Sejarah Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji yang Berusia 90 Tahun
Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji di Padukuhan Boro, Kalurahan Banjarasri, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo memiliki sejarah yang sangat panjang. Bahkan, tempat ini sudah berdiri sebelum Republik Indonesia merdeka. Sejak awal berdirinya, panti asuhan ini telah menjadi tempat yang tidak asing bagi warga setempat dan masyarakat luas.
Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji dikelola oleh Kongregasi Suster Ordo Santo Fransiskus (OSF) yang berpusat di Semarang, Jawa Tengah. Seluruh anak yang tinggal di sana dijamin penuh hak kehidupan dan pendidikannya. Misi utama dari panti asuhan ini adalah untuk mengentaskan kemiskinan dari anak-anak yatim, piatu, atau yang telantar akibat masalah ekonomi maupun keluarga.
Awal Berdirinya Panti Asuhan
Menurut Suster Maria Christera, pimpinan Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji, tempat ini resmi dibuka pada tahun 1934. Artinya, saat ini panti asuhan tersebut telah berumur 90 tahun dalam melayani masyarakat. Dibuka hanya empat tahun setelah Rumah Sakit (RS) Santo Yusuf Boro, Panti Asuhan ini didirikan sebagai pelengkap layanan kesehatan dan sosial di wilayah Menoreh.
Pembukaan panti asuhan ini digagas oleh Romo J.B. Prennthaler, S.J., seorang misionaris Katolik. Saat itu, warga dihadapkan dengan berbagai tantangan seperti masalah ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Salah satu isu besar yang muncul adalah banyaknya ibu yang meninggal dunia usai melahirkan anak. Selain itu, wabah penyakit juga menyebabkan banyak anggota keluarga harus dirawat, sehingga anak-anak menjadi telantar.
Untuk menjawab permasalahan ini, Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji dibangun agar bisa mengumpulkan dan merawat anak-anak yang terlantar. Selain untuk putri, panti asuhan untuk putra juga disediakan tak jauh dari lokasi tersebut.
Anak dari Seluruh Indonesia Tinggal di Panti Asuhan
Kini, Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji menerima anak dari seluruh Indonesia. Contohnya adalah lima anak dari Batam yang dititipkan di sini karena permasalahan kedua orangtuanya. Ayah mereka baru saja meninggal dunia, sedangkan ibunya mengalami depresi, sehingga lima anak itu menjadi telantar dan akhirnya dititipkan di panti asuhan.
Suster Maria menjelaskan bahwa seluruh anak di panti asuhan ini dijamin penuh hak kehidupan dan pendidikannya. Tujuannya adalah agar anak-anak dapat meningkatkan taraf hidup mereka melalui pendidikan dan bekal ilmu kehidupan yang diberikan.
Kisah Pangkrasia Tamboy Tikporop
Salah satu alumni Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji adalah Pangkrasia Tamboy Tikporop, yang kini menempuh studi perguruan tinggi di Jawa Barat. Ia sering kembali ke panti asuhan saat liburan untuk membantu pelayanan di sana.
Pangki, panggilan akrabnya, berasal dari keluarga kurang mampu di Sorong, Papua Barat Daya. Ia ingin bersekolah, namun terkendala biaya. Keberadaan Biara Suster OSF di Sorong membuatnya sempat tinggal di asrama suster tersebut. Akhirnya, salah satu suster mengajaknya datang ke Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji agar bisa bersekolah.
Selama tinggal di panti asuhan, ia merasa mendapat kasih sayang penuh dari para suster dan pegawai. Selain itu, ia juga belajar tentang kedisiplinan, yang kini sangat berpengaruh dalam kehidupannya.
Harapan untuk Masa Depan
Meskipun berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi, Pangki tidak pernah merasa kekurangan selama tinggal di panti asuhan. Ia berharap Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji tetap eksis dalam memberikan pelayanan tulus kepada masyarakat.
“Semoga Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji ini bisa terus bertahan sebagai tempat pelayanan bagi anak-anak seperti kami yang membutuhkan kasih sayang,” ujarnya.




