Refleksi Spiritual di Masa Suci
Imam Diosesan Keuskupan Pangkalpinang yang tinggal di Bintan, Poya Hobamatan, menulis artikel ini dengan semangat untuk merenungkan makna Paskah dalam konteks perang dan konflik global. Meskipun umat Katolik akan segera merayakan Paskah sebagai hari pembebasan, suasana batin tidak terlalu cerah karena adanya konflik antara tiga negara besar, Amerika, Israel, dan Iran.
Di saat umat Muslim dan Nasrani memasuki masa sunyi untuk merenungkan hidup dan merendahkan diri di hadapan Allah, dunia justru dikejutkan oleh wajah sangar dari tiga negara tersebut. Perang yang berkecamuk menyebabkan kematian ribuan orang, menggelisahkan dan menimbulkan berbagai pertanyaan.
Pertanyaan-Pertanyaan Etis dan Teologis
Dari sisi antropologi, muncul pertanyaan: masihkah budaya saling memangsa dilestarikan di era yang mengagungkan kemanusiaan? Jika masih dianggap memiliki nilai, bagaimana mempertanggungjawabkannya secara etis di tengah pertumbuhan peradaban yang membentuk manusia sebagai homo homini socius?
Perang, dengan segala peralatan canggihnya, sedang mempertontonkan cara penyelesaian konflik ala bar-bar dari animale rationale. Dari sisi teologis, perang yang melukai hari-hari suci tobat ini juga menimbulkan pertanyaan yang mengguncang iman: Masih hidupkah Allah yang diimani oleh para pemimpin negera-negara ini, atau sejatinya sudah mati sebagaimana dikhayalkan Nietzche?
Jika masih hidup, siapakah sosok Allah yang diimani itu, sehingga mengizinkan umat-Nya membunuh sesama tanpa ada rasa iba? Jika Allah itu masih hidup, walau dengan penamaan yang berbeda-beda, mengapa kecanggihan teknologi yang merupakan wujud nyata kemajuan pengetahuan, tidak sanggup menciptakan bumi sebagai rumah bersama untuk dihuni anak-anak-Nya.
Perang sebagai Bentuk Dosa
Perang adalah perang. Perang bukan jalan perdamaian, sebagaimana dikatakan Paus Leo XIV, karena belum ada bukti bahwa jalan yang dibuka dengan perang menciptakan kedamaian. Kalkulasi menang-kalah disajikan oleh para pendukung, tanpa rasa iba, saat asap hitam mengepul pertanda kehancuran dan kematian sedang mewabah.
Perang, wujud konkret dosa, menjadi pamer kekuasaan, serentak memperlihatkan identitas sebagai insan pendosa yang terjajah oleh kekerdilan dan rasa takut. Merunut pada refleksi teologis George Kircberger, kehilangan kepercayaan kepada Allah yang berimbas pada kehilangan kepercayaan kepada sesama adalah pemicu utama. Kehilangan kepercayaan menimbulkan rasa curiga, sehingga melahirkan rasa takut.
Rasa takut itu pada gilirannya membuat manusia menutup diri, seraya merancang aneka bentuk perlawanan sebagai benteng pertahanan diri, baik kepada Tuhan maupun sesama. Kata Berger, tali temali yang diawali dengan ketiadaan iman, adalah tenunan antropogis yang melahirkan dosa.
Paskah: Allah yang Akbar Menjadi Allah yang Rahim
Setiap kali merayakan Paskah, yang dalam tradisi kristiani, adalah puncak dari perjalanan tobat menuju pembebasan untuk kembali ke citra Allah sejati, Allah yang Akbar selalu memperlihatkan diri-Nya sebagai Allah yang rahim. Sosok ini yang diperlihatkan Yesus Kristus saat membasuh kaki para murid-Nya di Kamis Putih, saat penyaliban dan wafat-Nya di Jumat Agung serta penampakan luka-luka saat kebangkitan-Nya, seraya meneguhkan manusia: “Damai sejahtera bagi kamu.”
Pewahyuan diri dengan cara berkenosis ini, menunjukkan pilihan Allah untuk menempatkan kerahiman melampaui keakbaran-Nya. Dengan kenosis Allah ini, manusia diingatkan untuk tidak dihantui oleh nafsu untuk menjadi akbar dalam hidup Bersama. Karena nafsu ini hanya membangkitkan naluri perlombaan senjata, pertandingan rudal, pamer alat tempur demi pamer kuasa.
Pesan Paskah untuk Dunia
Peristiwa kenosis Allah dalam Paskah sejatinya memberi pesan bahwa manusia yang rapuh membutuhkan Allah yang rahim; Allah yang menunjukkan kekuasaaan dan keagungan-Nya dalam kerendahan-Nya. Allah yang mencintai kehidupan dan sedih atas kematian, bukan Allah yang bersukacita atas kematian sehingga setiap detik mengirim senjata maut untuk membinasakan.
Allah yang datang untuk memerdekakan bukan untuk menindas dan menjajah sesama. Allah yang membangun komunitas untuk misi keselamatan bukan menciptakan komunitas untuk membinasakan yang lain. Saya membayangkan seandainya negara-negara yang sedang dilanda perang, termasuk para pendukung di belakang layar, berani menyalibkan dirinya seraya mengulurkan tangan untuk saling mengampuni dan mengucapkan damai sejahtera bagimu, damai pasti terjadi.
Rumah bumi menjadi tempat sukacita bersama. Dialog menjadi habitus manusiawi yang terus dibudayakan. Dan akhirnya “yang di surga terjadi di bumi”. Selamat Paskah.
