Jejak Sejarah yang Tersimpan di Tengah Permukiman
Candi Pamotan, yang terletak di Desa Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, merupakan salah satu situs peninggalan sejarah yang diduga berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Meskipun belum ada bukti pasti yang mengonfirmasi asal usulnya, Candi Pamotan tetap menjadi objek penting dalam memahami peradaban kuno di wilayah ini.
Situs ini terdiri dari dua bangunan utama, yaitu Candi Pamotan I dan Candi Pamotan II, yang berjarak sekitar 50 meter satu sama lain. Kedua bangunan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui SK Bupati pada tahun 2022. Namun, lokasinya yang berada di tengah permukiman warga membuat keberadaannya sering kali luput dari perhatian masyarakat luas.
Lokasi dan Kondisi Situs
Candi Pamotan I memiliki ukuran lebih besar dibandingkan Candi Pamotan II, dengan ukuran sekitar 4,84 x 4,78 meter. Bangunan ini berada dekat dengan rumah warga, bahkan berada di belakang permukiman. Sementara itu, Candi Pamotan II terletak di area yang lebih rimbun dan dikelilingi pepohonan bambu, menciptakan kesan sakral dan sedikit mistis.
Kondisi kedua bangunan saat ini masih dalam kondisi yang tidak utuh. Candi Pamotan I masih menyisakan struktur yang relatif baik, meskipun terdapat lubang besar di bagian dinding timur dan kerap tergenang air saat musim hujan. Di sisi lain, Candi Pamotan II mengalami kerusakan yang lebih parah, dengan banyak batu bata yang rusak dan berserakan akibat termakan usia. Arca yang berada di atas Candi Pamotan II juga diketahui telah kehilangan bagian kepalanya.
Sejarah Minim Data, Diduga Peninggalan Majapahit
Sejarah Candi Pamotan hingga kini masih minim data. Minimnya sumber tertulis dan temuan arkeologis membuat latar belakang pendirian candi ini sulit diketahui secara rinci. Namun, para ahli menduga bahwa Candi Pamotan berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Dugaan tersebut didasarkan pada bentuk bangunan serta penggunaan material batu bata merah yang menjadi ciri khas arsitektur pada periode tersebut.
Penelitian tentang Candi Pamotan telah berlangsung sejak lebih dari satu abad lalu. Penelitian pertama dilakukan oleh ahli asal Belanda, GLA Brandes, pada tahun 1903. Setelah itu, situs ini sempat kurang mendapat perhatian hingga akhirnya NJ Krom, seorang ahli purbakala, menuliskan kajian tentang Candi Pamotan pada tahun 1923. Menurut analisis NJ Krom, profil arsitektur Candi Pamotan memiliki kemiripan dengan candi-candi di Jawa Timur pada masa klasik, khususnya era Majapahit.
Arsitektur Sederhana dari Bata Merah
Candi Pamotan dikenal memiliki bentuk yang sederhana dibandingkan candi-candi besar lainnya di Jawa Timur. Bangunan ini terbuat dari batu bata merah dengan denah yang hampir berbentuk bujur sangkar. Ukuran kedua candi tidak terlalu besar, dengan Candi Pamotan I memiliki ukuran sekitar 4,84 x 4,78 meter dan Candi Pamotan II berukuran sekitar 4,75 x 4,3 meter.
Keunikan lain dari situs ini adalah adanya lubang berbentuk persegi panjang di sekeliling candi yang sering tergenang air saat hujan, sehingga menyerupai kolam alami. Kondisi ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi pelestarian candi.
Kondisi Memprihatinkan dan Minim Perhatian
Kondisi Candi Pamotan saat ini tergolong memprihatinkan dan masih menghadapi berbagai tantangan pelestarian. Bangunan candi yang hanya berupa tumpukan bata merah sederhana ini kerap dianggap kurang menarik, sehingga perhatian terhadap keberadaannya menjadi minim. Genangan air yang kerap muncul di sekitar bangunan, terutama saat musim hujan, mempercepat pelapukan bata.
Meski telah ditetapkan sebagai cagar budaya, proses pemugaran masih berjalan terbatas dan dilakukan secara bertahap. Hingga kini, perbaikan yang dilakukan baru menyentuh sebagian kecil bagian yang rusak, seperti dinding dan susunan bata. Selain itu, tantangan lain juga datang dari akses menuju lokasi yang relatif sempit karena berada di tengah permukiman warga.
Potensi Wisata Budaya dan Edukasi
Di balik keterbatasannya, Candi Pamotan memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi. Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sidoarjo terus mendorong pengembangan situs ini agar lebih dikenal masyarakat. Konsep pengembangan yang diterapkan mengedepankan pendekatan berbasis masyarakat, dengan melibatkan warga sekitar sebagai bagian dari pengelolaan wisata.
Program yang dijalankan antara lain pelatihan pemandu wisata lokal, edukasi sejarah bagi pelajar, hingga integrasi dengan kegiatan budaya desa. Penataan kawasan juga dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, seperti Balai Pelestarian Kebudayaan, Dinas Pendidikan, serta komunitas sejarah.
Harapan Pelestarian di Tengah Perkembangan Zaman
Keberadaan Candi Pamotan menjadi bukti bahwa Kabupaten Sidoarjo memiliki kekayaan sejarah yang tidak kalah penting dibandingkan daerah lain. Meski tampil sederhana, situs ini menyimpan jejak peradaban masa Majapahit yang mencerminkan panjangnya perjalanan sejarah di wilayah tersebut.
Dengan pengelolaan yang tepat serta dukungan dari berbagai pihak, situs ini berpotensi berkembang menjadi ikon wisata budaya baru di Sidoarjo. Oleh karena itu, upaya pelestarian yang berkelanjutan, dukungan masyarakat, serta perhatian pemerintah menjadi kunci penting agar Candi Pamotan tetap lestari dan tidak hilang ditelan zaman, sekaligus dapat diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari warisan budaya daerah.





