujarnya.

Dukungan Keluarga dan Lingkungan

Mardinah mengaku mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Ia memiliki tiga anak dan empat cucu. Dua dari anak-anaknya sudah menikah, sedangkan satu masih lajang. “Iya, kami didukung sama keluarga,” katanya singkat.

Selain itu, suasana kekeluargaan di Sekolah Lansia juga menjadi salah satu hal yang membuat Mardinah dan peserta lain merasa nyaman. “Banyak teman-teman, biar kita tidak sekeluarga, biar kita tidak bertanggangan, tapi kumpul di situ, jadi kita kayak keluarga sudah semua,” ujarnya.

Aktivitas Sosial dan Kesehatan

Selain kegiatan sosial, para lansia juga dibekali aktivitas untuk menjaga kesehatan. Mardinah mengatakan bahwa olahraga rutin menjadi bagian dari kegiatan yang dijalani. Setiap Sabtu, ia bersama rekan seangkatannya melakukan olahraga sesuai jadwal yang ditentukan.

Selain itu, Mardinah juga menyebutkan bahwa kegiatan di Sekolah Lansia tidak membuatnya merasa lelah. Justru karena sudah terbiasa aktif, kegiatan ini terasa ringan dan menyenangkan. “Tidak juga, karena kebiasaan kami kan. Kalau ada kegiatan kami nyanyi, kami joget-joget, jadi tidak terasa,” katanya.

Pendekatan Program dan Pembiayaan

Program Sekolah Lansia tidak memungut biaya dari peserta. Seluruh pendanaan berasal dari dana zakat dan donasi masyarakat yang dikelola Yayasan Almarhamah. “Kami mengelola dana zakat dan berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa Nasional. Dana tersebut kami turunkan dalam bentuk program pemberdayaan, bukan sekadar bantuan konsumtif,” jelas Zulfunun.

Dalam proses perekrutan, yayasan bekerja sama dengan RT, RW, dan kelurahan setempat. Peserta yang mengikuti Sekolah Lansia harus dalam kondisi sehat dan mampu bergerak aktif. Jika lansia tidak mampu bergerak, mereka tetap akan didampingi lewat program khusus yang disesuaikan dengan kondisi mereka.

Materi dan Kerja Sama dengan Institusi

Kurikulum Sekolah Lansia terdiri dari 12 kali pertemuan yang dilaksanakan dua minggu sekali, dengan materi yang disampaikan oleh para ahli, mulai dari dokter spesialis hingga tenaga profesional. Materi mencakup pengetahuan umum, keterampilan, keagamaan, kesehatan fisik, hingga rekreasi. Kurikulum ini disusun melalui kerja sama dengan Indonesia Ramah Lansia (IRL) Yogyakarta dan DP3A.

Zulfunun menambahkan, Yayasan Almarhamah sebelumnya dikenal sebagai panti jompo. Namun konsep tersebut kini diubah menjadi Sekolah Lansia yang mengembalikan lansia ke lingkungan keluarga. “Kami melihat keterlibatan keluarga itu sangat penting. Sekolah Lansia bukan menampung, tapi menguatkan peran lansia di tengah keluarga dan masyarakat,” ujarnya.

Program Tambahan Selama Ramadan

Selain program utama, Yayasan Almarhamah juga menghadirkan program tambahan selama Ramadan, seperti Pesantren Lansia, BBM (Belanja Barang Sembako), serta berbagai kegiatan pembinaan sebagai bagian dari komitmen pemberdayaan lansia secara berkelanjutan.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version