Peningkatan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
Setelah mengalami penurunan selama pandemi Covid-19, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia terus meningkat. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi jaringan rute maskapai asing ke berbagai kota di Indonesia yang memperkuat konektivitas internasional dan berkontribusi signifikan dalam mendorong jumlah wisman yang berkunjung ke Tanah Air.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 15,38 juta wisman mengunjungi Indonesia pada 2025, meningkat 10,80% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya (c to c/CtC) yang sebesar 13,88 juta kunjungan. Capaian ini merupakan yang tertinggi dalam enam tahun terakhir atau sejak 2020. Namun, angka ini masih sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan 2019.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers Rilis BPS pada Februari 2026. Dari total kunjungan pada 2025, mayoritas wisman masuk melalui pintu udara, yaitu sebanyak 10,81 juta kunjungan atau 70,31% dari total kunjungan wisman.
Arus kunjungan wisman melalui pintu udara terus meningkat dari tahun ke tahun, meski sempat tertekan selama pandemi. Hingga saat ini, pintu udara tetap menjadi jalur utama bagi turis asing ke Indonesia. Berdasarkan data BPS yang dihimpun Bisnis, total kunjungan wisman pada 2019 mencapai 9,38 juta kunjungan atau 61,05% dari total kunjungan wisman sebanyak 16,10 juta kunjungan. Sementara itu, pintu laut dan pintu darat masing-masing berkontribusi sebesar 25,83% dan 13,10%.
Jumlah kunjungan wisman anjlok drastis sebesar 74,83%, dari 16,10 juta kunjungan pada 2019 menjadi 4,05 juta kunjungan pada 2020. Kendati demikian, moda transportasi udara masih menjadi jalur utama dengan kontribusi sebesar 42,27%. Pada 2021, jumlah wisman yang masuk melalui pintu udara turun signifikan menjadi hanya 137.242 kunjungan atau 8,81% dari total kunjungan wisman pada 2021 yang sebanyak 1,55 juta kunjungan. Kontribusi pintu darat tercatat sebesar 64,51%.
Pada 2022, jumlah kunjungan wisman melalui pintu udara meningkat tajam menjadi 3,29 juta kunjungan, tumbuh 2.301,61% dari 2021. Hal ini membuat pintu udara kembali menjadi jalur favorit wisman, dengan kontribusi sebesar 55,96% terhadap total kunjungan wisman pada 2022.

Peran Strategis Maskapai Asing
Pengamat Pariwisata Chusmeru menilai keberadaan jaringan rute maskapai asing menjadi faktor strategis dalam meningkatkan arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Pengaruh jaringan maskapai asing terhadap arus wisatawan asing sangat signifikan. Dominasi kapasitas kursi pada penerbangan internasional yang dioperasikan maskapai asing dapat mendorong mobilitas wisman menuju berbagai destinasi di Tanah Air.
Kehadiran maskapai asing juga dinilai mampu menutup keterbatasan maskapai domestik yang memiliki pangsa pasar dan jangkauan rute internasional yang relatif terbatas. Selain itu, jaringan maskapai asing menciptakan persaingan yang lebih ketat di industri penerbangan internasional. Kondisi ini berpotensi menekan harga tiket penerbangan sehingga meningkatkan daya beli wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.
Di sisi lain, keberadaan maskapai asing turut memperkuat konektivitas pariwisata Indonesia dengan berbagai kota di dunia, sehingga aksesibilitas Indonesia sebagai destinasi wisata global menjadi semakin terbuka.
Singapore Airlines Perkuat Konektivitas Wisata Indonesia
Peran maskapai asing dalam memperkuat konektivitas pariwisata Indonesia juga tercermin dari jaringan rute yang dimiliki Singapore Airlines (SIA). Dengan memanfaatkan Singapura sebagai salah satu hub penerbangan utama di Asia Tenggara, maskapai tersebut menghubungkan berbagai kota di dunia dengan destinasi di Indonesia, sehingga memperluas akses wisatawan mancanegara ke pasar pariwisata nasional.
Chairman Singapore Airlines Peter Seah Lim Huat mengatakan kemitraan maskapai yang saling menguntungkan seperti dengan All Nippon Airways dan Garuda Indonesia memberikan akses yang lebih luas ke pasar-pasar utama. Dengan bekerja lebih erat bersama para mitra, mereka dapat menawarkan lebih banyak pilihan perjalanan serta berbagai manfaat tambahan bagi pelanggan.

Pesawat Singapore Airlines/dok. perusahaan
Untuk diketahui, Garuda Indonesia dan SIA pada Juli 2024 resmi memperoleh persetujuan dari Competition and Consumer Commission of Singapore (CCCS) atas perjanjian joint venture komersial yang dijalin kedua maskapai. Dengan persetujuan tersebut, kedua maskapai dapat memperdalam kemitraan strategis mereka dalam berbagai aktivitas komersial yang lebih luas.
Melansir laman resmi SIA, kerja sama tersebut berpotensi mencakup pengoperasian penerbangan dengan skema pembagian pendapatan antara kedua negara, koordinasi jadwal penerbangan untuk memberikan lebih banyak pilihan perjalanan serta konektivitas yang lebih mulus antara Singapura dan Indonesia maupun destinasi lainnya, serta eksplorasi inisiatif penjualan dan pemasaran bersama yang memberikan nilai lebih bagi pelanggan kedua maskapai.
Sejak Garuda Indonesia dan Singapore Airlines menandatangani kesepakatan untuk memperdalam kemitraan pada Mei 2023, kedua maskapai telah mengembangkan sejumlah inisiatif, termasuk memberikan anggota GarudaMiles dan KrisFlyer kesempatan untuk mengumpulkan dan menukarkan miles pada rute codeshare. Kedua maskapai juga menjalankan berbagai inisiatif pemasaran bersama untuk mempromosikan kegiatan pariwisata.
Adapun kedua maskapai menjalankan kerja sama codeshare pada berbagai penerbangan, termasuk antara Singapura dan sejumlah kota di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Medan, dan Surabaya, serta pada rute jarak jauh antara Singapura dan Johannesburg, London (Heathrow), serta Mumbai.
Strategi Direct Flight
Setelah konektivitas pariwisata Indonesia diperkuat oleh jaringan maskapai internasional seperti Singapore Airlines, pelaku industri pariwisata menilai pemerintah juga perlu mendorong pembukaan lebih banyak rute penerbangan langsung guna meningkatkan arus wisman ke Tanah Air.
Sekretaris Jenderal DPP Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Budijanto Ardiansjah mengatakan maskapai penerbangan memegang peran yang sangat penting dalam mendukung angkutan wisatawan ke Indonesia. Semakin banyak penerbangan langsung (direct flight) yang menghubungkan Indonesia dengan berbagai kota di dunia, akan semakin menguntungkan bagi sektor pariwisata nasional karena dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang datang.
Oleh karena itu, dia mendorong pemerintah untuk membuka lebih banyak rute penerbangan potensial dengan skema direct flight agar wisatawan yang diangkut ke Indonesia dapat semakin meningkat. Upaya tersebut, kata dia, juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak swasta, dengan catatan pemerintah memberikan kemudahan regulasi agar pengembangan rute baru dapat berjalan lebih cepat.
Namun apabila wisatawan masih harus melalui hub penerbangan internasional seperti Singapore, Dubai, atau Doha, promosi pariwisata Indonesia di hub-hub tersebut perlu diperkuat agar wisatawan tertarik melanjutkan perjalanan ke Indonesia.





