Fenomena Street Coffee di Kota Gorontalo

Di Kota Gorontalo, lapak kopi pinggir jalan atau yang dikenal dengan street coffee kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Saat malam tiba, trotoar dan bahu jalan dipenuhi oleh kursi plastik yang berjejer, menampung berbagai kalangan mulai dari anak muda, mahasiswa hingga pekerja muda. Mereka datang untuk sekadar minum kopi dan berbincang-bincang.

Beberapa sudut pasar dan taman juga mulai ramai dengan penjual kopi yang memiliki berbagai nama dan desain tempat nongkrong. Fenomena ini dapat dilihat di sejumlah titik seperti Jalan Panjaitan, Jalan Ex Andalas, Jalan Cokroaminoto, dan beberapa lokasi lainnya. Konsepnya sederhana, tanpa bangunan mewah atau dekorasi mahal, namun justru itu yang membuat banyak pengunjung merasa lebih nyaman.

Adelia Febriana (19), mahasiswi Poltekkes Gorontalo asal Toili, Sulawesi Tengah, mengaku sering menghabiskan waktu di street coffee. Ia menyebut suasana sebagai alasan utama dirinya betah datang. “Kalau nongkrong di street coffee itu lebih santai, tidak terlalu kaku seperti di kafe. Kita bisa duduk lama, ngobrol bebas, sambil lihat suasana jalan juga,” ujarnya saat ditemui di Street Coffee Panjaitan.

Menurut Adelia, rasa kopi memang penting, namun bukan satu-satunya faktor. Ia menyebut kombinasi suasana terbuka dan harga yang terjangkau membuat street coffee terasa lebih ramah bagi mahasiswa. “Kopinya juga lumayan enak, jadi bukan cuma suasananya saja. Tapi memang kalau untuk anak kuliah, harga yang murah itu sangat membantu,” katanya.

Dalam seminggu, Adelia bisa datang dua hingga tiga kali. Biasanya selepas salat Isya, bersama teman-temannya. “Kalau malam itu biasanya lebih ramai dan seru, apalagi kalau datang sama teman. Jadi tidak terasa cepat pulang,” ucapnya. Ia membandingkan dengan kafe atau pusat kuliner yang cenderung lebih padat dan berisik. “Kalau di sini tidak terlalu ramai sekali, jadi lebih nyaman untuk ngobrol,” tambahnya.

Pengalaman serupa dirasakan Febriyanti Harun (19), mahasiswi Poltekkes asal Isimu, Kabupaten Gorontalo. Ia menilai nongkrong di pinggir jalan memberikan kesan lebih dekat antar teman. “Kalau di pinggir jalan itu rasanya lebih akrab, tidak ada jarak. Kita bisa duduk berdekatan, cerita apa saja, tidak perlu merasa sungkan,” tuturnya.

Febriyanti mengatakan, nongkrong di street coffee tidak selalu soal kopi. Banyak pengunjung justru datang untuk berbagi cerita dan melepas penat setelah seharian beraktivitas. “Kadang kopinya biasa saja, tapi suasananya yang bikin betah. Kita bisa cerita panjang sama teman, ketawa-ketawa, jadi stres juga berkurang,” katanya.

Soal lokasi, Febriyanti tidak terpaku pada satu tempat. Ia lebih memilih berdasarkan suasana dan harga. “Yang penting suasananya ramai tapi nyaman, terus harganya murah. Kalau sudah cocok, biasanya sering datang lagi,” katanya. Ia berharap ke depan lapak-lapak kopi pinggir jalan bisa terus berkembang dan melibatkan lebih banyak pelaku UMKM.

Sementara itu, Meilan Senewe (22), warga Jalan Glatik, Kota Gorontalo, menilai street coffee menarik karena memberi pengalaman menikmati suasana kota secara langsung. “Kalau nongkrong di pinggir jalan itu lebih santai karena bisa langsung lihat aktivitas kota, lihat kendaraan lewat, orang-orang juga, jadi tidak bosan,” ujarnya.

Ia menyebut penerapan jalur satu arah di beberapa ruas jalan justru membuat lokasi nongkrong lebih nyaman. “Sekarang jalannya satu arah, jadi tidak terlalu padat kendaraan. Suasananya lebih tenang dibanding dulu,” katanya. Bagi Meilan, kopi bukan faktor utama dalam memilih tempat nongkrong. “Kopi itu hanya tambahan. Yang paling penting itu suasananya dan bisa kumpul dengan teman,” ucapnya.

Selain mahasiswa, pengunjung dari kalangan pekerja muda juga mulai banyak terlihat. Rahmatia (25), warga Kecamatan Kota Timur, mengaku baru pertama kali nongkrong di kawasan street coffee, namun langsung tertarik dengan suasananya. “Pertama datang langsung merasa nyaman karena suasananya ramai tapi tidak sumpek,” katanya. Ia menyebut jajanan yang tersedia juga menjadi daya tarik tersendiri. “Pilihan makanannya banyak, jadi tidak cuma minum kopi saja,” ujarnya.

Rahmatia mengatakan, untuk saat ini ia lebih sering datang bersama teman dibanding pasangan. “Kalau nongkrong biasanya sama teman-teman, lebih seru,” katanya. Ia pun mengaku mulai menjadikan kawasan street coffee di Jalan Panjaitan sebagai salah satu tempat favorit. “Untuk sekarang paling nyaman di sini, jadi kalau mau nongkrong ingatnya ke sini dulu,” ucapnya.

Maraknya street coffee di Kota Gorontalo tidak hanya mengubah pola nongkrong anak muda, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi pelaku UMKM kecil. Lapak sederhana dengan berbagai jenis kopi hingga camilan lokal kini mampu menarik puluhan pengunjung setiap malam. Bagi sebagian anak muda, nongkrong tidak lagi harus di kafe ber-AC atau tempat mahal. Cukup di pinggir jalan, dengan segelas kopi dan obrolan ringan, suasana sudah terasa cukup.




Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version