Pengakuan Korban Penganiayaan Brutal di Pati
Seorang wanita berinisial DS, korban penganiayaan brutal yang terjadi di Desa Sinomwidodo, Kecamatan Tambakromo, Pati, memberikan klarifikasi langsung dari ruang perawatan rumah sakit. Dalam video yang dikirimkan kepada awak media, DS secara tegas membantah rumor yang menyebutkan bahwa pelaku berinisial A adalah mantan kekasihnya.
DS menjelaskan bahwa hubungan antara dirinya dan pelaku sebatas antara penjahit dan pelanggan. Pelaku pertama kali mengenalnya setelah memesan jahitan kemeja dan celana melalui informasi kontak yang tertera di akun media sosial usahanya. “Di sini saya ingin menegaskan bahwa saya tidak memiliki hubungan dengan pelaku berinisial A. Awal mula saya mengenal dia karena dia memesan jahitan kemeja dan celana pada saya,” tegas DS, Jumat (24/7/2026).
Meskipun pelaku pernah menyatakan perasaan cinta kepadanya dan menawarkan taaruf, penolakan telah dia sampaikan secara baik-baik. Sejak penolakan tersebut, teror ketakutan mulai membayangi hidupnya selama hampir satu tahun, terhitung sejak Agustus 2025.
Tindakan Teror yang Berlanjut
Meski korban telah memblokir seluruh akses media sosial dan nomor WhatsApp pelaku, pelaku terus menerornya menggunakan berbagai nomor berbeda. Aksi nekat pelaku bahkan sempat terjadi sebelum insiden pembacokan brutal pada Kamis (23/7/2026) kemarin.
Pada 5 Juni 2026 lalu sekitar pukul 23.00 WIB, pelaku pernah menyambangi rumah korban dengan membawa senjata linggis. Saat itu, aksi pelaku gagal dan ia melarikan diri setelah kakak ipar korban bersama warga sekitar datang mengepung lokasi. Korban mengaku sempat menduga pelaku tidak akan berani datang kembali sehingga belum melaporkan insiden ancaman tersebut kepada pihak kepolisian. Namun dugaan tersebut meleset hingga akhirnya puncak aksi kekerasan terjadi pada Kamis (23/7/2026).
“Saya pikir dia tidak akan berani untuk datang lagi… Tapi ternyata saya salah, dia masih melakukan hal yang lebih kejam lagi. Di sini saya mau memperjelas bahwa saya tidak pacaran, tidak memiliki hubungan dengan A,” pungkas DS.
Peristiwa Penganiayaan yang Viral
Diberitakan sebelumnya, peristiwa penganiayaan yang terjadi di Desa Sinomwidodo, Kecamatan Tambakromo, Pati, Kamis (23/7/2026), viral di media sosial. Dalam narasi yang banyak beredar di media sosial, seorang wanita berinisial DS dibacok oleh mantan kekasihnya yang cemburu lantaran ajakannya untuk balikan ditolak.
Kepala Desa Sinomwidodo, Rakimin, menyebut bahwa korban penganiayaan adalah keponakannya. Menurutnya, pelaku yang merupakan seorang pemuda asal Trangkil menyusup masuk ke rumah korban secara sembunyi-sembunyi melalui pintu belakang dengan membawa perlengkapan yang sudah dipersiapkan dari rumah. “Masuk lewat belakang. Pelaku sudah membawa linggis, tali, lakban, hingga senjata tajam sejenis sangkur. Dia memang mau membunuh korban karena tidak mau diajak balikan dan dinikahi,” jelas Rakimin.
Sebelum aksi nekat ini terjadi, pelaku diketahui telah berulang kali mengancam akan membunuh korban jika menolak diajak balikan. Sehingga, Rakimin menilai perbuatan pelaku adalah upaya pembunuhan berencana. Korban sendiri sudah berencana akan menikah dengan pria lain. Meskipun sempat didamaikan, pelaku yang tersulut emosi tetap melancarkan aksinya.
“Pelaku sudah pernah mengancam sebelumnya, pernah membawa kapak. Intinya mengancam mau membunuh kalau korban tidak mau balikan,” tambah Rakimin.
Luka Serius dan Respons Massa
Akibat serangan brutal tersebut, korban mengalami luka bacok serius di beberapa bagian tubuhnya, termasuk tangan, perut, dan kaki. Korban langsung dilarikan ke Puskesmas Tambakromo sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Kendati menderita luka berat, korban dilaporkan masih dalam kondisi sadar.
Peristiwa ini memicu emosi warga setempat yang kemudian mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) hingga mengepung Mapolsek Tambakromo tempat pelaku diamankan. Untuk mengantisipasi amukan massa dan menjaga kondusivitas, pihak kepolisian akhirnya memindahkan penahanan pelaku ke Mapolresta Pati. “Pelaku dipindahkan ke Polres untuk diamankan, karena situasi di Polsek kurang aman sebab banyak massa yang datang,” pungkas Rakimin.





