Pesta Paskah dan Kejutan di Vatikan
Pada Senin (30/3/2026), menjelang Hari Raya Paskah, Paus Leo XIV menerima kejutan istimewa di Vatikan. Sebuah patung St Yusuf dari Arimatea secara khusus dipersembahkan kepada orang nomor satu gereja Katolik dunia itu. Patung ini merupakan yang pertama kali dibuat di Indonesia dan menggambarkan tokoh Yusuf Arimatea serta proses penurunan tubuh Yesus Kristus yang telah wafat dari kayu salib.
Dalam adegan tersebut, terdapat empat tokoh lain yang terlibat, yaitu Bunda Maria, Maria Magdalena, dan dua orang suruhan Yusuf Arimatea. Patung ini merupakan hasil karya dari AM Putut Prabantoro, Founder Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Dalam audiensi umum pada Rabu (25/03/2026), hasil karya itu diberikan kepada Paus Leo XIV oleh Stanislaus Jumar Sudiyana saat delegasi PWKI dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) beraudiensi dengan Paus Leo di Lapangan St Petrus, Vatikan.
Delegasi PWKI dan KWI juga didampingi oleh Rm Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Vatikan yang berasal dari Indonesia. Kunjungan PWKI dan KWI ke Vatikan dalam rangka penandatanganan nota kesepahaman (MOU) penggunaan Bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatikan melalui Vatican News. MOU tersebut ditandatangani KWI dan Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Takhta Suci setelah audiensi dengan Paus Leo XIV.
Yusuf Arimatea: Tokoh Penting dalam Sejarah
Yusuf Arimatea adalah tokoh elit Yahudi berpengaruh dengan status sosial tingkat atas. Dia adalah seorang kaya dengan jabatan sebagai anggota Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin) yang disegani karena kewenangannya. Ia secara rahasia dan diam-diam menjadi salah satu murid Yesus. Ketika penyaliban Yesus, Yusuf Arimatea memberanikan diri meminta jenasah Yesus untuk diturunkan dan dimakamkan dengan layak. Permintaan itu disampaikan kepada penguasa Roma di Yerusalem, Pontius Pilatus.
Setelah permintaan tersebut dikabulkan, Yusuf Arimatea kemudian menurunkan jenasah Yesus dari Salib dan kemudian memakamkan Yesus di area pemakaman yang dibuat oleh Yusuf Arimatea.
Karya Pertama di Indonesia
Menurut Putut Prabantoro, patung tiga dimensi tersebut merupakan karya pertama di Indonesia. Bahkan patung dengan adegan penurunan seperti itu sulit ditemukan di belahan dunia lain termasuk di Roma, Italia yang merupakan pusat gereja Katolik dunia. Dirinya meminta bantuan Mas Nico dari Brata Gallery di Yogya untuk membuatkan patung tersebut.
“Sebelum membuat patung tersebut, saya sudah melakukan penelusuran ke berbagai sumber melalui internet. Bahkan pematung di berbagai kota di Indonesia ketika diminta untuk membuat patung Yusuf Arimatea, selalu meminta contoh atau model jadi, untuk memudahkan pembuatannya. Sementara toko-toko penjual patung-patung rohani dengan cepat menyatakan tidak pernah memiliki,” ujar Putut Prabantoro.
Detail yang Menjadi Fokus Utama
Putut Prabantoro mengungkapkan bahwa ada dua hal penting yang terdapat dalam patung tersebut. Yang pertama adalah warna patung dan kedua adalah nama patung. Dalam penglihatan kakaknya, adegan penurunan Yesus dari salib itu berwarna. Masing-masing tokoh memiliki warna sendiri terutama dalam pakaian yang dikenakan. Namun karena fokus utama adalah Yusuf dari Arimatea, dikhawatirkan orang tidak akan tahu siapa tokoh yang dimaksud.
Oleh karena itu, secara kreasi sendiri, Putut meminta pembuat patung untuk memberi warna khusus pada tokoh utamanya. Sementara tokoh-tokoh lain diberi warna hitam. “Alasannya diberi warna hitam selain Yusuf Arimatea karena warna hitam menjelaskan peristiwa duka cita. Kecuali Yusuf Arimatea semuanya diberi warna hitam,” ujarnya.
Setelah patung selesai dibuat, Widiantoro memintanya agar patung tersebut diberi nama. Nama yang diberikan harus berbahasa Ibrani (Yahudi) dan Latin. Dan, bukan nama dalam bahasa Inggris atau bahkan Indonesia. Ibrani dan Latin adalah dua bahasa yang resmi digunakan saat peristiwa penyaliban Yesus terjadi.
Proses Pembuatan dan Penyampaian Karya
Untuk memastikan penulisannya, Putut Prabantoro kemudian menanyakan cara penulisan nama dalam dwi bahasa kepada dua pastor yakni Rm Markus Solo Kewuta SVD yang berkarya di Vatikan dan Rm Antonius Suhermanto yang merupakan mahasiswa doktoral yang berasal dari Keuskupan Tanjung Karang.
“Jika dihitung, dari pembuatan sketsa hingga selesainya patung dibutuhkan waktu 7 (tujuh) bulan,” ujar Putut.
Terkait dengan kemungkinan bertemu dengan Paus Leo, menurut Putut, merupakan kisah tersendiri. Penentuan keberangkat ke Vatikan diputuskan oleh Mgr Agustinus Tri Budi Utomo, ketika dirinya dan Mayong Suryo Laksono menghadap pada 15 Februari 2026.
