Renungan Pria/Kaum Bapa GMIM
Pada minggu pertama bulan Februari 2026, Pria/Kaum Bapa (P/KB) Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) mengadakan renungan dengan tema “Seia Sekata, Erat Bersatu dan Sehati Sepikir”. Tema ini diambil dari bacaan kitab 1 Korintus pasal 1:10-17. Dalam renungan tersebut, pesan yang disampaikan adalah pentingnya kesatuan dalam iman dan pelayanan.
Pentingnya Kesatuan dalam Iman
Sahabat-sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan, kita semua tentu bersyukur karena diberi kesempatan lagi oleh Tuhan untuk bersekutu memuliakan nama-Nya. Tema minggu ini, “Seia Sekata, Erat Bersatu dan Sehati Sepikir”, menekankan bahwa meskipun kita memiliki perbedaan dalam latar belakang dan kepribadian, kita tetap satu dalam iman kepada Yesus Kristus.
Perbedaan yang ada dapat menyebabkan gesekan-gesekan, perselisihan, bahkan perpecahan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak terjebak pada sikap yang merasa diri lebih baik atau paling benar, serta tidak meremehkan orang lain.
Menjadi Sosok yang Rendah Hati
Panggilan untuk seia sekata bukan berarti semua harus sama, tetapi satu pengakuan iman, satu arah tujuan pelayanan, dan satu pusat kehidupan, yaitu Yesus Kristus. Perbedaan tidak boleh berubah menjadi perpecahan. Setiap anggota jemaat harus saling merendahkan diri di dalam takut akan Kristus.
Hidup rendah hati adalah level tertinggi orang beriman dalam proses mencapai kepenuhan Kristus. Firman Tuhan mengatakan, “Yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia…dan telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati…” (Filipi 2:6-8).
Mari kita belajar merendahkan diri; siapa pun kita dan apapun status sosial kita, kita harus bersikap rendah hati karena kita semua sama di hadapan Allah. Jangan membanggakan diri, dan dalam persekutuan gereja jangan cenderung mengidolakan atau mengkultuskan seseorang, sebagaimana keberadaan di jemaat Korintus yang ditegur oleh rasul Paulus.
Peran Pria/Kaum Bapa dalam Persekutuan
Dalam persekutuan dan pelayanan gereja, mari kita gunakan masing-masing potensi sebagai karunia Tuhan untuk melayani dan memperlengkapi bukan untuk menyombongkan diri. Kepada jemaat di Korintus, Paulus mengajukan tiga pertanyaan retoris: Apakah Kristus terbagi? Apakah Paulus disalibkan? Apakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?
Jawabannya jelas tidak. Salib hanya satu. Penebus hanya satu. Kepala gereja hanya satu, yaitu Yesus Kristus. Paulus tidak menonjolkan peran pribadi dalam satu bentuk pelayanan, melainkan ia bersyukur tidak banyak membaptis. Ini menunjukkan bahwa baptisan bukan alat membangun loyalitas, pelayan Tuhan bukan pusat iman, dan Injil tidak boleh dikaitkan dengan nama manusia.
Paulus dengan tegas menolak hikmat manusia yang memegahkan diri. Sebaliknya, salib Kristus menyatukan kita semua karena semua manusia sama-sama berdosa, semua diselamatkan oleh anugerah, dan tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain.
Teladan dalam Keluarga
Firman Tuhan memanggil kita untuk seia sekata dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Kita juga terpanggil untuk erat bersatu sebagai satu tubuh Kristus, serta sehati sepikir karena salib Kristus yang telah menyatukan kita.
Dalam keluarga, tunjukkan teladan sikap rendah hati, tegas memberikan nasihat, tetapi terbuka untuk mendengar masukan yang positif. Keluarga Kristen akan dapat bertahan dan kuat dalam menghadapi berbagai pergumulan jika tiap anggota keluarga bersikap rendah hati, berjiwa besar, dan tidak egois untuk saling menghargai dan menopang, bukan saling meremehkan dan melemahkan.
Dari dalam keluarga, istri dan anak-anak dapat meneladani kita sebagai bapak-bapak yang takut akan Tuhan; taat beribadah, rajin bekerja. Tetapi juga dalam keseharian rendah hati; jujur dan bersahaja.
Bila kita egois, angkuh, gila hormat, merasa diri paling benar dan hebat, maka kita bisa menjadi batu sandungan. Apalagi kalau kita lebih suka berselisih daripada berdamai, hanya mau mengkritik tapi tidak mau dikritik. Tetapi bila kita seia sekata, erat bersatu, dan sehati sepikir, maka pasti keluarga Kristen dan persekutuan jemaat akan semakin kuat serta berbuah bagi banyak orang.
Pertanyaan untuk Pria/Kaum Bapa
- Mengapa rasul Paulus meminta jemaat Korintus untuk seia sekata, erat bersatu, dan sehati sepikir?
- Apa dan bagaimana peran konkret P/KB dalam menjaga keutuhan rumah tangga serta kesatuan jemaat yang terdiri dari berbagai latar belakang hidup dan karakter yang berbeda-beda?




