Penurunan Penjualan Seragam Sekolah di Pasar Besar Kota Madiun
Momen tahun ajaran baru yang selama ini menjadi masa paling dinantikan oleh para pedagang seragam sekolah di Pasar Besar Kota Madiun, Jawa Timur, kini tidak lagi menghadirkan lonjakan pembeli. Dalam musim tahun ajaran 2026/2027, penjualan seragam justru merosot tajam hingga lebih dari 50 persen dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pantauan di lantai dua Pasar Besar Kota Madiun menunjukkan suasana yang jauh dari keramaian. Lorong-lorong pasar tampak lengang. Hanya beberapa pengunjung yang datang untuk melihat-lihat, sementara transaksi pembelian berlangsung sangat minim. Salah seorang pedagang seragam sekolah, Wiwik Astuti, mengatakan kondisi usahanya terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, ada hari-hari ketika tidak satu pun seragam berhasil terjual.
“Menurun drastis, Mas. Enggak ada 50 persennya,” ujar Wiwik.
Bantuan Seragam dan Belanja Online Tekan Penjualan
Menurut Wiwik, menurunnya daya beli masyarakat bukan satu-satunya penyebab lesunya penjualan. Program bantuan seragam dari pemerintah yang memberikan kain beserta biaya jahit kepada murid baru juga membuat jumlah pembeli di pasar berkurang. Selain itu, perubahan kebiasaan masyarakat yang kini lebih memilih berbelanja melalui platform digital semakin menekan pedagang di pasar tradisional.
“Ya karena bantuan dari pemerintah itu dapat kain sama jahitnya. Terus sekarang juga banyak yang beli online,” katanya.
Dari Delapan Stel Sehari, Kini Sering Tak Ada Transaksi
Wiwik mengenang beberapa tahun lalu ketika musim penerimaan siswa baru selalu menjadi masa panen bagi pedagang seragam. Dalam sehari, ia bisa menjual delapan hingga sepuluh stel seragam sekolah. Kini kondisinya berubah drastis. Tidak jarang tokonya sepi pembeli sejak pagi hingga pasar tutup.
“Dulu sehari paling tidak bisa jual delapan, sembilan sampai sepuluh stel. Sekarang kadang satu hari saja enggak laku seragamnya,” ungkapnya.
Ia menjual berbagai jenis seragam sekolah mulai jenjang SD, SMP hingga SMA, baik untuk siswa laki-laki maupun perempuan.
Modal Besar, Pedagang Seragam Semakin Berkurang
Menurut Wiwik, tidak semua pedagang mampu bertahan menjual seragam sekolah karena usaha tersebut membutuhkan modal yang besar. Pedagang harus menyediakan stok dengan ukuran lengkap, mulai anak-anak hingga remaja. Akibatnya, jumlah pedagang seragam lengkap di Pasar Besar Kota Madiun kini semakin sedikit dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Kalau yang jual seragam lengkap sekarang cuma beberapa orang saja. Modalnya besar karena harus menyediakan ukuran dari kecil sampai besar,” jelasnya.
Lesunya penjualan juga berdampak pada aktivitas perdagangan di kawasan konveksi Pasar Besar Kota Madiun. “Kondisi pasarnya sangat-sangat memprihatinkan,” katanya.
Kesulitan Beralih ke Penjualan Daring
Di tengah berkembangnya perdagangan digital, Wiwik mengaku belum mampu memasarkan produknya secara online. Faktor usia, keterbatasan kemampuan menggunakan teknologi, serta minimnya modal menjadi kendala utama. Ia mengaku pernah mendengar adanya pelatihan penjualan daring yang difasilitasi pemerintah. Namun, menurutnya, banyak pedagang tetap kesulitan menerapkannya karena membutuhkan perangkat pendukung dan biaya tambahan.
“Mereka bilang online itu ribet. Harus punya alat, kadang butuh karyawan juga. Sementara kondisi sekarang buat makan saja pas-pasan,” ujarnya.
Wiwik berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menciptakan persaingan usaha yang lebih seimbang antara pedagang pasar tradisional dan perdagangan digital agar pelaku UMKM tetap bisa bertahan.
Pembeli Masih Memilih Datang ke Pasar
Di tengah menurunnya penjualan, masih ada masyarakat yang memilih membeli seragam secara langsung di Pasar Besar Kota Madiun. Salah satunya Ita Dwi Rahayu yang datang untuk membeli seragam merah putih dan pramuka bagi anaknya. Menurut Ita, harga seragam di pasar lebih terjangkau dibandingkan tempat lain. Selain itu, pembeli dapat mencoba ukuran secara langsung sehingga pakaian lebih pas saat dikenakan.
Ia juga menilai membeli langsung di pasar lebih memberikan kepastian dibandingkan berbelanja melalui lokapasar, yang terkadang menghasilkan barang tidak sesuai dengan harapan.
“(Beli di Pasar Besar) Karena harganya lebih miring, terus ukurannya juga bisa dicoba langsung,” tutup Ita.
