Sejarah dan Perkembangan Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang
Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang memiliki akar sejarah yang panjang dan peran strategis dalam membentuk generasi muslim di Indonesia. Berdiri sejak sekitar tahun 1885 M di Desa Rejoso, Jombang, pesantren ini tidak hanya menjadi pusat pengajaran agama, tetapi juga turut berkontribusi dalam dinamika sosial dan perjuangan bangsa dari masa ke masa.
Berawal dari inisiatif dua ulama besar, KH Tamim Irsyad dan KH Cholil Bangkalan, Darul Ulum tumbuh dari kawasan yang awalnya dikenal minim nilai-nilai keagamaan menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh. Selain mencetak santri dari berbagai daerah, pesantren ini juga berperan dalam perjuangan kemerdekaan dan terus bertransformasi melalui modernisasi pendidikan hingga mendirikan lembaga formal dan universitas.
Periode Klasik (1885 – 1937 M)
Pada periode ini, Pondok Pesantren Darul Ulum dirintis oleh KH Tamim Irsyad bersama KH Cholil Bangkalan. Berdirinya pesantren berawal dari kedatangan KH Cholil ke Jombang untuk membantu kondisi ekonomi keluarga KH Tamim, yang kemudian berkembang menjadi perjuangan dakwah Islam. Desa Rejoso dipilih sebagai lokasi karena saat itu masih berupa kawasan hutan dengan kondisi sosial masyarakat yang jauh dari nilai agama.
Kedua tokoh ini berupaya membangun masyarakat berbasis syariat Islam dengan bekal keilmuan yang kuat, di mana KH Tamim fokus pada syariat, sedangkan KH Cholil mendalami tasawuf dan tarekat. Sistem pendidikan dilakukan melalui pengajian langsung, yakni Alquran dan fiqih oleh KH Tamim, serta tasawuf oleh KH Cholil. Sarana pendidikan mulai dibangun dengan dua surau pada tahun 1898 dan 1911. Jumlah santri mencapai sekitar 200 orang dari berbagai daerah. Tokoh lain yang turut berperan adalah KH Syafawi dari Demak yang wafat pada 1904 M. KH Tamim Irsyad wafat pada 1930 M, disusul KH Cholil pada 1937 M, dan kepemimpinan dilanjutkan oleh KH Romli Tamim dan KH Dahlan Cholil.
Periode Pertengahan (1937 – 1958 M)
Pada periode ini, Ponpes Darul Ulum Jombang berkembang di bawah kepemimpinan KH Romli Tamim, KH Dahlan Cholil, dan KH Ma’soem Cholil. Nama “Darul ‘Ulum” mulai digunakan secara resmi pada tahun 1933 M sebagai simbol lembaga pendidikan yang mencetak muslim tangguh. Pembagian tugas berjalan jelas, mulai dari kebijakan umum, pengajaran syariat, hingga manajemen pendidikan.
Sistem pendidikan menggabungkan pembinaan spiritual dengan aktivitas keseharian seperti bertani dan berdagang. Dalam masa perjuangan kemerdekaan, pesantren ini turut aktif menjadi basis perlawanan. Pondok ini digunakan sebagai markas tentara Hisbullah, dan para santri ikut berjuang melawan penjajah. Ishomudin, putra KH Romli Tamim, gugur pada 1949 M. Di bidang pendidikan, didirikan:
- Madrasah Ibtidaiyah (1938)
- Sekolah putri (1945)
- Madrasah Mu’allimin (1949)
Jumlah santri mencapai sekitar 3.000 orang. Periode ini berakhir dengan wafatnya KH Dahlan Cholil dan KH Romli Tamim pada 1958 M.
Periode Baru Fase Pertama (1958 – 1985 M)
Pasca wafatnya tokoh utama, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH Ma’soem Cholil hingga wafat pada 1961 M, kemudian diteruskan oleh KH Musta’in Romly dan KH Bishri Cholil. Sejak tahun 1962, dilakukan pembaruan besar dalam struktur organisasi dengan pembentukan Dewan Kiai, Dewan Guru, serta Dewan Harian. Dalam bidang pendidikan, mulai dikembangkan keseimbangan antara ilmu agama dan ilmu umum.
Darul Ulum juga mendirikan Universitas Darul Ulum Jombang yang memiliki berbagai fakultas seperti Hukum, Sosial Politik, Ushuluddin, Pendidikan, dan Ekonomi. Selain itu, fasilitas pendidikan terus berkembang, termasuk pembangunan asrama, gedung sekolah, serta pembentukan organisasi alumni HESDU (1960) yang kemudian menjadi IKAPPDAR (Ikatan Keluarga Pondok Pesantren Darul Ulum). Pergantian kepemimpinan terjadi setelah wafatnya KH Bishri Cholil pada 1969, digantikan KH Sofyan Cholil, lalu KH Muh As’ad Umar pada 1978.
Periode Baru Fase Kedua (1985 – 1993 M)
Pada fase ini, Darul Ulum mengalami perkembangan pesat dalam sistem kelembagaan. Pengelolaan dibagi dalam tiga pilar utama:
- Pondok Pesantren Darul Ulum
- Universitas Darul Ulum
- Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah
Di bidang pendidikan, dibuka berbagai program baru:
- Program komputer (1988)
- SMEA (1989)
- Akademi Perawatan (1991)
- Sekolah Teknik Menengah (1992)
Pembangunan fisik juga dilakukan secara besar-besaran, seperti gedung perkuliahan (1986), Fakultas Tarbiyah (1987), hingga gedung pertemuan berkapasitas 2.000 orang (1990).
Kepemimpinan dan Regenerasi
Kepemimpinan Darul Ulum tetap berada dalam garis keluarga pendiri, yakni keturunan KH Tamim Irsyad, yang memiliki tiga anak:
- Nyai Hj Fatimah (istri KH Cholil)
- KH Romli Tamim
- KH Umar Tamim
Pada periode fase kedua, kepemimpinan dijalankan secara kolektif melalui Majelis Pimpinan Pondok Pesantren, dengan susunan antara lain:
- Ketua Umum: KH A Dimyathi Romly
- Sekretaris: Drs KH Cholil Dahlan
- Bendahara: Drs HM Zaimuddin Wijaya As’ad, MS
- Koordinator bidang lainnya diisi oleh tokoh-tokoh pesantren
Sejak berdiri pada 1885 M, Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang terus berkembang dari lembaga pengajian sederhana menjadi pusat pendidikan besar yang mencakup pesantren, sekolah formal, hingga perguruan tinggi. Konsistensi dalam menjaga tradisi keilmuan Islam serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman menjadi kunci eksistensinya hingga kini.





