Keluarga Pasien Lanjut Usia Kritik Penanganan Operasi Katarak di RS
Keluarga pasien lanjut usia berinisial SA mengungkapkan kekecewaan terhadap penanganan operasi katarak yang dilakukan di sebuah rumah sakit di Jakarta. Mereka menilai ada dugaan ketidaksesuaian lensa yang dipasang setelah operasi, sehingga memicu kondisi penglihatan pasien semakin memburuk.
Awal Permasalahan
Permasalahan bermula ketika SA mengalami gangguan penglihatan. Keluarga melihat adanya bercak putih pada bagian mata pasien dan membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter menyatakan bahwa SA menderita katarak dan perlu segera menjalani operasi.
Menurut Sintia, salah satu anggota keluarga, proses penyetujuan operasi tidak dilakukan secara cepat. Pasien yang berusia lebih dari 80 tahun memiliki riwayat penyakit lain yang membuat keluarga mempertimbangkan risiko operasi. Namun, akhirnya mereka memutuskan untuk menyetujui tindakan tersebut karena SA pernah menjalani perawatan di tempat yang sama sebelumnya.
Operasi katarak dilakukan dan berlangsung selama lebih dari tiga jam. Setelah tindakan, pasien dijadwalkan untuk kontrol keesokan harinya. Saat kontrol, keluarga mendapat penjelasan dari dokter mengenai masalah pada lensa yang dipasang di mata SA.
Masalah Lensa yang Dipasang
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, lensa yang dipasang mengalami kerutan dan kemudian bergeser. Sintia mengungkapkan bahwa dokter yang melakukan operasi menjelaskan adanya perbedaan antara lensa yang dipesan dengan lensa yang tersedia.
“Dokter memesan lensa yang tipis dan panjang, tetapi yang disediakan rumah sakit pendek dan bulat,” ujarnya. Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi keluarga tentang bagaimana perbedaan tersebut bisa terjadi.
Keluarga kemudian memutuskan untuk membawa SA ke rumah sakit lain untuk mendapatkan pendapat medis tambahan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa lensa yang terpasang mengalami pergeseran. Berdasarkan rekomendasi dari rumah sakit tersebut, SA diminta menjalani tindakan lanjutan di tempat lain karena fasilitas yang dibutuhkan belum tersedia secara lengkap di rumah sakit awal.
Persoalan Biaya dan Pembiayaan
Keluarga sempat menerima informasi bahwa biaya penanganan lanjutan akan difasilitasi oleh pihak rumah sakit. Namun, sehari sebelum jadwal tindakan, keluarga diminta memperpanjang surat rujukan yang berkaitan dengan penggunaan BPJS Kesehatan. Kondisi ini memicu kembali pertanyaan tentang mekanisme penanganan dan pembiayaan tindakan lanjutan.
Selain masalah lensa, keluarga juga menyebut SA mengalami sejumlah keluhan setelah operasi. Mata pasien tampak miring atau juling, disertai rasa sakit dan sensasi seperti mata berair meski tidak mengeluarkan air mata.
Tuntutan Penjelasan dan Langkah Hukum
Salah satu kuasa hukum keluarga, Rudiyanto Samosir, mengatakan bahwa pihak rumah sakit seharusnya memberikan penjelasan secara terbuka mengenai persoalan yang terjadi. Menurut Samosir, keluarga memiliki sejumlah dokumen yang berkaitan dengan proses pemeriksaan, operasi, hingga rekomendasi medis dari dokter lain.
“Rumah sakit tersebut seharusnya terbuka dan memberikan keterangan, baik dokternya maupun pihak rumah sakit. Bagaimana sampai terjadi kondisi seperti ini,” kata Samosir. Ia menambahkan bahwa berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter pendamping, kondisi penglihatan SA saat ini disebut tergolong buruk dan membutuhkan tindakan operasi lanjutan.
“Lensanya harus dibuka dan dilakukan operasi lagi. Artinya pasien harus menjalani dua kali operasi,” ujarnya.
Keluarga kini meminta pihak rumah sakit memberikan penjelasan terkait dugaan ketidaksesuaian lensa serta kondisi SA setelah operasi. Mereka juga mempertimbangkan langkah hukum untuk memperoleh kejelasan dan pertanggungjawaban atas persoalan tersebut.
Hingga berita ini ditulis, pihak rumah sakit yang menjadi tempat SA menjalani operasi belum memberikan keterangan atau tanggapan resmi terkait tudingan tersebut.
