Perkembangan Industri Pelayaran Energi di Tahun 2026
Pada tahun 2026, industri pelayaran energi memasuki babak baru yang menjanjikan. Berbagai faktor seperti akselerasi penggunaan LNG (Liquefied Natural Gas) secara global, ekspansi gasifikasi dalam negeri, serta fase super-cycle tanker minyak menciptakan lanskap pertumbuhan yang menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan pelayaran seperti PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL).
Menurut analisis dari BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand dalam riset yang diterbitkan pada 13 Februari 2026, BULL diproyeksikan memasuki fase pertumbuhan struktural seiring kontribusi penuh kapal LNG MT Gas Garuda pada tahun tersebut. Di tengah pasar LNG global yang masih ketat, tarif sewa kapal LNG tetap berada pada level tinggi dengan tingkat utilisasi sekitar 90%. Kondisi ini memberikan margin kontribusi signifikan terhadap laba bersih perusahaan.
“BULL memasuki fase pertumbuhan struktural seiring kontribusi penuh kapal LNG MT Gas Garuda pada tahun 2026 dengan tarif sewa LNG global yang tetap tinggi dan utilisasi sekitar 90%, yang menghasilkan margin kontribusi signifikan terhadap laba bersih,” ujar Abida dalam risetnya.
Pertumbuhan Pasar LNG Secara Global
Secara global, pasar LNG memasuki fase ekspansi besar dengan tambahan kapasitas likuifaksi sekitar 58 juta ton pada tahun 2026. Namun, pertumbuhan armada kapal LNG belum sepenuhnya mengimbangi lonjakan pasokan tersebut. Ketidakseimbangan ini menjaga tarif sewa tetap atraktif bagi operator yang telah memiliki armada siap operasi.
Di dalam negeri, gas bumi diposisikan sebagai tulang punggung transisi energi melalui RUPTL 2025–2034. Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik berbasis gas sebesar 10,3 GW, program dedieselisasi berbasis LNG skala kecil, serta pengadaan lima unit FSRU besar. Target lifting minyak nasional 1 juta barel per hari pada 2030 juga memperkuat kebutuhan infrastruktur energi, termasuk LNG carrier, FSRU, dan fasilitas FPSO/FSO.
Dinamika Industri Tanker Minyak
Industri tanker minyak global kini berada dalam fase super-cycle akibat disrupsi struktural rantai pasok. Ketegangan geopolitik di Laut Merah serta sanksi terhadap ekspor minyak Rusia memaksa perubahan rute pelayaran melalui Tanjung Harapan, meningkatkan jarak tempuh dan permintaan ton-mile sekitar 3% CAGR sejak 2024.
Di sisi lain, pasokan kapal baru berada di level terendah dalam dua dekade karena kapasitas galangan kapal lebih difokuskan pada pembangunan kapal kontainer dan LNG. Akibatnya, utilisasi armada meningkat signifikan, dengan utilisasi supertanker diproyeksikan mencapai sekitar 92% pada 2026.
Tarif sewa kapal Aframax dan Handymax diperkirakan bertahan di atas rata-rata historis hingga 2026, dengan kisaran Aframax mencapai US$40.000–60.000 per hari. Dengan struktur biaya BULL yang relatif tetap, setiap kenaikan tarif 10% berpotensi meningkatkan EBITDA secara material. Selain itu, lonjakan harga kapal tanker bekas membuka potensi kenaikan nilai aset bagi operator dengan armada terkelola baik.
Peluang Kontrak Infrastruktur Jangka Panjang
Keterlibatan BULL dalam proyek FSRU dan logistik LNG domestik membuka peluang kontrak infrastruktur jangka panjang 10–15 tahun. Model kontrak ini meningkatkan visibilitas arus kas sekaligus memperbaiki kualitas pendapatan karena lebih stabil dibanding pasar spot.
Dengan target pembangunan lima unit FSRU besar dan ekspansi pembangkit gas nasional, BULL berada pada posisi strategis untuk menangkap pertumbuhan permintaan gas domestik. Perpanjangan durasi kontrak armada juga membantu menurunkan risiko volatilitas siklus tanker.
Prospek Keuangan BULL
Menurut Abida, kombinasi akselerasi LNG dan momentum super-cycle tanker menjadi katalis utama kinerja BULL ke depan. “Kontribusi penuh kapal LNG pada 2026 akan meningkatkan recurring income, sementara pasar tanker yang masih kuat memberikan leverage operasional signifikan terhadap EBITDA,” ujarnya dalam riset.
Abida menambahkan, potensi kontrak jangka panjang dari proyek FSRU domestik dapat meningkatkan kualitas pendapatan dan menurunkan eksposur terhadap volatilitas pasar spot global.
Secara fundamental, prospek pertumbuhan laba BULL didukung kombinasi kontribusi LNG, momentum super-cycle tanker, dan kontrak infrastruktur jangka panjang.
Rekomendasi dan Harga Saham
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi positif dengan target harga Rp 780 berbasis metode DCF, mencerminkan potensi upside sekitar 80% dari harga saat ini Rp 432. Asumsi valuasi menggunakan WACC 9,7% dan terminal growth 2%.
Rabu (18/2/2026), harga saham BULL melejit 23,33% di Rp 555 per saham. Sementara dalam lima hari saham BULL telah melonjak 38,75%.
Pada tahun 2026, BULL diperdagangkan pada PBV 2,08x dan PER 22,55x masih menarik seiring proyeksi pertumbuhan EPS sekitar 20% dan prospek pertumbuhan jangka menengah yang solid.
Dengan kombinasi tailwind global dan katalis domestik, BULL dinilai berada pada posisi strategis untuk menjadi salah satu penerima manfaat utama dari transformasi pasar energi dan dinamika super-cycle tanker dalam dua tahun mendatang.





