Ringkasan Berita
Manusia sering kali berusaha menjadi yang terbaik dan mendapatkan pujian. Namun, pujian yang berlebihan bisa memicu rasa sombong dan membuat seseorang lupa akan sumber keberhasilannya. Dalam khutbah Jumat, topik ini menjadi pengingat penting tentang bahaya pujian dan manfaat celaan dalam kehidupan seorang Muslim.
Pemujaan terhadap individu yang memiliki kelebihan sering kali datang tanpa henti. Hal ini bisa membuat seseorang merasa nyaman dengan pujian, namun jika dibiarkan, akan berdampak buruk pada hati. Rasa sombong dan merendahkan orang lain bisa muncul dari pujian yang berlebihan. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengingat bahwa pujian bukanlah tujuan utama dalam hidup.
Bahaya Pujian
Pujian dapat menjadi awal kehancuran bagi seseorang jika tidak diimbangi dengan kesadaran diri. Misalnya, jika seseorang dipuji karena kemampuan yang dimilikinya, ia bisa terjebak dalam rasa ujub dan kesombongan. Sementara itu, jika pujian tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, maka hal ini bisa menipu diri sendiri dan membuat seseorang merasa puas dengan sesuatu yang tidak ada.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
“Siapa yang merasa puas dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, dia bagaikan memakai dua pakaian kedustaan.” (HR. Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa pujian yang tidak beralasan bisa menjadi penghalang untuk berkembang secara spiritual dan moral.
Manfaat Celaan
Sebaliknya, celaan justru bisa menjadi alat untuk introspeksi diri. Jika seseorang dicela karena kesalahan yang benar-benar ada pada dirinya, maka celaan tersebut bisa menjadi pengingat untuk memperbaiki diri. Jika celaan tersebut tidak benar, maka kesabaran dalam menghadapi celaan bisa mendatangkan pahala besar dari Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah, dan tidaklah seorang didzalimi oleh manusia, lalu ia bersabar menghadapi kedzaliman tersebut, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. At-Tirmidzi)
Celaan juga bisa menjauhkan kita dari sifat sombong dan ujub. Ketika seseorang mencela kita padahal kita tidak melakukan kesalahan, kesabaran kita akan mendatangkan pahala yang besar.
Bahaya Pujian dalam Khutbah
Dalam khutbah Jumat, disampaikan bahwa pujian bisa seperti memenggal leher seseorang. Sebagaimana hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
“Engkau telah memenggal leher saudaramu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa pujian yang berlebihan bisa membuat seseorang tidak ikhlas dan tergoda untuk riya. Terlalu sering dipuji bisa membuat seseorang tertipu dan akhirnya terkena penyakit ujub. Dan ujub bisa membatalkan amal.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, sungguh aku khawatir kalian akan tertimpa sesuatu yang lebih besar daripada itu: yaitu rasa bangga diri (ujub), rasa bangga diri.” (Hadist Hasan Lighairihi)
Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sedikit dari kesombongan.” (HR. Muslim)
Kewajiban Kita
Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mencari pujian hanya dari Allah semata. Jangan pernah mengharapkan pujian, pengakuan, atau penghormatan dari manusia, karena hal itu sering kali merusak hati. Jika Allah ridha kepada kita, maka itu sudah cukup bagi kita.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barang siapa meridhakan Allah meskipun manusia murka kepadanya, maka Allah akan mencukupinya dari manusia. Dan barangsiapa meridhokan manusia tetapi Allah murka kepadanya, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.”
Bayangkan saat kita sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan taufik dari Allah, namun hanya karena kita mengharapkan pujian manusia dan berusaha meridhakan manusia dengan sesuatu yang Allah murkai, akhirnya Allah tidak peduli kepada kita.
Penutup
Kewajiban kita, wahai saudaraku, adalah jangan pernah mengharapkan sedikit pun pujian manusia di dalam hati kita ketika beramal shalih, karena hal itu hanya akan merusak hati dan bahkan merusak pahala kita.





