Perjalanan Nanik Susetyo dari Pengusaha Kecil hingga Eksportir Sukses
Di sebuah kedai kopi modern di kawasan Cisanggiri, Jakarta Selatan, aroma pekat kopi Americano panas mengepul tipis dari sebuah cangkir. Di dalam kedai kopi dengan dekorasi vintage itu, riuh rendah suara pengunjung beradu dengan deretan stan yang memamerkan rupa-rupa produk kreatif lokal. Di salah satu sudut pameran dan bazar tersebut, jemari Nanik Susetyo dengan telaten merapikan deretan pot indoor, mangkok salad, hingga hiasan dinding yang berkilau lembut saat diterpa cahaya lampu. Wanita berusia sekitar 60 tahun ini adalah sosok di balik La Vida Home, sebuah jenama kerajinan dekorasi rumah (home decor) yang berhasil mengubah kulit kerang capiz menjadi produk interior bernilai estetika tinggi.
Titik Balik Eksportir yang Pulang Kampung
Awalnya, Nanik bekerja ikut orang di sebuah perusahaan trading company di Yogyakarta selama sepuluh tahun. Sembari menyesap kopi hangatnya, Nanik menceritakan pengalamannya selama satu dekade bertugas mengurusi ekspor berbagai produk kerajinan berbahan serat alam (natural fiber) ke seluruh belahan dunia. Mulai dari Amerika Serikat hingga negara-negara Eropa. Dari sana, ia menguasai seluk-beluk material lokal Indonesia, mulai dari eceng gondok, seagrass, bambu, rotan, hingga kayu.
Namun, rasa lelah dengan rutinitas di Yogyakarta membuat wanita asal Kota Malang, Jawa Timur ini memutuskan pindah ke Jakarta. Pada tahun 2014, berbekal pengalaman dan jaringan yang matang, ia memberanikan diri merintis usaha sendiri dengan bendera La Vida Home. Pada awal berdiri, fokus utamanya masih pada bahan-bahan natural. “Saya membuat keranjang dari eceng gondok, placemat, dan anyaman lainnya. Tapi pada waktu itu, pasar Indonesia kurang menyukai produk-produk seperti itu. Target pasar saya awalnya adalah orang-orang asing atau ekspatriat yang tinggal di Indonesia,” ungkapnya.

Inovasi Motif Batik dan Keunikan Multi-Material
Melihat perubahan lanskap pasar, Nanik melakukan inovasi radikal. Ia mulai serius menggarap potensi laut Indonesia yang melimpah dengan memanfaatkan kulit kerang capiz. Berbeda dengan pengrajin lain, Nanik memiliki formula khusus yang menjadi keunggulan utama La Vida Home, yaitu keberanian menggabungkan minimal dua material alam yang berbeda dalam satu produk. “Kelebihan kami adalah kombinasi material. Saya menggabungkan kulit kerang dengan bambu, atau kulit kerang dengan kayu. Tahap pekerjaannya memang lebih besar dan ada step ekstra yang harus dilalui, tapi hasilnya sangat berbeda dan unik,” jelasnya.
Nanik kemudian memproduksi mangkuk salad kayu yang dilapisi kulit kerang di bagian dalamnya, lengkap dengan sentuhan motif batik Nusantara seperti Mega Mendung, Kawung, dan Parang. Tak hanya itu, ia juga merilis produk indoor pot (pot tanaman dalam ruangan) yang langsung menjadi produk terlaris (best seller) di pasar domestik. Bahan baku kulit kerang capiz ini ia datangkan dengan mudah dari dua kota sentra, yaitu Situbondo dan Tegal. Proses produksinya berpusat di Yogyakarta, sementara pusat pemasaran dan manajemen berada di Jakarta, termasuk toko offline di Kemang 88 dan ruang pameran ritel di Sarinah.

Jembatan Menuju New York Bersama Rumah BUMN BRI
Lompatan besar La Vida Home untuk benar-benar “naik kelas” tidak lepas dari peran PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Nanik resmi mendaftarkan usahanya menjadi UMKM binaan BRI sejak periode awal perintisan usahanya. Melalui wadah Rumah BUMN BRI, ia mulai dilibatkan dalam berbagai pameran tahunan skala besar seperti BRILianpreneur yang diselenggarakan di berbagai aula megah di Jakarta. Namun, pembinaan yang diterima Nanik tidak sebatas fasilitas stan pameran.
Memasuki tahun 2022, BRI memperkuat program pendampingannya dengan memberikan berbagai pelatihan intensif. “Pelatihan yang diberikan macam-macam dan gratis, mulai dari strategi digital marketing hingga riset pasar. Dari situ kami diajarkan bagaimana membaca selera konsumen modern,” tutur Nanik. Puncaknya terjadi pada tahun 2023. BRI menggelar kurasi ketat bagi seluruh UMKM binaannya untuk disaring dan dikirim ke pameran internasional di Amerika Serikat. Produk kerajinan kulit kerang capiz milik Nanik berhasil lolos kurasi. “Tahun 2023 saya dipanggil ikut kurasi dari BRI untuk ke New York. Lewat proses seleksi itu, puji syukur lolos dan akhirnya produk saya dikirim ke sana. Itu membuka mata saya bahwa produk lokal kita punya tempat terhormat di pasar global,” kata Nanik.
Kini, pemasaran luar negeri La Vida Home terus meluas melalui skema pembeli langsung (direct buyer). Produknya telah diekspor ke Malaysia, Inggris, China, hingga nangkring di Seattle Art Museum di Amerika Serikat. Rentang harga produknya pun sangat kompetitif, mulai dari Rp50.000 untuk alas gelas kecil hingga Rp800.000 untuk produk premium seperti wall art mirror (hiasan dinding kaca).
Akselerasi Kelas UMKM Lewat Struktur BRIncubator
Keberhasilan Nanik Susetyo menembus pasar New York dan museum seni di Seattle merupakan manifestasi nyata dari cetak biru pembinaan UMKM yang terstruktur. Koordinator Rumah BUMN BRI Jakarta, Jajang Rohmana, mengungkapkan bahwa kunci utama dari akselerasi kelas UMKM ini terletak pada program unggulan bernama BRIncubator. Berbeda dengan pelatihan biasa yang bersifat sporadis atau sekadar seminar satu hari, BRIncubator merupakan program inkubasi berkelanjutan selama satu hingga dua bulan yang dirancang dengan kurikulum berjenjang.
“Melalui BRIncubator, kami memberikan pelatihan secara kontinyu. Materinya disusun mulai dari tingkat paling dasar hingga materi tingkat lanjut di mana pelaku UMKM benar-benar siap menghadapi pasar ekspor dan digitalisasi,” ujar Jajang dalam sebuah sesi wawancara di tempat terpisah. Sistem seleksi program ini pun terbilang ketat guna memastikan efektivitas program. Rumah BUMN BRI menerapkan sistem open call terbuka bagi seluruh pelaku usaha, yang kemudian dilanjutkan dengan proses kurasi ketat guna menyaring peserta yang memiliki komitmen tinggi.
Kemudahan KUR BRI
Selain masalah kapasitas pengetahuan dan akses pasar, tantangan klasik yang kerap mencekik pelaku UMKM yang sedang berkembang adalah manajemen permodalan dan arus kas (cash flow). Nanik mengakui, ketika pesanan grosir (wholesale) dan kontrak ekspor mulai berdatangan, kebutuhan likuiditas instan menjadi sangat tinggi. “UMKM itu masalah terbesar adalah cash flow. Dalam sistem wholesale, kita sebagai produsen biasanya hanya dikasih uang muka (DP) oleh pembeli. Di sisi lain, ketika barang dari pengrajin di daerah sudah selesai, mereka harus kita bayar lunas saat itu juga. Padahal di gudang kami sendiri masih harus ada proses finishing, packing, baru dikirim ke customer, dan menunggu seminggu lagi setelah barang sampai untuk pelunasan. Nah, di sinilah jeda waktu yang membutuhkan modal kerja kuat,” jelas Nanik secara gamblang.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Nanik memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Pengalamannya mengakses KUR terbilang sangat berkesan karena prosesnya yang jauh dari kesan birokrasi rumit. “Prosesnya simpel, gampang, dan sangat amat cepat. Saya cuma datang mengajukan, siang langsung disurvei ke lapangan, dan malam harinya sudah bisa tanda tangan kontrak. Sangat cepat dan mudah. Apalagi bunganya rendah sekali, jadi tidak membebani margin usaha kami. Keberadaan KUR ini benar-benar menolong perputaran modal operasional kami,” akunya.
Wejangan Konsistensi
Kembali ke kedai kopi di Cisanggiri, perbincangan dengan Nanik Susetyo ditutup dengan sebuah refleksi mendalam bagi generasi muda atau pelaku usaha baru yang ingin terjun ke dunia UMKM. Menurutnya, kegagalan terbesar dari banyak UMKM saat ini adalah ketidaksabaran dan kecenderungan untuk sekadar mengekor tren yang sedang viral. “Banyak UMKM yang kalau saya lihat tidak konsisten. Tahun ini menekuni bidang A, tahun depan trennya ganti, ikut ganti ke bidang B. Muter-muter terus begitu. Akibatnya, produk mereka tidak pernah membumi, tidak settle, dan tidak diingat oleh pasar. Suatu jenama atau brand itu harus memiliki ciri khas yang unik agar tidak dilindas oleh waktu dan zaman,” tekan Nanik.
Ia juga menambahkan bahwa target pasar domestik Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi yang sangat masif dan tidak boleh diremehkan, sekalipun di tengah fluktuasi nilai tukar mata uang global saat ini. “Semua orang memang ingin ekspor karena ingin dapat dolar atau kuantitas besar. Tapi ekspor itu ada jalurnya dan harus dipelajari, tidak semudah yang dikira,” kata Nanik. “Kalau belum siap ke sana, garap saja market Indonesia ini semaksimal mungkin dengan produk yang suitable. Dan yang paling penting, jangan pernah berhenti belajar,” imbuhnya.





