Oleh: Gergorius Babo

Ketua Bidang Peningkatan Mutu Sistem Informasi Berbasis Teknologi  Komite SMA St. Arnoldus Janssen Kupang.

Infomalangraya.net– Media sosial tidak lagi hanya menghubungkan manusia karena platform digital kini juga memperebutkan perhatian, membentuk perilaku, menggerakkan pasar, dan mengubah popularitas menjadi nilai ekonomi. 

Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dan platform lain tumbuh menjadi ruang tempat komunikasi, data, pengaruh, promosi, serta uang bertemu dalam satu ekosistem.

Perubahan itu tidak otomatis membuat media sosial menjadi buruk karena teknologi tetap merupakan alat, sedangkan manfaat atau kerusakannya bergantung pada cara manusia menggunakannya. 

Persoalan muncul ketika angka di layar memperoleh kekuasaan terlalu besar dalam menentukan bagaimana seseorang menilai keberhasilan, membangun citra diri, memilih ucapan, memperlakukan orang lain.

Media sosial berubah menjadi berhala baru ketika perhatian, popularitas, algoritma, dan keuntungan tidak lagi menjadi alat, tetapi mulai menentukan pilihan, perilaku, bahkan batas moral manusia. 

Berhala itu tidak hadir sebagai patung atau simbol yang disembah secara harfiah, melainkan melalui angka, tren, dan penghargaan digital yang perlahan menempati posisi terlalu tinggi dalam kehidupan.

Tayangan, pengikut, komentar, FYP, dan pendapatan dapat berubah dari alat ukur menjadi tujuan yang dikejar setiap hari dalam kehidupan digital yang semakin kompetitif kini. 

Semua ukuran tersebut berguna untuk membaca performa komunikasi selama tetap ditempatkan sebagai informasi, bukan sebagai penentu nilai seseorang.

Masalah membesar ketika angka mulai menentukan isi, karakter, dan sikap yang harus dipertahankan agar sebuah akun terus tumbuh. 

Pertanyaan “apa yang penting untuk saya sampaikan?” pun dapat bergeser menjadi “apa yang paling mungkin viral?”, lalu keputusan kreatif mulai tunduk pada tuntutan performa.

Sebagian besar ekonomi media sosial bertumpu pada kemampuan platform mempertahankan perhatian pengguna. 

Semakin lama seseorang berada di dalam sebuah aplikasi, semakin banyak aktivitas yang terjadi dan semakin banyak pula data perilaku yang dapat terbaca untuk memahami minat, kebiasaan, serta jenis konten yang berpotensi mempertahankan keterlibatan.

Mekanisme itu terlihat dalam aktivitas sehari-hari ketika seseorang membuka telepon hanya untuk membaca satu pesan, kemudian tertarik pada sebuah video dan berpindah ke video berikutnya. 

Setelah membaca komentar, membuka unggahan lain, dan terus menggulir layar, puluhan menit dapat berlalu.

Setiap tindakan meninggalkan sinyal karena sistem dapat membaca konten yang ditonton lebih lama, unggahan yang dilewati, akun yang sering dikunjungi, video yang dibagikan, komentar yang ditulis, serta tema yang membuat seseorang berhenti menggulir layar. 

Dari kumpulan sinyal tersebut, platform berusaha menampilkan konten yang diperkirakan relevan dan mampu mempertahankan pengguna.

Algoritma platform jauh lebih rumit daripada hitungan sederhana mengenai tanda suka dan komentar karena setiap sistem rekomendasi menggunakan banyak indikator dengan bobot berbeda. 

Durasi menonton, tingkat penyelesaian video, respons pengguna, laporan, tindakan menyembunyikan konten, serta berbagai sinyal lain dapat ikut menentukan bagaimana sebuah unggahan didistribusikan.

Dalam banyak situasi, respons negatif dapat memperpanjang umur sebuah konten karena kemarahan, perdebatan, video tanggapan, atau pembagian ulang tetap menghasilkan aktivitas. 

Orang yang datang untuk mengecam belum tentu menyetujui isinya, tetapi respons tersebut dapat memperbesar percakapan di sekitar unggahan.

Perhatian kemudian memperoleh nilai ekonomi melalui iklan, kerja sama komersial, komisi penjualan, hadiah digital, promosi produk, atau bentuk monetisasi lainnya. 

Kreator pun belajar dari angka karena perbedaan antara dua ribu dan dua ratus ribu penonton memberi petunjuk mengenai tema, format, dan gaya komunikasi yang lebih mudah memperoleh respons.

Jika judul keras menghasilkan lebih banyak klik, judul berikutnya dapat dibuat lebih tajam, sedangkan konflik yang mengundang banyak komentar akan lebih mudah diulang. 

Pada titik itu, algoritma bukan hanya mendistribusikan konten, tetapi ikut memengaruhi cara konten diproduksi.

Menarik perhatian bukan tindakan yang salah karena setiap bentuk komunikasi membutuhkan cara agar pesan dapat didengar. 

Guru perlu membuat pembelajaran menarik, wartawan membutuhkan judul yang kuat, pelaku usaha harus menyusun promosi yang meyakinkan, sedangkan kreator perlu mengemas gagasan agar tidak tenggelam di tengah banjir informasi.

Perhatian menjadi problematis ketika berhenti berfungsi sebagai pintu menuju isi dan berubah menjadi tujuan utama. 

Keberhasilan lalu mudah dipersempit menjadi jumlah tayangan, komentar, pengikut, engagement, atau kecepatan sebuah konten menembus percakapan publik.

Kebenaran kemudian bersaing dengan kecepatan, sementara ketepatan berhadapan dengan sensasi yang lebih mudah mengundang respons. 

Konflik kecil dapat dibesarkan, pernyataan dipotong tanpa konteks, kesalahan seseorang dikemas menjadi tontonan, sementara judul dibuat jauh lebih keras daripada substansi sebenarnya.

Fenomena rage bait memperlihatkan bagaimana kemarahan dapat diperlakukan sebagai komoditas perhatian. 

Pembuat konten sengaja memancing rasa kesal karena memahami bahwa orang yang marah cenderung menulis komentar, membuat video tanggapan, atau membagikan konten sambil mengecamnya.

Namun, kemarahan yang lahir dari kepedulian perlu dibedakan dari kemarahan yang sengaja diproduksi sebagai teknik mencari perhatian. 

Seseorang yang bersuara keras terhadap ketidakadilan mempunyai dasar moral berbeda dengan orang yang menciptakan konflik palsu hanya karena kemarahan terbukti menghasilkan lebih banyak penonton.

Ruang publik tetap membutuhkan kritik tegas ketika menghadapi korupsi, ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan, atau penyalahgunaan kekuasaan. 

Persoalan utamanya bukan keras atau lembutnya sebuah suara, tetapi tujuan, kejujuran, konteks, dan konsekuensi dari cara komunikasi tersebut digunakan.

Tekanan ekonomi perhatian tidak berhenti pada bentuk konten karena dalam beberapa kasus tekanan itu bergerak lebih jauh dan mulai membentuk persona digital seseorang. 

Ketika audiens memberikan respons lebih besar terhadap karakter tertentu, pembuat konten dapat terdorong mempertahankan persona yang dianggap paling efektif.

Seseorang yang tenang dalam interaksi sehari-hari dapat membangun persona digital yang jauh lebih agresif ketika karakter tersebut terbukti menghasilkan respons lebih besar. 

Jika pola itu terus dihargai audiens, persona yang semula hanya strategi komunikasi dapat perlahan menjadi produk yang harus dipertahankan.

Karakter kemudian tidak lagi hanya menjadi ekspresi diri karena persona dapat disesuaikan dengan permintaan audiens dan kebutuhan performa. Cara bicara, ekspresi, posisi terhadap suatu isu, bahkan kemarahan dapat dibentuk berdasarkan apa yang menghasilkan respons terbesar.

Tekanan menjadi lebih kuat ketika media sosial menjadi sumber penghasilan utama karena kreator menghadapi kebutuhan ekonomi yang nyata. 

Ada biaya perangkat, internet, produksi, penyuntingan, waktu, pengelolaan akun, serta tuntutan untuk terus menghadirkan materi baru agar audiens tidak berpindah.

Mencari penghasilan dari media sosial bukan sesuatu yang salah karena karya pendidikan, seni, hiburan, informasi, jurnalistik, dan promosi usaha layak memperoleh penghargaan ekonomi. 

Ekonomi digital juga membuka kesempatan bagi guru, pelaku usaha kecil, komunitas lokal, dan kelompok yang sebelumnya memiliki ruang partisipasi terbatas untuk menjangkau publik lebih luas.

Persoalannya bukan keinginan memperoleh cuan, melainkan harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya. Keuntungan menjadi problematis ketika menuntut pengorbanan terhadap kejujuran, privasi, penghormatan kepada orang lain, atau integritas pribadi.

Perubahan batas moral jarang berlangsung melalui satu keputusan besar karena pergeserannya lebih sering terjadi sedikit demi sedikit. 

Judul yang hari ini dibuat lebih sensasional dapat diikuti pemotongan konteks esok hari, kemudian konflik pribadi mulai dipublikasikan karena terbukti menghasilkan tayangan dan pendapatan.

Media sosial membuat keberhasilan terlihat konkret karena dashboard dapat menunjukkan jumlah pengikut, jangkauan, tayangan, engagement, durasi menonton, pertumbuhan akun, hingga pendapatan. 

Semua data tersebut dapat dibaca dalam hitungan detik dan memberi kesan bahwa keberhasilan selalu dapat diterjemahkan ke dalam angka.

Dampak sosial jauh lebih sulit diukur karena tidak ada grafik sederhana yang menunjukkan berapa banyak orang merasa dipermalukan setelah sebuah konten viral. 

Tidak ada pula indikator yang otomatis memperlihatkan berapa besar kepercayaan rusak, hubungan terganggu, atau luka yang ditinggalkan oleh penghinaan yang ditonton jutaan orang.

Viralitas tidak sama dengan nilai karena sebuah konten dapat menyebar luas melalui alasan yang berbeda. 

Karya bermutu, informasi penting, gerakan kemanusiaan, dan pengetahuan bermanfaat dapat viral, tetapi kebohongan, penghinaan, pertengkaran, serta informasi yang salah juga dapat bergerak dengan kecepatan sama.

Satu juta penonton tidak berarti satu juta orang memperoleh manfaat, sedangkan sepuluh ribu komentar tidak otomatis menunjukkan diskusi sehat. 

Angka menunjukkan aktivitas, sementara kualitas membutuhkan pertanyaan tentang kebenaran, manfaat, kejujuran, martabat manusia, dan pertanggungjawaban setelah efek viral berlalu.

Ekonomi perhatian juga mengubah cara manusia memandang privasi karena banyak hal yang dahulu dianggap terlalu personal kini dapat berubah menjadi bahan tontonan. 

Pertengkaran pasangan, konflik keluarga, kesedihan, kegagalan, persoalan anak, bahkan momen ketika seseorang berada dalam kondisi sangat rentan dapat direkam dan dipublikasikan.

Tidak semua keterbukaan buruk karena seseorang dapat membagikan pengalaman pribadi untuk membantu orang lain memahami penyakit, kekerasan, kemiskinan, diskriminasi, perjuangan hidup, atau persoalan sosial tertentu. Keterbukaan memiliki nilai pendidikan dan kemanusiaan ketika pengalaman tersebut dibagikan dengan pertimbangan matang.

Kehidupan pribadi mulai kehilangan batas ketika drama dipublikasikan terutama untuk menghasilkan perhatian yang kemudian dikonversi menjadi keuntungan. 

Pengalaman pasangan, anak, keluarga, atau orang di sekitar pun berisiko diperlakukan sebagai bahan produksi konten.

Normalisasi bekerja melalui pengulangan karena pola yang sering terlihat perlahan dapat dianggap biasa. 

Ketika satu akun memperoleh jutaan penonton dari konflik keluarga, akun lain dapat meniru, lalu drama, pertengkaran, atau perilaku ekstrem mulai diterima sebagai hiburan yang lumrah.

Pandangan bahwa yang penting viral terlebih dahulu menjadi berbahaya ketika dampaknya selalu ditempatkan setelah perhatian. 

Jika pola pikir tersebut menjadi kebiasaan, batas privasi dapat dikorbankan dan pengalaman yang seharusnya dilindungi dapat dieksploitasi demi mempertahankan perhatian publik.

Pada titik ini, makna “berhala baru” menjadi semakin jelas karena sesuatu tidak harus disembah secara ritual untuk memperoleh kuasa besar atas kehidupan manusia. 

Berhala digital lahir bukan ketika manusia menggunakan angka, tetapi ketika angka mulai menentukan siapa manusia harus menjadi.

Pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi berapa besar penghasilan seseorang dari media sosial, melainkan siapa yang sebenarnya menentukan siapa. 

Garis pemisah antara menggunakan teknologi dan dikendalikan oleh teknologi dapat semakin tipis ketika kehidupan seseorang bergantung pada performa digital.

Jika manusia menggunakan algoritma untuk menyampaikan ilmu, membangun usaha, mempromosikan karya, menghibur, mendidik, menyampaikan kritik, atau menggerakkan solidaritas, teknologi masih berfungsi sebagai alat. 

Manusia tetap menjadi subjek karena tujuan, nilai, dan batas penggunaan teknologi masih ditentukan oleh pertimbangan manusia.

Keadaannya berubah saat seseorang mulai menyesuaikan karakter, keyakinan, ucapan, dan batas moral agar algoritma terus memberikan perhatian. 

Telepon masih berada di tangan manusia, tetapi keputusan perlahan diarahkan oleh apa yang diperkirakan menghasilkan performa tertinggi.

Kritik terhadap fenomena ini tidak adil jika hanya diarahkan kepada kreator karena ekonomi perhatian terbentuk dari hubungan antara platform, kreator, pengguna, pengiklan, pasar, dan berbagai kepentingan komersial. 

Setiap pihak memiliki peran berbeda, tetapi seluruhnya berkontribusi terhadap jenis konten yang tumbuh dan bertahan di ruang digital.

Platform membangun sistem rekomendasi, kreator memproduksi konten, pengguna memberikan perhatian, sedangkan pengiklan memberi nilai ekonomi terhadap perhatian tersebut. 

Pasar kemudian memberi penghargaan kepada konten yang mampu mempertahankan keterlibatan dalam skala besar.

Pengguna sering merasa hanya menjadi penonton, padahal setiap klik, tontonan, komentar, dan pembagian ikut menentukan kehidupan sebuah konten. 

Memilih apa yang kita tonton berarti memberikan waktu, sedangkan membagikan atau mengomentarinya dapat memperluas percakapan di sekitarnya.

Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara mengenali berita palsu atau membuat kata sandi yang aman. 

Masyarakat juga perlu memahami bahwa perhatian mempunyai nilai ekonomi, sehingga keputusan untuk menonton, membagikan, atau mengomentari sesuatu memiliki konsekuensi dalam ekosistem digital.

Kita memang tidak dapat mengendalikan seluruh cara kerja algoritma karena sebagian besar mekanismenya berada di luar kendali pengguna biasa. 

Namun, kita masih dapat menentukan apa yang layak mendapatkan waktu, perhatian, komentar, serta ruang dalam kehidupan sehari-hari.

Media sosial tidak perlu ditinggalkan karena ruang digital sudah menjadi bagian penting dari kehidupan modern dan menyediakan banyak manfaat. 

Yang perlu dijaga adalah orientasi penggunaannya agar teknologi tetap mendukung pekerjaan, pembelajaran, karya, relasi, usaha, informasi, dan kepentingan publik tanpa mengikis nilai yang lebih mendasar.

Keberhasilan digital perlu dibaca melampaui tayangan dan interaksi dengan mempertimbangkan manfaat, kejujuran, dampak, serta penghormatan terhadap orang lain. 

Popularitas hanya menunjukkan seberapa jauh sesuatu beredar, bukan seberapa besar nilai yang dibawanya bagi kehidupan manusia.

Nama baik dan kepercayaan tidak muncul dalam dashboard, tetapi dibangun melalui perilaku yang konsisten. 

Di atas semua ukuran digital terdapat integritas, yaitu kemampuan menjaga kebenaran dan menghormati orang lain bahkan ketika pilihan tersebut tidak menghasilkan popularitas sebesar pilihan yang lebih sensasional.

Keuntungan kehilangan maknanya ketika hanya dapat dipertahankan dengan mempermalukan orang lain, memanipulasi informasi, mengeksploitasi keluarga, atau memproduksi kemarahan palsu. 

Angka dapat terus bertumbuh sementara kualitas hubungan, kepercayaan publik, dan penghormatan terhadap diri sendiri justru menurun.

Kita boleh memahami algoritma, mengejar FYP, meningkatkan retention, membangun audiens, memperluas pasar, dan memperoleh penghasilan selama semuanya tetap berada dalam batas nilai yang kita yakini. 

Masalah dimulai saat angka di layar tidak lagi hanya memberi informasi tentang performa, tetapi mengambil alih fungsi nurani dalam menentukan apa yang benar dan layak dilakukan.

Sebelum menekan tombol unggah, mungkin kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih penting daripada memikirkan apakah sebuah konten akan ramai. 

Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: setelah konten ini dilihat banyak orang, apakah saya masih dapat menghormati diri sendiri?

Ketika layar sudah mati, tren telah berganti, dan penonton berpindah ke konten berikutnya, jumlah tayangan perlahan kehilangan perhatian publik. 

Yang tetap tinggal adalah nama, karakter, dan nurani yang dibentuk oleh pilihan yang tidak tercatat dalam dashboard, tetapi menentukan siapa diri kita setelah keramaian digital berlalu. (*)

Simak terus berita dan artikel opini Infomalangraya.netdi Google News

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version