Perkembangan Terkini Operasi Militer AS terhadap Iran
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran berjalan sesuai rencana dan diprediksi akan selesai dalam hitungan minggu. Hal ini disampaikan setelah pertemuan tingkat menteri luar negeri G7 di Prancis pada hari Jumat (27/3/2026). Menurutnya, Washington optimistis dapat mencapai seluruh target strategisnya tanpa perlu meluncurkan invasi darat berskala besar.
Rubio menegaskan bahwa operasi militer di Iran telah berjalan sesuai jadwal, bahkan lebih cepat dari yang direncanakan. Meskipun mengupayakan jalur udara, AS tetap mengirimkan ribuan personel Marinir dan pasukan elite ke kawasan tersebut. Langkah ini diambil untuk memberikan fleksibilitas maksimal bagi Presiden Donald Trump dalam menghadapi berbagai kemungkinan skenario di lapangan.
Saat ini, Washington telah mengirimkan dua kontingen yang terdiri atas ribuan personel Marinir. Gelombang pertama dijadwalkan tiba pada akhir Maret dengan menggunakan kapal serbu amfibi raksasa, sementara Pentagon juga diperkirakan akan menerjunkan ribuan prajurit lintas udara elite. Pengerahan ini memicu kekhawatiran global bahwa konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu melalui serangan udara Amerika Serikat dan Israel akan berubah menjadi perang darat yang berkepanjangan.
Dampak Konflik terhadap Jalur Perdagangan dan Energi
Respons Iran yang menyerang target Amerika Serikat, Israel, serta fasilitas sipil di negara-negara Teluk telah mengganggu jalur perdagangan komoditas dan energi dunia secara drastis. Gangguan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sekitar dua puluh persen pasokan minyak dunia, juga telah memicu lonjakan harga yang signifikan dan ancaman resesi global.
Jika harga minyak mentah melonjak sebesar 10 Dolar AS atau setara dengan kurang lebih 158.500 Rupiah per barel, dampaknya akan langsung terasa pada biaya produksi industri dan inflasi di seluruh dunia.
Korban Jiwa dan Kekhawatiran Global
Dari segi korban jiwa, Maria Martinez dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah melaporkan bahwa lebih dari 1.900 jiwa telah melayang dan sedikitnya 20.000 orang mengalami luka-luka di Iran.
Di tengah upaya Presiden Trump yang tampak ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer ini, eskalasi justru terus meningkat. Sejumlah media Iran melaporkan bahwa aliansi AS-Israel kembali melancarkan serangan terbaru yang kini menyasar reaktor riset nuklir air berat dan pabrik pengolahan yellowcake atau uranium pekat pada Jumat malam.
Persoalan Diplomasi dan Pengambilan Sikap Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras serangan tersebut melalui media sosial dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tenggat diplomasi yang ditawarkan Amerika Serikat. Araqchi menegaskan bahwa serangan tersebut bertentangan dengan perpanjangan tenggat waktu diplomasi oleh POTUS atau Presiden Amerika Serikat, dan Iran akan menuntut harga yang mahal atas kejahatan Israel.
Pihak Teheran saat ini dilaporkan sedang mempertimbangkan lima belas poin proposal perdamaian yang dikirimkan Amerika Serikat melalui Pakistan dua hari lalu. Proposal tersebut dikabarkan mencakup tuntutan yang sangat berat, mulai dari pembongkaran program nuklir dan rudal Iran hingga penyerahan kendali atas rute perdagangan energi paling penting di dunia.
Namun, seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa melakukan serangan berkelanjutan di saat Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan diplomasi adalah hal yang tidak dapat ditoleransi.
Konflik yang Merembet ke Lebanon
Sementara itu, konflik ini juga telah merembet ke Lebanon, di mana serangan balasan Israel terhadap kelompok Hizbullah telah menyebabkan seperlima penduduk Lebanon terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.




