Dampak fluktuasi harga kebutuhan pokok kini dirasakan secara langsung oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelaku usaha kecil hingga pedagang di pasar tradisional. Di Manggar, Kabupaten Belitung Timur, seorang pedagang gorengan bernama Mak Ina (40) harus memutar otak lebih keras demi menjaga keberlangsungan usahanya di tengah tren kenaikan harga bahan baku yang terjadi secara bertahap.

Demi mendapatkan harga terbaik, ia kini rutin berkeliling ke sejumlah toko kelontong guna mencari selisih harga yang lebih murah. Tepung terigu yang sebelumnya dapat dibeli dengan harga yang lebih terjangkau, kini mengalami penyesuaian yang cukup memberatkan operasional harian.

  • Perjalanan Harga Tepung Terigu:
    • Bahan baku utama pembuatan gorengan ini awalnya dibanderol sekitar Rp9.000 per kilogram.
    • Harga kemudian merangkak naik menjadi Rp10.000 hingga akhirnya menyentuh angka Rp11.000 per kilogram.
    • Bagi usaha skala kecil, selisih seribu rupiah pada setiap kilogramnya memberikan dampak akumulatif yang cukup besar karena kebutuhan produksinya mencapai lima kilogram setiap hari.

Selain tepung terigu, lonjakan harga yang jauh lebih signifikan terjadi pada komoditas tepung sagu atau tapioka. Komoditas pendukung ini melonjak dari harga normal Rp10.000 per kilogram hingga kini mencapai Rp17.000 per kilogram. Akibat kombinasi kenaikan berbagai bahan baku tersebut, modal belanja harian yang harus dikeluarkan Mak Ina membengkak dari kisaran Rp300.000 menjadi lebih dari Rp400.000 per hari.

Meskipun beban produksi semakin berat, ia memilih untuk tidak menaikkan harga jual kepada konsumen. Strategi bertahan yang diterapkan adalah dengan mempertahankan porsi penjualan sebanyak empat buah gorengan seharga Rp5.000. Keputusan ini diambil karena kekhawatiran bahwa kenaikan harga eceran justru akan semakin menurunkan minat beli masyarakat yang daya belinya sedang melemah.

Tekanan ekonomi serupa turut dirasakan oleh para pemilik toko kelontong eceran di wilayah yang sama. Icha (34), seorang pemilik toko di Desa Padang, Manggar, mengungkapkan bahwa ia mendapati kenaikan harga dari distributor secara mendadak dalam beberapa pekan terakhir.

  • Daftar Kenaikan Komoditas di Tingkat Toko Eceran:
    • Tepung terigu naik dari Rp12.000 menjadi Rp13.000 per kilogram.
    • Mi instan mengalami penyesuaian dari sekitar Rp3.000 menjadi Rp3.500 per bungkus.
    • Tepung sagu mencatat lonjakan paling tajam dari kisaran Rp10.000 menjadi Rp15.000 per kilogram.

Seringkali, perubahan harga tersebut tidak diinformasikan terlebih dahulu oleh pihak pemasok. Pemilik toko baru mengetahui adanya lonjakan harga setelah barang pesanan tiba di tempat beserta lembar nota belanja. Kondisi ini membuat perencanaan keuangan pedagang eceran menjadi terganggu, sementara di sisi lain, volume penjualan warung mengalami penurunan drastis akibat melemahnya daya beli konsumen secara umum.

Menurunnya omzet penjualan bahkan membuat sebagian pedagang eceran harus merestrukturisasi pengeluaran bisnis secara ketat. Pendapatan yang menyusut membuat mereka tidak lagi sanggup membiayai tenaga kerja tetap, sehingga aktivitas operasional toko kini terpaksa hanya dibantu oleh tenaga dari anggota keluarga sendiri demi memangkas biaya operasional bulanan.

Geliat harga yang tidak stabil juga merambah ke pasar-pasar tradisional di kawasan perkotaan, salah satunya di Kota Pangkalpinang. Para pedagang di pasar tradisional melaporkan adanya tren kenaikan harga pada berbagai jenis komoditas sayur-mayur. Situasi ini dinilai tidak terlepas dari faktor cuaca, khususnya musim kemarau berkepanjangan yang memicu keterbatasan pasokan air bersih untuk keperluan budidaya pertanian di tingkat petani lokal.

Komoditas seperti tauge mengalami kenaikan dari harga sebelumnya Rp7.000 hingga kini berada di kisaran Rp10.000 sampai Rp12.000. Sementara itu, sayuran hijau jenis pokcoy melonjak hingga menyentuh angka Rp25.000 per kilogram, mentimun dijual seharga Rp15.000 per kilogram, dan komoditas kol berada di kisaran Rp13.000 per kilogram. Kelangkaan pasokan air membuat proses penanaman menjadi terhambat, sehingga volume hasil panen yang sampai ke tingkat pedagang pasar tradisional mengalami penyusutan yang cukup signifikan.

Kondisi serupa turut ditemukan di Pasar Ratu Tunggal, di mana harga pokcoy tercatat stabil di angka Rp24.000 per kilogram, kol seharga Rp12.000, serta mentimun di kisaran Rp14.000 per kilogram. Para pedagang mengakui bahwa keterbatasan pasokan dari daerah penghasil membuat mereka seringkali hanya mendapatkan stok dalam jumlah yang sangat terbatas dibandingkan hari-hari biasa.

Di Kabupaten Bangka, instansi terkait melalui Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan (Disnakerperindag) memberikan catatan tersendiri mengenai dinamika harga pangan di wilayahnya. Tingginya tingkat ketergantungan pasokan komoditas sayuran dari luar daerah menjadi salah satu pemicu utama kerentanan harga di tingkat lokal, mengingat kapasitas produksi petani setempat belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan pasar secara keseluruhan.

Selain komoditas sayur dan tepung sagu—yang kelangkaannya juga dipicu oleh menipisnya stok ubi di tingkat petani—pemantauan harga yang dilakukan di Pasar Kite Sungailiat memperlihatkan angka yang cukup beragam. Komoditas kol terpantau seharga Rp15.000 per kilogram, tomat dan wortel masing-masing berada di level Rp20.000 per kilogram, serta buncis yang mencapai Rp35.000 per kilogram.

  • Pergerakan Harga Cabai dan Daging Ayam:
    • Cabai merah keriting menembus harga tinggi hingga Rp80.000 per kilogram di pasar setempat.
    • Cabai rawit lokal bahkan dijual mencapai Rp90.000 per kilogram akibat minimnya hasil panen.
    • Daging ayam ras menunjukkan tren yang mulai melandai, di mana ayam bulat kotor tercatat Rp35.000 per kilogram dan ayam bersih siap olah seharga Rp42.000 per kilogram, turun dari harga sebelumnya yang sempat melampaui Rp45.000 per kilogram.

Di luar persoalan fluktuasi harga komoditas segar, perhatian pemerintah daerah juga tertuju pada ketersediaan produk beras kemasan tertentu di pasaran. Pihak Disnakerperindag Kabupaten Bangka mencatat adanya pergeseran ketersediaan di tingkat distributor, di mana merek beras tertentu yang biasanya mudah dijumpai dalam kemasan lima kilogram kini lebih banyak beredar dalam ukuran kemasan 10 kilogram.

Kendati demikian, pihak berwenang memastikan bahwa kelangkaan pada merek tertentu murni disebabkan oleh hambatan rantai pasok dari distributor pusat di luar daerah yang belum melakukan pengiriman ulang, dan telah, melalui pemeriksaan langsung, membantah adanya indikasi praktik penimbunan barang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab di wilayah tersebut.

Sementara itu, dinamika harga komoditas pangan juga dirasakan langsung oleh masyarakat di kawasan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Tercatat sejak tanggal 21 Oktober, komoditas gula pasir mengalami penyesuaian harga di tingkat pedagang eceran, di mana harga yang sebelumnya dipatok pada angka Rp19.000 kini terkerek naik menjadi Rp20.000 per kilogram.

Menanggapi fenomena kenaikan harga tersebut, Analis Perdagangan dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perindustrian (DKUP) Bangka Barat, Seviliana, memberikan penjelasan komprehensif. Menurutnya, lonjakan harga yang terjadi di tingkat pedagang eceran lokal ini tidak terjadi begitu saja, melainkan merupakan imbas langsung dari pergerakan serta perubahan harga acuan yang ditetapkan oleh para distributor besar yang berpusat di Pangkalpinang.

Kendati harga gula pasir merangkak naik, pemantauan di sejumlah pasar tradisional Mentok menunjukkan bahwa beberapa komoditas penting lainnya masih bertahan pada angka yang relatif stabil dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data di lapangan, rincian harga komoditas pangan tersebut meliputi:

  • Beras: Beras kualitas medium maupun premium terpantau masih stabil berada di kisaran harga Rp17.000 per kilogram.
  • Tepung Terigu: Kebutuhan pokok untuk pembuatan kue dan makanan ini tetap dijual dengan harga yang stabil, yakni Rp13.000 per kilogram.
  • Telur Ayam Ras: Komoditas sumber protein hewani ini masih diperdagangkan dengan harga yang sama seperti pekan sebelumnya, yaitu Rp30.000 per kilogram.

Di sisi lain, komoditas holtikultura seperti aneka jenis cabai masih menunjukkan pergerakan harga yang cukup dinamis dan fluktuatif. Yang paling mencolok adalah harga cabai rawit merah yang melonjak tinggi hingga menyentuh angka fantastis, yakni mencapai Rp120.000 per kilogram, memberikan beban tambahan tersendiri bagi para konsumen rumah tangga maupun para pelaku usaha kuliner skala kecil.

Di tengah situasi ekonomi yang penuh dengan ketidakpastian harga pangan ini, salah seorang warga sekaligus pelaku usaha lokal, Mak Ina, menyampaikan curahan hati serta harapan besarnya kepada pihak berwenang. Ia sangat mengharapkan agar pemerintah dapat segera mengambil langkah nyata guna menstabilkan kembali harga-harga kebutuhan pokok di pasaran agar tidak terus menerus memberatkan daya beli masyarakat luas.

Selain persoalan harga sembako yang melambung, Mak Ina juga menyuarakan aspirasi agar pemerintah daerah memberikan perhatian yang lebih serius kepada para pelaku usaha di sektor bawah. Bentuk perhatian yang sangat dinantikan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah tersebut adalah adanya program bantuan permodalan yang jelas dan tepat sasaran.

“Harapan kami mintanya harga jangan terlalu tinggi, maunya normal terutama bahan pokok. Kalau bisa ada perhatian bantuan UMKM dari pemerintah, karena sempat dengar juga ada program-program seperti itu,” ujar Mak Ina dengan penuh harap, mencerminkan suara mayoritas masyarakat kecil yang mendambakan pemulihan ekonomi serta dukungan konkret dari pemerintah daerah setempat.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version