Struktur Kepemilikan Saham DSSA
Pemegang saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang merupakan bagian dari Grup Sinarmas, mayoritas dikuasai oleh pemegang saham pengendali dan investor institusi asing. Meskipun sebelumnya free float DSSA tercatat sebesar 20,42% per 10 Februari 2026, setelah data kepemilikan saham di atas 1% dibuka oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), free float DSSA turun menjadi sekitar 7,63%. Free float adalah porsi saham yang dimiliki oleh masyarakat umum dan dapat diperdagangkan secara bebas di BEI, tidak termasuk saham yang dikuasai oleh pemegang saham pengendali, mayoritas, komisaris, direksi, atau karyawan.
Pemegang Saham Utama DSSA
Berdasarkan data KSEI per 27 Februari 2026, struktur kepemilikan saham DSSA masih didominasi oleh pemegang saham pengendali dari dalam grup. PT Sinar Mas Tunggal tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan 4,61 miliar saham atau 59,90% dari total saham beredar. Di posisi berikutnya, Dian Swastatika Sentosa sendiri memiliki 1,51 miliar saham atau 19,68%. Selain itu, investor institusi asing juga memiliki porsi cukup signifikan.
Beberapa contohnya adalah:
- Citibank Hong Kong S/A Citibank HK SA PBG Clients HK menggenggam 318,74 juta saham atau 4,14%.
- Fitzgerald & Wilkison Investments Ltd, yang berbasis di British Virgin Islands, memiliki 290,98 juta saham atau 3,78%.
- UOB Kay Hian Private Limited dari Singapura menguasai 288,09 juta saham atau 3,74%.
- Bank of Singapore Limited memegang 87,18 juta saham atau 1,13%.
Data Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek
Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek, DSSA menyatakan bahwa masyarakat memiliki 1,57 miliar saham atau 20,4%. Sementara itu, saham treasury mencapai 1,51 miliar atau 19,7%. Jumlah pemegang saham hingga 10 Februari 2026 tercatat sebanyak 5.039 orang.
Pandangan Analis tentang Free Float
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman, menilai bahwa pembukaan data kepemilikan saham di atas 1% seharusnya memberikan efek positif dalam jangka panjang. Peningkatan keterbukaan dan transparansi informasi akan membuat pasar saham Indonesia lebih investable.
Namun, dalam jangka pendek, Fath menyarankan para investor untuk memperhatikan saham-saham yang sebelumnya dilaporkan memiliki free float tinggi. Misalnya, DSSA sempat mengklaim free float sebesar 20%, namun setelah data 1% dibuka, free float-nya turun menjadi sekitar 10%. Hal ini disebabkan oleh tambahan 1% yang dimiliki oleh individu tertentu yang tidak dihitung sebagai bagian dari free float yang tersedia untuk publik.
Dampak pada Likuiditas dan Volatilitas
Fath menjelaskan bahwa penurunan free float dapat berdampak pada potensi likuiditas sementara. Ia juga menyebut bahwa jika terjadi penurunan free float, terutama pada emiten yang sudah masuk MSCI atau termasuk LQ45, maka saham-saham tersebut, meski dikenal luas, free float-nya tidak lagi mencerminkan kondisi saat ini. Hal ini sangat berpotensi menimbulkan outflow ketika MSCI nanti menetapkan evaluasi untuk Indonesia.
“Apakah nanti terjadi discount atau tidak? Jadi sebenarnya kalau ditanya secara jangka pendek apakah ini akan menimbulkan volatilitas yang penting? Jawabannya sangat mungkin ya,” ucapnya.
Perspektif Jangka Panjang
Fath menambahkan bahwa untuk emiten yang memiliki kinerja keuangan baik dan tengah ekspansi agresif, penambahan free float di pasar bukanlah hal yang sulit. Namun, free float tidak bisa langsung ditambah karena perlu melalui mekanisme aksi korporasi seperti right issue dan lain-lain. Ia optimistis selama perusahaan bertumbuh, free float akan terserap oleh masyarakat secara bertahap.
Meski begitu, Fath menegaskan bahwa pembukaan data 1% ini tidak kebal terhadap volatilitas jangka pendek. Hal ini karena emiten terutama yang sudah masuk MSCI dan memiliki market cap besar, ketika dihitung free float-nya ternyata lebih kecil dari yang diketahui pasar, maka free float market cap akan berubah, yang kemudian berpotensi memicu outflow.
Keberadaan DSSA dalam Indeks MSCI
Sebagai catatan, DSSA berhasil masuk ke dalam MSCI Global Standard Indexes berdasarkan hasil tinjauan Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) per Agustus 2025. Hal ini menunjukkan bahwa saham DSSA memiliki reputasi yang kuat di pasar global.





