Surabaya menjadi pusat perhatian saat ratusan umat Hindu menggelar pawai ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Kegiatan ini digelar di area parkir Pura Segara dan menarik perhatian masyarakat yang memadati lokasi untuk menyaksikan jalannya arak-arakan.
Meski cuaca tampak mendung, semangat peserta tidak surut. Umat Hindu bersama warga tetap mengikuti pawai dengan penuh antusias, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan harmonis. Berbagai ogoh-ogoh berukuran besar diarak keliling dengan penuh semangat. Karya seni tersebut tidak hanya menampilkan kreativitas, tetapi juga memiliki makna filosofis sebagai simbol sifat negatif yang harus disucikan menjelang pelaksanaan Catur Brata Penyepian.
Staf Ahli Wali Kota Surabaya Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan Maria Theresia Ekawati Rahayu menegaskan bahwa pawai ogoh-ogoh memiliki nilai lebih dari sekadar tradisi budaya. “Pawai ogoh-ogoh merupakan wujud kreativitas yang sarat makna, sebagai simbol penyucian diri dan alam semesta dari pengaruh negatif sebelum melaksanakan Catur Brata Penyepian,” ujarnya.
Perempuan yang akrab disapa Yayuk itu menjelaskan, momentum ini menjadi ajakan bagi masyarakat untuk melakukan refleksi diri, terutama dalam mengendalikan sifat-sifat negatif seperti ego, iri hati, dan dengki. “Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk mengevaluasi diri agar dapat menciptakan kehidupan yang lebih harmonis,” jelasnya.
Dia menekankan komitmen Pemerintah Kota Surabaya dalam menjaga keberagaman di tengah masyarakat yang majemuk. “Sebagai kota yang menjunjung tinggi keberagaman, Surabaya berkomitmen untuk terus menjaga nilai toleransi, persatuan, dan keharmonisan di tengah perbedaan budaya dan keyakinan,” kata dia.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan pawai ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan warga dalam merawat harmoni sosial. “Melalui pawai ogoh-ogoh ini, diharapkan energi positif dapat terus tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat nilai-nilai toleransi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Surabaya, Ketut Gotra Astika, menyampaikan bahwa rangkaian perayaan Nyepi tahun ini berjalan dengan baik dan lancar. “Seluruh rangkaian Hari Raya Nyepi, mulai dari Melasti, Tawur Agung, Tawur Kesanga, hingga pawai ogoh-ogoh Tahun Saka 1948 dapat terselenggara dengan baik,” ujarnya.
Dia menambahkan pawai ogoh-ogoh bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga sarat pesan moral yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. “Berawal dari pikiran yang positif akan melahirkan perkataan dan perbuatan yang positif, hingga akhirnya membentuk karakter yang baik dan membawa kehidupan yang lebih baik pula,” tuturnya.
Ketut juga mengapresiasi kehadiran perwakilan Pemerintah Kota Surabaya sebagai bentuk dukungan terhadap nilai toleransi. Dia turut mendoakan Wali Kota Eri Cahyadi beserta jajaran agar selalu diberikan kesehatan dalam menjalankan tugas. “Kehadiran ini menjadi bukti komitmen bersama untuk terus merawat persatuan dan menjaga toleransi di Kota Surabaya,” pungkasnya.





