Kembali ke Papua, Medelky Anouw Bawa Perubahan dalam Pendidikan
Medelky Anouw, lulusan S2 Kimia dari Arizona State University (ASU), Amerika Serikat (AS), kini menjadi garda terdepan dalam mengawal transformasi pendidikan di tanah Papua. Ia kembali ke kampung halamannya setelah menempuh pendidikan tinggi, dengan tujuan untuk memastikan penyaluran dana pendidikan tepat sasaran demi akses sekolah yang layak bagi anak-anak Papua.
Sebagai Plt Kepala Seksi Pembiayaan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Deky tidak hanya bekerja di balik meja. Ia terjun langsung ke lapangan, menembus medan ekstrem menggunakan pesawat kecil demi melihat kondisi riil guru dan murid di pelosok. Keberaniannya ini membuktikan bahwa ia benar-benar peduli pada pendidikan anak-anak Papua.
Mengajar Sains dengan Kearifan Lokal
Sebelum menjadi birokrat, pria yang akrab disapa Deky ini berprofesi sebagai guru kimia. Ia percaya bahwa Sains akan lebih mudah dicerna jika diajarkan menggunakan bahasa sehari-hari. “Kami langsung tunjukkan penjumlahan lewat hal-hal yang biasa mereka lihat. Misalnya ubi, wortel, atau barang lain di lingkungan mereka sebagai alat peraga,” ujarnya.
Penggunaan alat peraga lokal ini tidak hanya membuat siswa lebih mudah memahami konsep sains, tetapi juga meningkatkan minat belajar mereka. Metode ini mencerminkan kepedulian Deky terhadap budaya dan lingkungan sekitar.
Perjalanan dari Beoga Menuju Amerika Serikat
Deky lahir dari distrik terpencil di Kabupaten Puncak, Papua. Perjalanan hidupnya tidak mudah, termasuk saat ia kehilangan ayahnya saat menempuh studi S1. Namun, dukungan keluarga membuatnya tetap bertahan. Motivasi untuk menempuh pendidikan tinggi membawanya pada beasiswa LPDP. Meski harus jatuh bangun mengejar skor IELTS selama sembilan bulan, Deky menolak untuk menyerah.
“Saya merasa harus S2,” ujarnya. “Yang paling penting adalah saya tidak menyerah,” tegasnya mengenang masa perjuangan meraih beasiswa.
Panggilan Pulang
Usai lulus dari salah satu kampus top di AS, Deky sempat memiliki peluang besar untuk berkarier sebagai guru di sana. Namun, sebuah kesadaran mendalam muncul saat ia membandingkan fasilitas digital di AS dengan realitas pahit di kampung halamannya. Ia membayangkan sekolah-sekolah di Papua yang kekurangan guru, tanpa laboratorium, dan anak-anak yang belajar tanpa buku.
“Di momen itu, seperti diperlihatkan langit dan bumi. Saya mau kerja di sini, tapi di Papua masih sangat jauh. Saya menangis,” katanya mengenang pergolakan batinnya saat itu.
Menghadapi Tantangan di Daerah Konflik
Kini sebagai ASN di Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah, tanggung jawab Deky meluas hingga pengelolaan ribuan penerima bantuan pendidikan, termasuk program Siswa Unggul Papua. Ia juga mendorong program Sekolah Sepanjang Hari dan sekolah berpola asrama khusus bagi Orang Asli Papua (OAP).
Tantangan di lapangan sering kali berkaitan dengan keamanan. Beberapa sekolah sempat vakum bertahun-tahun akibat konflik bersenjata, menyebabkan guru enggan bertugas. Deky menceritakan pemandangan yang menyentuh nuraninya saat melihat perjuangan fisik anak-anak Papua demi bersekolah.
“Hati saya hancur ketika lihat anak-anak harus naik turun gunung, jalan kaki tanpa alas, ke sekolah yang bukan sekolah mereka,” kenang Deky.
Kurikulum Indikator Alam
Salah satu kontribusi nyata Deky adalah adaptasi praktik pengajaran kontekstual menjadi kebijakan dinas. Melalui Yayasan Pusat Sains Papua yang didirikannya, ia mengenalkan penggunaan bahan lokal seperti buah merah atau terong Belanda sebagai indikator asam-basa dalam pelajaran kimia.
Bagi Deky, kembali ke Papua adalah keputusan yang tidak pernah ia sesali. Ia berharap, dalam 20 tahun ke depan, anak-anak Papua memiliki pilihan dan kemampuan yang setara dengan anak-anak lain di dunia.
“Turun ke kampung-kampung sampai dari pelosok hati saya bergetar.”
“Saya bisa lakukan hal-hal kecil saja buat anak-anak ini, itu udah kepuasan terbesar sih buat saya. Itu sudah kehormatan yang besar buat saya, itu sih yang paling utama. Bukan nilai uangnya,” tutup Deky.




