Kehadiran Pesilat dari PSHT Cirebon di Padepokan IPSI Kuningan
Pada hari Minggu, 11 Januari 2026, suasana di Padepokan IPSI Kuningan yang berada di sisi barat GOR Ewangga kompleks Stadion Mashud Wisnusaputra terasa sangat istimewa. Ratusan pesilat dengan seragam kebanggaan masing-masing berkumpul bukan untuk bersaing dalam kompetisi ketat, melainkan untuk merajut silaturahmi melalui latihan gabungan dan uji tanding (sparing). Momen hangat ini tercipta saat keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cirebon melakukan kunjungan resmi ke Perguruan Baroedak Silat Sekolah (PBSS) Pencak Silat Klub Bersatu Kabupaten Kuningan.
Pertemuan antara dua perguruan silat ini menjadi bukti nyata bahwa sportivitas dan persaudaraan tetap menjadi fondasi utama dalam dunia bela diri tradisional Indonesia.
Melampaui Batas Fisik: Urgensi Latih Tanding
Dalam rangkaian acara latihan, kedua perguruan juga menggelar uji coba kumite atau sparing yang melibatkan tiga kategori usia sekaligus. Yakni, usia dini (SD), pra-remaja (SMP), hingga remaja (SMA). Langkah ini diambil sebagai strategi matang untuk memperkaya jam terbang para atlet muda.
Di dunia pencak silat, latihan mandiri di internal perguruan seringkali membuat atlet berada dalam zona nyaman. Dengan menghadapi lawan dari perguruan berbeda, para atlet dipaksa keluar dari zona tersebut untuk menghadapi karakter serangan dan pola pertahanan yang asing bagi mereka.
Dalam uji tanding kali ini, para pesilat tidak hanya belajar cara menjatuhkan lawan secara teknis tetapi juga melatih ketenangan, mengasah insting bertarung dan yang paling penting adalah menumbuhkan rasa respek terhadap lawan di atas matras. Mereka menunjukkan penguasaan teknik yang memukau. Namun, di balik tendangan dan bantingan yang diperagakan, ada satu prinsip yang dijunjung tinggi yakni tidak ada pencarian pemenang.
“Agenda ini murni untuk meningkatkan kekeluargaan antar pesilat dan saling mengukur kemampuan karena baik dari PBSS maupun PSHT ingin melihat sejauh mana hasil latihan rutin yang dilakukan selama ini bisa diterapkan dalam situasi tanding yang sebenarnya,” ujar Guru Besar PBSS Kuningan, Iyan Irwandi.
Menurutnya, evaluasi teknis melalui uji tanding jauh lebih efektif dibandingkan sebatas latihan rutin di perguruan saja. Melalui interaksi ini, para pelatih dari kedua belah pihak dapat melihat celah-celah kekurangan atlet untuk kemudian diperbaiki demi prestasi di masa depan.
Sambutan Hangat dan Harapan Berkelanjutan
Iyan Irwandi, sosok di balik berdirinya PBSS Kuningan pada tanggal 3 Mei 2019, menyambut kehadiran rombongan PSHT Cirebon dengan tangan terbuka. Meski PBSS merupakan perguruan asli lokal Kuningan yang relatif masih muda, namun terbuka terhadap perguruan nasional seperti PSHT. Hal itu menunjukkan visi besar dalam memajukan kualitas pencak silat daerah.
“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik kunjungan saudara-saudara dari PSHT Cirebon. Kami memohon maaf jika dalam penerimaannya terdapat hal-hal yang kurang memuaskan,” ucap mantan ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kuningan dua periode dengan nada rendah hati.
Ia berharap kolaborasi lintas daerah ini tidak berhenti sebagai ajang sekali pertemuan saja melainkan menjadi pemantik untuk kegiatan serupa di masa mendatang.
“Harapan kami, kegiatan latih tanding seperti ini bisa dilakukan secara berkelanjutan. Selain untuk meningkatkan kualitas teknis, inilah cara menumbuhkan persaudaraan yang kokoh di antara sesama pesilat,” katanya.





