Renungan Pria Kaum Bapa (P/KB) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM)
Sebuah renungan yang menarik disampaikan dalam pelita Pria/Kaum Bapa (P/KB) Gereja Masehi Injeli di Minahasa (GMIM) pada minggu 19 hingga 25 April 2026. Topik utama renungan ini adalah “Orang Yang Takut Akan Dia Dan Yang Mengamalkan Kebenaran Berkenan Kepada-Nya”, yang diambil dari Kisah Para Rasul 10:34-43.
Makna Takut akan Tuhan dan Mengamalkan Kebenaran
Dalam renungan ini, pesan penting diberikan kepada para Pria/Kaum Bapa. Pertanyaan yang muncul adalah: Apakah kita pernah merasa bahwa kita terlalu kecil atau jauh untuk dianggap oleh Tuhan? Mungkin karena kita merasa banyak salah, atau karena kita berpikir bahwa keselamatan dan berkat hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu saja?
Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa Allah tidak membeda-bedakan siapa pun. Dulu, Petrus, seorang Yahudi yang taat, menganggap bahwa berkat Tuhan hanya untuk orang Yahudi. Namun, Allah menunjukkan bahwa hal itu tidak benar. Orang non-Yahudi seperti Kornelius, seorang perwira Romawi, juga bisa diterima oleh Allah jika mereka takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran.
Kornelius adalah contoh nyata dari seseorang yang takut akan Tuhan. Meskipun ia bukan orang Yahudi, ia dikenal sebagai orang saleh yang takut akan Allah. Karena itu, Allah berkenan kepadanya. Takut akan Tuhan bukanlah rasa takut yang sama dengan ketakutan terhadap hantu atau penguasa yang kejam. Dalam konteks Alkitabiah, “takut akan Tuhan” berarti hormat, kagum, dan taat kepada Allah. Ini adalah sikap hati yang menyadari bahwa kita hidup di hadapan Tuhan yang Maha Kudus.
Mengamalkan Kebenaran dalam Kehidupan Sehari-hari
Selain “takut akan Dia”, Alkitab juga menyuruh kita untuk “mengamalkan kebenaran”. Iman bukan hanya sekadar perasaan atau pengetahuan di kepala, tetapi harus nyata dalam perbuatan. Yesus sendiri memberikan teladan sempurna dalam ayat 38: “Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis”. Inilah standar kebenaran yang diajarkan: hidup yang berdampak.
Sebagai Pria/Kaum Bapa, kita dipanggil untuk berdampak positif dengan “berbuat baik” di lingkungan kita. Kita dapat menjadi contoh bagi keluarga, komunitas, dan masyarakat sekitar dengan cara-cara yang benar dan baik.
Peran Yesus dalam Keselamatan
Kornelius memang saleh dan dermawan, tetapi ia tetap membutuhkan Petrus untuk memberitakan Injil. Mengapa? Karena perkenanan Allah yang penuh (keselamatan) hanya didasarkan pada satu pribadi: Yesus Kristus. Petrus kemudian memberitakan inti Injil: Yesus yang tersalib, yang menanggung hukuman dosa kita. Kebangkitan-Nya membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan dan maut telah dikalahkan.
Yesus juga menjadi Hakim dan Juru Selamat bagi siapa pun yang percaya kepada-Nya. Dengan iman kepada-Nya, kita mendapatkan pengampunan dosa dan hidup yang menyenangkan hati-Nya.
Refleksi dan Tindakan
Takut akan Tuhan dan mengamalkan kebenaran adalah respons iman kita kepada kasih karunia yang sudah lebih dulu diberikan. Kita takut akan Tuhan karena kita tahu Dia kudus dan kita sudah ditebus dengan harga mahal. Kita mengamalkan kebenaran karena kita bersyukur dan ingin hidup menyenangkan hati-Nya.
Marilah kita menjadi pribadi seperti Kornelius, tekun berdoa dan takut akan Tuhan. Dan mengikuti teladan Yesus, Sang Kepala Keluarga, kita berkeliling berbuat baik. Maka, kita akan mengalami sendiri bahwa kita adalah “Orang Yang Taket Akan Dia Dan Yang Mengamalkan Kebenaran Berkenan Kepada-Nya”.
Pertanyaan untuk Diskusi PA
- Apa makna “takut akan Dia” dan “mengamalkan kebenaran” menurut Kisah 10:34-43 dan dikaitkan dengan konteks kehidupan P/KB saat ini?
- Mengapa kesaksian tentang Yesus menjadi dasar utama agar seseorang berkenan kepada Allah?
