Ketergantungan Global pada Mineral Kritis
Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa mineral kritis kini menjadi salah satu titik paling rentan dalam perekonomian global. Bukan hanya sekadar komoditas tambang, mineral ini kini menjadi bagian penting dari keamanan energi, ekonomi, dan nasional berbagai negara. Harga mineral kritis kembali naik sepanjang 2025 hingga awal 2026 akibat pasokan yang semakin ketat dan bertambahnya pembatasan ekspor.
Dalam laporan Global Critical Minerals Outlook 2026 yang dirilis pada Kamis (16/7/2026), IEA menyoroti bahwa ketergantungan pasokan pada segelintir negara, meningkatnya pembatasan ekspor, dan melemahnya investasi memperbesar risiko terhadap rantai pasok komoditas yang menjadi tulang punggung industri energi bersih, teknologi tinggi, hingga pertahanan.
Investasi justru menurun 9 persen pada 2025, mengakhiri tren pertumbuhan yang berlangsung beberapa tahun terakhir. Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA, menyatakan bahwa analisis terbaru menunjukkan bahwa sejumlah besar nilai ekonomi bergantung pada volume mineral penting yang relatif kecil. “Rantai pasoknya tetap sangat terkonsentrasi dan karena itu rentan,” ujarnya.
Konsentrasi Pasokan dan Dampaknya
IEA mencatat konsentrasi pasokan semakin tinggi, terutama pada sektor pemurnian. Indonesia menjadi pendorong utama pertumbuhan pasokan nikel olahan, sementara China mendominasi pemurnian sebagian besar mineral penting lainnya. Kedua negara menyumbang lebih dari tiga perempat pertumbuhan pasokan hasil pemurnian dunia.
Pada komoditas seperti nikel, mangan, dan grafit, hampir seluruh tambahan pasokan berasal dari satu negara. Pangsa negara pemurni terbesar pun naik menjadi rata-rata 72 persen pada 2025. Pengecualian terjadi pada logam tanah jarang setelah hadirnya proyek baru di Amerika Serikat dan peningkatan produksi di Malaysia.
Menurut IEA, pembatasan ekspor kini menjadi ancaman nyata bagi keamanan ekonomi global. China melipatgandakan jumlah mineral yang dikenai pembatasan ekspor sejak 2023, diikuti kebijakan serupa oleh Republik Demokratik Kongo, Zimbabwe, dan Mozambik. Jika pembatasan China diterapkan penuh mulai 2026, industri hilir di luar negeri berpotensi kehilangan nilai produksi hingga 6,5 triliun dollar AS per tahun.
Permintaan yang Terus Meningkat
Di tengah kondisi tersebut, permintaan mineral kritis terus meningkat. Kebutuhan mineral energi tumbuh hampir 10 persen per tahun, sementara permintaan lithium melonjak sekitar 25 persen dalam dua tahun terakhir, terutama didorong industri kendaraan listrik.
Birol menilai diversifikasi pasokan memang membutuhkan biaya lebih besar, tetapi menjadi investasi penting untuk menjaga keamanan ekonomi di tengah ketidakpastian geopolitik. Oleh karena itu, IEA mendorong pemerintah memperkuat investasi, teknologi, fasilitas pemrosesan, dan tenaga kerja guna membangun rantai pasok mineral kritis yang lebih tangguh.
Kerja Sama Indonesia dan Jepang
Akhir Maret lalu, Presiden Prabowo Subianto dan Pemerintah Jepang menyepakati penguatan kerja sama di sektor tanah jarang (rare earth), mineral kritis, hilirisasi industri, serta pengembangan energi terbarukan dalam pertemuan bilateral di Tokyo. Prabowo mengatakan Indonesia membuka peluang lebih luas bagi Jepang untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional, khususnya di sektor mineral strategis dan hilirisasi.
“Kami terus mengajak dan membuka diri untuk partisipasi Jepang dalam ekonomi Indonesia, termasuk kerja sama di bidang mineral kritis dan rare earth. Kami juga mengundang Jepang berpartisipasi dalam industrialisasi Indonesia melalui hilirisasi,” ujar Prabowo.
Kedua negara sepakat mempercepat implementasi inisiatif Asia Zero Emission Community dengan melibatkan perusahaan-perusahaan Jepang yang telah beroperasi di Indonesia. Pemerintah akan membantu percepatan berbagai proyek strategis, di antaranya Legok Nangka dan Sarulla.
Selain itu, Indonesia dan Jepang berkomitmen mempercepat ratifikasi serta implementasi protokol amandemen Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Kerja sama juga diperluas ke bidang pendidikan, pariwisata, dan pertukaran masyarakat (people-to-people program).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Pertemuan itu menjadi momentum memperkuat hubungan bilateral di berbagai sektor strategis sekaligus mempertegas komitmen kedua negara menjaga stabilitas kawasan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Kedua negara sebagai sahabat dekat menegaskan komitmen untuk terus berperan menjaga stabilitas kawasan dan berkontribusi dalam mewujudkan perdamaian dunia,” demikian keterangan resmi akun Instagram @presidenrepublikindonesia.





