(“The Mawlid is the festival of the heart” — Annemarie Schimmel)
Infomalangraya.net.CO.ID, JAKARTA — Akhirnya bulan penuh festival itu datang juga seperti musim semi yang hadir dihiasi kuncup bunga bermekaran beraneka ragam warna.
Tidak ada bulan penuh warna-warni seperti bulan Rabiul Awal yang hampir setiap harinya dibacakan aneka pujian, akhlak mulia, mukjizat dan sejarah seorang manusia agung yang bernama Muhammad Rasulullah.
Di anak benua Indo-Pakistan dan India, langit seperti penuh bintang dengan hiasan lampu-lampu yang bergelantungan. Na’at atau puisi dilantunkan, permen dan manisan dibagikan, karena dalam sedekah itu ada keberkahan.
Di Maroko dan Turki, kasidah Burdah dilantunkan dengan penuh getar perasaan. Mevlid Ottoman mengalun yang nada lirihnya menyentuh langit-langit masjid tua.
Selama sebulan Rabiul Awal, Al-Azhar di Mesir menjadi seperti lautan kegiatan, sirah Nabi diceritakan ulang dan pasar dipenuhi lantunan shalawat.
Di Yaman, tiap malam syair-syair Ad-Diba’i dibisikkan lirih penuh perasaan dan hikmat, rumah diselimuti aroma harum wewangian, hati menjadi tenang, seolah Nabi sedang hadir bertamu.
Mungkin hanya di negeri ini perayaan Maulid yang paling heboh dan meriah diadakan dari ujung ke ujung Nusantara, dari Istana Kepresidenan sampai ke surau di pelosok kampung. Maulid sudah menjadi tradisi dan berbaur dengan adat dan budaya setempat. Ada Sekaten seperti di Jawa, ada rebana, ada aneka perlombaan, ada tumpeng, ada sedekahan, ada Barzanji, makan bersama dan ada hari libur bersama.
“Indonesia… It is truly a country of a thousand Mawlids.”
Indonesia sungguh sebuah negeri dengan seribu Maulid, ungkap Annemarie Schimmel, seorang orientalis dan Profesor Studi Islam Harvard berkebangsaan Jerman yang terkenal dengan buku-bukunya Dimensi Mistik dalam Islam dan Dan Muhammad Rasulullah.
Festival Maulid tidak perlu visa untuk bisa menyeberang dari satu negeri ke negeri yang lain. Walau negerinya berbeda, nadanya berbeda, adat dan budaya berbeda, tapi ungkapan cinta, air mata rindunya tetap sama.
Karena Maulid bukan sekadar perayaan biasa, tapi “monumen waktu”, petunjuk jalan kembali umat untuk tetap mencintai Nabinya.
Kontroversi Klasik
Perdebatan apakah Maulid itu bid’ah? Boleh atau tidak? Itu sudah menjadi perdebatan klasik dan entah kenapa tetap diwariskan sejarah. Namun perlu dicatat adalah hampir seluruh mazhab yang empat, Maliki, Hanafi, Syafi’i dan sebagian Hambali membolehkan dan menganjurkan, asal tidak ada kemungkaran di dalamnya. Cuma sebagian Mazhab Hambali kontemporer yang tidak membolehkan.
Jangan hukumi persoalan cinta Rasul dengan pelik-pelik dasar hukum dengan alasan karena Nabi, Sahabat, dan tiga generasi terbaik tidak pernah merayakan 12 Rabiul Awal dengan dalil:
“Barangsiapa membuat perkara baru dalam agama kami yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR Bukhari)
Atau terlalu khawatir dengan bid’ah dan ghuluw karena dianggap menyerupai Natal dan takut pujian berlebihan sampai ke tingkat ketuhanan.
Padahal ini bukan persoalan fiqih atau konsepsi teologis, ini cuma perdebatan soal cinta Rasul. Semua orang sepakat cinta Rasul itu wajib, cuma ekspresi “caranya” yang sering berbeda, diperselisihkan dan diperdebatkan.
Padahal, jangan lupa di dalam Maulid itu ada shalawat, baca sirah kenabian, sedekah, dzikir. Semua pujian kepada Nabi dalam batas-batas kemanusiaannya sebagai makhluk pilihan dan mulia.
Basyarun laa kal basyar.
Manusia tapi tidak seperti manusia biasa.
Citra dan kemanusiaan Muhammad sebagai manusia dalam sejarah Maulid tidak pernah melampaui sampai derajat ketuhanan, seperti dalam agama dan kepercayaan yang lain. Ia tetap manusia biasa yang diberi wahyu oleh Allah SWT.
Secara kaidah ushuliyah disebutkan:
Al-aslu fil asyya’ al-ibahah = hukum asal segala sesuatu adalah boleh, selama tidak ada larangan.
Jonathan Brown, seorang Muslim Amerika dan Profesor Studi Islam di Georgetown, berpendapat bahwa:
“Perdebatan Maulid di Islam mirip perdebatan Natal di Kristen awal. Gereja awal juga tidak merayakan Natal. Tapi lama-lama umat butuh hari khusus untuk mengingat.”
Maulid adalah perkembangan alami agama secara sosiologis ketika umat Islam perlu “monumen waktu” untuk mengingat dan memperbaharui cinta kepada Nabinya Muhammad Rasulullah SAW.
Ekspresi Cinta
Annemarie Schimmel menyebut Maulid sebagai “festival of the heart” atau Perayaan Pesta Hati karena ia lahir dari satu sumber: yaitu rindu. Cinta dan rindu adalah seperti dua sisi keping logam mata uang yang keduanya sama-sama bernilai dan berkaitan erat.
Secara fiqh mungkin hanya menjawab “boleh atau tidak”. Secara teologis hanya ada pilihan “syirik atau tidak”. Tapi ketika dihadapkan pada hati ia hanya bertanya, “Bagaimana caranya ketika aku mencintai Nabiku Muhammad?”
Maka Maulid adalah jawabannya.
Ketika lisan ini basah bershalawat, itulah cinta.
Ketika telinga ini penuh hanya mendengar sirah perjalanannya, itulah cinta.
Ketika tangan ini ikut berbagi makanan, itulah cinta.
Ketika hati ini merasa terharu ketika pujian-pujian dilantunkan, itulah cinta.
Ketika mata berkaca-kaca tidak terasa ketika mendengar nama “Muhammad”, itulah cinta.
Lalu apakah salah ketika mengekspresikan pujian-pujian penuh cinta dengan ungkapan “engkaulah matahari dan bulan purnama”, “engkau cahaya di atas cahaya”?
Apakah itu dianggap ghuluw atau terlalu berlebihan? Padahal bagi para pencinta itu tidak berlebihan dan masih terasa kurang rasa ungkapan cintanya. Mereka masih menganggap Muhammad Rasulullah tetaplah manusia biasa yang tidak ada unsur ketuhanan yang wajib disembah dalam dirinya.
Cinta itu memiliki bahasa dan logika tersendiri, ia lebih tahu bagaimana mengungkapkan perasaan jiwanya. Cinta itu memiliki permainan bahasa tersendiri atau language games menurut filsafat analitik, dengan kaidah-kaidah yang tidak bisa diintervensi oleh terminologi bahasa fiqh atau teologis.
Orang tidak bisa menghakimi bahasa cinta yang berada di luar logika dan keyakinannya. Sebagaimana Al Junaidi Al Baghdadi terpaksa “melepas” jubah kesufiannya demi berdamai dengan kekuasaan secara teologis ketika menghukum mati Al Hallaj yang mengucapkan “Ana Al Haqq”, Akulah kebenaran… Akulah Cinta.
Tidak ada yang bisa membelenggu orang lain mengekspresikan cintanya secara pribadi, kelompok, hukum apalagi kekuasaan. Karena cinta itu adalah L’amour est l’enfant de la liberté, cinta itu adalah anak kebebasan, menurut Erich Fromm. Ia bebas mengungkapkan dan menafsirkan dirinya lewat bahasa yang dimilikinya.
Hakikat Cinta
Maulid Muhammad Rasulullah dengan berbagai festival dan perayaan bukan bukti cinta biasa, bukan cinta platonis, cinta buta atau cinta satu malam. Tapi cinta yang lahir dari kesadaran iman yang tinggi dan tulus yang mengesampingkan cinta-cinta yang lain.
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidak beriman salah satu dari kalian sampai aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR Bukhari 15, Muslim 44)
Dalam sebuah hadits qudsi sering disebutkan:
“Seandainya bukan karena (cinta, red) engkau ya Muhammad niscaya Aku tidak akan menciptakan alam semesta.”
Walau sebagian ulama di luar kalangan ahli tasawuf menganggapnya sebagai hadits dhaif/palsu.
Iman itu memiliki dua bentangan sayap antara tasdiq yakni membenarkan dan mahabbah yaitu mencintai. Tanpa cinta, iman menjadi kaku dan gersang, seperti ladang kering kerontang tidak ada kesejukan dan keindahan. Tanpa iman, cinta menjadi arah yang sesat, menjadi budak dan pelampiasan nafsu atas nama cinta.
Bagi Schimmel, Maulid bukan soal dalil. Maulid soal psikologi kemanusiaan.
“Without the love for Muhammad, Islam would be a body without a soul.”
“Tanpa cinta kepada Muhammad, Islam hanyalah tubuh tanpa jiwa.”
Ungkapan cinta lewat Maulid menjadi jembatan antara hukum syariah yang terlihat kaku dengan kebutuhan hati manusia akan puisi, musik, dan rindu kepada Nabinya. Dalam Maulid, terlihat bagaimana wajah Islam diterjemahkan kecintaan pada kemanusiaannya.
Momentum Maulid menjadi penting, karena ia adalah monumen waktu tahunan untuk mengukur seberapa besar cinta kepada Nabi di hati umatnya.
Maulid mengingatkan bahwa agama Islam ini bukan hanya tentang “apa yang harus kulakukan”, tapi juga “siapa yang paling dicintai”.
Karen Armstrong, sejarawan agama Inggris, melihat Maulid sebagai cara umat Islam merawat “memori kolektif” cinta mereka kepada Nabinya. Manusia membutuhkan merayakan kelahiran tokoh besarnya agar nilai-nilainya tidak mati. Sama seperti Natal, Vesak, atau Hari Martin Luther King.
Epilog
Semua orang bisa setuju, bisa juga tidak dengan bentuk perayaannya. Tapi jangan pernah sampai membiarkan taman cinta kepada Muhammad Rasulullah kehilangan musim seminya.
Karena selama masih ada hati yang terusik rindu, selama masih ada lisan yang bershalawat, selama masih ada anak-anak yang bertanya “siapa Nabinya?”, maka selama itu juga Maulid akan terus hidup.
Sebab Maulid memang bukan sekadar tanggal, tapi Maulid adalah pesta hati para pencinta Rasulullah SAW.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.
Bekasi, 20 Agustus 2026
