Kehilangan Kepercayaan dalam Masyarakat Modern
Pada masa kini, kita hidup dalam dunia yang semakin modern dan teknologi berkembang pesat. Pelayanan publik terus bertransformasi, sistem administrasi makin rapi, dan aturan dibuat semakin rinci. Kita seolah percaya bahwa makin lengkap sistem yang dibangun, makin baik pula kehidupan bersama yang akan tercipta. Namun, di tengah kemajuan itu, rasa saling percaya tidak tumbuh secepat yang kita harapkan.
Banyak orang memulai hubungan dengan rasa curiga sebelum mengenal satu sama lain. Percakapan direkam untuk berjaga-jaga. Dokumen harus ditandatangani berkali-kali. Kamera dipasang di setiap sudut. Kontrak dibuat semakin tebal. Pengawasan makin ketat. Anehnya, semua itu belum mampu menghilangkan kegelisahan yang sama, yaitu kekhawatiran bahwa kepercayaan akan dikhianati. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam birokrasi atau dunia usaha. Ia merembes ke hampir seluruh ruang kehidupan.
Di lingkungan kerja, rekan kerja saling berhati-hati. Dalam organisasi, pengurus dan anggota sering dipisahkan oleh prasangka. Di pasar, penjual dan pembeli sama-sama takut dirugikan. Bahkan dalam keluarga, tidak sedikit hubungan yang perlahan digerogoti oleh rasa saling mencurigai. Kita hidup berdampingan, tetapi makin sulit merasa benar-benar aman di hadapan sesama.
Mengapa Kepercayaan Mulai Menghilang?
Pertanyaannya, mengapa semua ini terjadi? Selama ini kita cenderung menjawabnya dengan cara yang sama. Ketika muncul penyimpangan, kita membuat aturan baru. Ketika aturan dianggap belum efektif, kita menambah pengawasan. Ketika pengawasan masih dianggap lemah, kita membangun sistem yang lebih kompleks. Langkah-langkah itu tentu penting. Tidak ada masyarakat yang dapat berjalan tanpa aturan dan akuntabilitas. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan. Mengapa semua perangkat itu terasa tidak pernah cukup untuk mengembalikan rasa saling percaya?
Barangkali selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki bangunan, tetapi lupa memperhatikan pondasinya. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang dapat diproduksi oleh regulasi. Ia juga tidak dapat dipaksa lahir melalui ancaman sanksi. Aturan memang dapat mengendalikan perilaku, tetapi tidak selalu mampu membentuk keyakinan. Orang mungkin patuh karena takut dihukum, tetapi kepatuhan seperti itu berbeda dengan kesediaan menjaga kepercayaan ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi.
Konsep Amanah dalam Islam
Di sinilah kita perlu melihat kembali satu konsep yang telah lama hidup dalam khazanah pemikiran Islam, yaitu “amanah”. Selama ini amanah sering dipahami sebatas sifat pribadi, seperti jujur atau dapat dipercaya. Padahal maknanya jauh lebih luas. Amanah adalah kesediaan menerima tanggung jawab, menjaga kepercayaan, dan mempertanggungjawabkannya, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada hati nurani dan kepada Tuhan.
Amanah bukan sekadar perilaku yang baik. Ia adalah fondasi moral yang memungkinkan kepercayaan tumbuh secara alami. Ketika amanah hidup dalam diri individu, kepercayaan mulai terbentuk. Ketika kepercayaan tumbuh di antara banyak orang, kerja sama menjadi lebih mudah. Dari kerja sama lahirlah tata kelola yang sehat. Dan dari tata kelola yang sehat, lahir institusi yang memperoleh legitimasi, bukan karena ditakuti, melainkan karena dipercaya.
Peran Kepercayaan dalam Pembangunan
Dengan kata lain, kepercayaan bukanlah hasil akhir dari tata kelola yang baik. Justru sebaliknya, kepercayaan adalah tanah tempat tata kelola itu bertumbuh. Cara pandang seperti ini mengajak kita melihat persoalan dari arah yang berbeda. Selama ini kita sering menganggap krisis kepercayaan sebagai akibat dari lemahnya sistem. Padahal bisa jadi sistem yang rapuh hanyalah gejala dari sesuatu yang lebih mendasar, yaitu melemahnya amanah sebagai nilai bersama.
Jika fondasi itu retak, maka sekuat apa pun bangunan aturan yang didirikan di atasnya akan selalu membutuhkan pengawasan yang makin besar. Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat yang mampu bertahan bukan hanya karena memiliki hukum yang kuat, tetapi juga karena memiliki modal sosial berupa rasa saling percaya. Kepercayaan membuat biaya transaksi menjadi lebih rendah, mempercepat kerja sama, memperkuat solidaritas, dan mendorong inovasi.
Menyusun Kembali Pandangan tentang Pembangunan
Sebaliknya, ketika kepercayaan menghilang, energi masyarakat habis untuk memastikan bahwa orang lain tidak akan berbuat curang. Makin banyak waktu digunakan untuk mengawasi, makin sedikit waktu yang tersedia untuk membangun. Karena itu, mungkin sudah saatnya kita memperluas cara pandang tentang pembangunan. Kemajuan tidak cukup diukur dari panjangnya jalan, tingginya gedung, atau canggihnya teknologi.
Kita juga perlu bertanya, apakah masyarakat kita makin mudah mempercayai satu sama lain? Apakah anak-anak tumbuh dengan melihat teladan amanah di rumah, di sekolah, dan di ruang publik? Apakah lembaga-lembaga yang kita bangun memperoleh kepercayaan karena integritasnya, atau semata karena kewenangannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak memiliki jawaban yang sederhana. Namun, di sanalah masa depan sebuah masyarakat dipertaruhkan. Barangkali, tantangan terbesar zaman ini bukanlah bagaimana menciptakan sistem yang makin rumit, melainkan bagaimana melahirkan kembali manusia-manusia yang layak dipercaya. Sebab pada akhirnya, sebuah masyarakat tidak hanya ditopang oleh undang-undang, teknologi, atau pengawasan. Ia bertahan karena masih ada orang-orang yang tetap menjaga amanah, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
