Keluarga Siswa SMK 1 Berastagi Mengeluhkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang Menyebabkan Keracunan

Salmen Sihite (52), seorang orang tua siswa SMK 1 Berastagi, mengungkapkan kekecewaannya terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disebutnya menyebabkan keracunan pada putrinya, Krismas Dayanti Br Sihite. Anak perempuan tersebut kini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Haji Medan setelah mengalami gejala yang cukup serius akibat makanan dari MBG.

Menurut Salmen, lebih baik anaknya membawa bekal dari rumah dengan lauk ikan asin daripada makan menu mewah dari MBG yang berujung pada petaka. Ia mengungkapkan bahwa kondisi putrinya sempat memburuk hingga harus masuk ke ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit). Kejadian ini membuat keluarganya trauma dan tidak lagi percaya dengan program tersebut.



Pantauan Infomalangraya.net menunjukkan bahwa Salmen tidak pernah melepaskan pandangan mata dari ruangan PICU yang tertutup rapat. Dari tempat tinggal sementara yang disediakan oleh pihak rumah sakit, ia terus memantau dan menunggu kabar baik dari buah hatinya.



Saat ditemui, Salmen mengatakan bahwa setelah tiga hari sejak kejadian, kondisi putrinya mulai membaik. Meski lega, ia masih penuh kecemasan. Ia mengungkapkan bahwa Krismas adalah anak keempat dari enam bersaudara dan sudah lama ditinggal ibunya untuk selamanya. Sejak kejadian keracunan, ia memutuskan untuk tidak mengizinkan anaknya makan MBG lagi. Bahkan, ia meminta agar program tersebut ditutup.

“Harapan saya, kalau bisa, MBG ditutuplah. Jangan lagi. Bagi saya, ya, karena takutnya nanti anak saya seperti itu lagi,” ujarnya.

Salmen, yang sehari-hari bekerja sebagai supir, mengaku sempat mengalami penurunan kondisi kesehatan karena mendengar kabar anaknya keracun. Ia mengatakan bahwa akan meminta anaknya membawa bekal sendiri dari rumah, meskipun hanya ikan asin atau ikan asin goreng.



Meski belum diketahui kapan anaknya bisa pulang, Salmen tetap berharap putrinya segera pulih. Ia mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada pemberitahuan resmi. Hanya saja, pihak rumah sakit meminta mereka menunggu hingga anaknya benar-benar sehat dari ruang PICU sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap.

Diceritakan Salmen, awal mula ia mengetahui anaknya keracun dari sang anak sendiri. Sebelum kejadian, ia sudah mengabari bahwa sekolahnya mengalami keracunan MBG. Ia mengatakan bahwa ia mencari anaknya ke berbagai rumah sakit karena merasa tidak tenang.



Ia mengungkapkan bahwa setelah makan MBG, putrinya mengeluh nyeri perut, ulu hati panas, dan tenggorokan gatal. Kondisi memburuk hingga harus masuk ke ruang PICU. Selama tiga hari, kesadaran anaknya menurun hingga tidak bisa diajak berbicara.

Salmen juga mengatakan bahwa anaknya tidak memiliki riwayat alergi atau penyakit apapun. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memperhatikan kondisi anaknya dengan baik. Saat ini, putrinya sudah sadar, bisa berbicara, makan, dan duduk. Perawatan yang diberikan gratis tanpa dipungut biaya.

Diketahui, ratusan siswa dari lima sekolah di Kabupaten Karo diduga terkena keracunan MBG pada Kamis (13/8/2026). Lima sekolah tersebut terdiri dari tiga SMA Negeri dan dua SMP Swasta. Total siswa SMA yang diduga terkena racun MBG berjumlah 265 siswa. Sementara untuk SMP, terdiri dari SMP Negeri 3 Kaban Jahe dan SMP Swasta Bersama.

Kejadian keracunan dimulai pukul 13.00 WIB setelah siswa-siswi menyantap MBG. Pihak yang menangani MBG adalah milik Kodim.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version