Konsep Inklusivitas dalam Pendidikan di Universitas Hasanuddin
Inklusivitas dalam pendidikan tidak hanya berupa penyediaan sarana fisik, tetapi juga mencakup budaya interaksi yang menghargai pilihan, ruang personal, serta kemandirian individu. Hal ini menjadi fokus utama dari Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin (Pusdis Unhas) dalam membangun kampus yang inklusif dan setara bagi semua mahasiswa.
Kampus inklusif dibentuk melalui hubungan sosial yang sehat, saling menghargai, dan setara. Untuk mewujudkan hal tersebut, Pusdis Unhas menyelenggarakan pertemuan antara mahasiswa disabilitas dan relawan, yang dilengkapi dengan sosialisasi etika pendampingan serta pengisian Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK).
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun ekosistem pembelajaran yang aksesibel, di mana mahasiswa disabilitas tetap mendapatkan dukungan tanpa kehilangan kemandirian, sementara relawan hadir dengan pemahaman yang tepat tentang peran mereka dalam pendampingan.
Peran Pusdis Unhas dalam Membangun Kampus Inklusif
Menurut Dr. Ishak Salim, Kepala Pusdis Unhas, pendidikan inklusif menempatkan seluruh mahasiswa pada posisi yang setara dalam memperoleh hak belajar. “Unhas berkomitmen memastikan setiap mahasiswa, termasuk mahasiswa disabilitas, memperoleh akses pendidikan yang setara, bermartabat, dan inklusif,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kehadiran relawan bukan hanya sebagai pendamping teknis, tetapi juga bagian dari ekosistem inklusi yang saling memahami dan menghargai. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pendidikan modern yang menempatkan mahasiswa sebagai subyek utama pembelajaran.
Dalam konteks mahasiswa disabilitas, pendampingan ideal bukanlah mengambil alih, melainkan membuka akses agar mereka dapat menjalankan aktivitas akademik secara mandiri.
Forum Temu Antara Mahasiswa Disabilitas dan Relawan
Melalui Divisi Layanan dan Mediasi, Pusdis Unhas merancang forum ini sebagai ruang temu antara mahasiswa disabilitas dan relawan agar terbentuk komunikasi yang lebih sehat dan minim kesalahpahaman.
Andi Nur Lela, Koordinator Divisi Layanan dan Mediasi, menjelaskan bahwa relasi yang setara menjadi fondasi penting dalam kampus inklusif. “Tujuan utama kegiatan ini adalah mempererat silaturahmi dan membangun komunikasi yang lebih baik. Kami ingin tidak ada lagi sekat antara relawan dan mahasiswa disabilitas, tetapi justru terbangun relasi yang setara dan saling memahami,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa banyak persoalan pendampingan muncul bukan karena kurangnya niat membantu, melainkan minimnya pemahaman terhadap batasan dan etika interaksi. “Kita ingin semua pihak memahami batasan, etika, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam proses pendampingan. Ini penting agar interaksi yang terbangun tetap menghargai kemandirian mahasiswa disabilitas,” tambahnya.
Pengisian MKPK dan Pentingnya Etika Pendampingan
Selain etika pendampingan, forum ini juga membahas pengisian Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK) agar mahasiswa disabilitas dan relawan memiliki pemahaman yang sama terhadap proses akademik yang dijalani.
“Kami melihat bahwa baik mahasiswa disabilitas maupun relawan sama-sama membutuhkan pemahaman terkait MKPK. Oleh karena itu, relawan juga harus dibekali agar mampu mendampingi secara tepat,” ungkap Lela.
Hal-hal sederhana seperti meminta izin sebelum membantu, menawarkan dukungan dengan sopan, hingga mengucapkan terima kasih dinilai menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai.
Antusiasme Peserta dan Harapan Masa Depan
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Diskusi berlangsung aktif, dengan mahasiswa disabilitas dan relawan saling berbagi pengalaman, tantangan, serta harapan terhadap sistem pendampingan yang lebih baik.
Salah satu relawan baru Pusdis Unhas, Wulan, mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. “Semoga ke depannya relawan dan mahasiswa disabilitas bisa semakin akrab. Dengan adanya pemahaman tentang batasan, kita jadi lebih tahu bagaimana bersikap dan bisa membangun hubungan yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, mahasiswa disabilitas fisik dari Program Studi Agribisnis, Wafiq Sarah Azizah, menilai forum seperti ini penting untuk memperkuat kedekatan sekaligus mengurangi kesalahpahaman. “Kegiatan ini jadi wadah untuk saling mendekatkan. Harapannya ke depan relawan dan mahasiswa disabilitas semakin erat dan tidak ada lagi kesalahpahaman,” ujarnya.
Ia berharap pendampingan yang diberikan dapat terus berkembang sehingga seluruh mahasiswa disabilitas memperoleh hak yang setara dalam proses perkuliahan.
Penutup
Kegiatan ini berlangsung di Kantor Pusdis Unhas pada Sabtu, 11 April 2026, pukul 08.00–15.00 WITA, diawali pemaparan tugas relawan oleh Agum Truanto Gunawan, dilanjutkan diskusi etika pendampingan, serta sosialisasi teknis pengisian MKPK oleh Sheila.
Melalui forum ini, Pusdis Unhas terus memperkuat budaya kampus yang inklusif, aksesibel, dan setara bagi semua.





