Pasar otomotif Tiongkok memasuki April 2026 dengan ritme yang melambat. Setelah kuartal pertama ditutup dengan optimisme tinggi, industri kendaraan terbesar di dunia itu justru menghadapi berbagai tekanan kompleks, seperti perang harga yang belum mereda, banyaknya peluncuran model baru, serta konsumen yang lebih memilih menunda pembelian.
Di tengah inovasi yang pesat dan agresivitas produsen, masyarakat Tiongkok tampak semakin waspada dalam mengambil keputusan untuk membeli kendaraan baru. Para analis menyebut bahwa situasi ini dipengaruhi oleh sikap “wait and see” dari konsumen setelah puluhan model diperkenalkan dalam pameran otomotif Beijing pada akhir April. Libur Qingming atau Hari Ziarah Makam juga disebut turut memengaruhi aktivitas pasar.
Data Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok menunjukkan bahwa penjualan ritel kendaraan sepanjang 1–26 April hanya mencapai satu juta unit. Angka tersebut turun 24 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan merosot 19 persen dibandingkan Maret.
Penjualan kendaraan energi baru (NEV) juga mengalami perlambatan. Jumlah penjualannya tercatat 614 ribu unit, turun 11 persen secara tahunan. Meski demikian, tingkat penetrasi kendaraan listrik dan hybrid tetap meningkat di pasar domestik.
Di tengah perlambatan ini, SAIC Motor masih mempertahankan posisi sebagai produsen mobil terlaris di Tiongkok selama empat bulan berturut-turut. Namun, performanya juga ikut terkoreksi. SAIC menjual 328 ribu kendaraan pada April, turun 12,66 persen dibanding tahun sebelumnya. Pelemahan terutama datang dari dua perusahaan patungan mereka. Penjualan SAIC Volkswagen turun drastis menjadi 40 ribu unit, hanya separuh dari capaian April 2025. Sementara pengiriman SAIC General Motors turun 17,3 persen menjadi 34.700 unit.
Di belakang SAIC, BYD terus menempel ketat dengan penjualan 321.100 kendaraan. Meskipun turun 15,5 persen dibanding tahun lalu, angka tersebut naik tujuh persen dibandingkan Maret. Kinerja ekspor menjadi penopang utama BYD. Penjualan luar negeri mereka melonjak 70,9 persen menjadi 134.500 unit pada April, membantu meredam tekanan kompetisi domestik yang semakin sengit.
Dominasi BYD di sektor kendaraan energi baru tetap kokoh. Dalam empat bulan pertama 2026, perusahaan itu telah menjual lebih dari 1,02 juta unit kendaraan NEV.
Sementara itu, Chery menjadi salah satu pabrikan dengan pertumbuhan paling agresif. Penjualan April mereka mencapai 251.400 unit, naik 25,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Ekspor menjadi mesin pertumbuhan utama Chery dengan lonjakan hingga 102,4 persen menjadi 177.600 unit. Penjualan kendaraan energi baru mereka juga naik 63,8 persen hingga mendekati 100 ribu unit.
Geely membukukan penjualan 235.200 unit pada April. Pertumbuhannya memang tipis secara tahunan, hanya 0,4 persen, tetapi meningkat enam persen dibanding bulan sebelumnya. Dari total tersebut, kendaraan energi baru menyumbang sekitar 58 persen atau 135.600 unit. Ekspor Geely bahkan melesat 245 persen dibanding tahun lalu menjadi 83.200 unit.
Produsen lain seperti Changan Automobile juga mulai menikmati hasil strategi multi-merek kendaraan listrik mereka. Penjualan Changan mencapai 209.500 unit pada April. Merek Deepal tumbuh 64,8 persen menjadi 33.200 unit, sementara lini Qiyuan melonjak 159 persen berkat tingginya permintaan seri A dan Q.
Di tengah perlambatan pasar secara umum, perusahaan rintisan justru tampil lebih agresif. Leapmotor menjadi bintang utama April dengan pengiriman 71.400 kendaraan, melonjak 73,9 persen dibanding tahun lalu dan mencetak rekor bulanan baru. Model baru seperti A10 dan D19 langsung mendapat sambutan besar hanya beberapa saat setelah diluncurkan.
Sebaliknya, Li Auto mulai menghadapi tekanan. Pengiriman mereka tercatat 34.100 unit, relatif stagnan dibanding tahun lalu namun turun sekitar 17 persen dari Maret. Persaingan di segmen SUV besar dan hybrid jarak jauh semakin ketat, terutama dari merek-merek yang didukung Huawei, Nio, dan pemain lain.
Aito yang berada di bawah Harmony Intelligent Mobility Alliance milik Huawei mengirimkan 32.800 kendaraan atau naik 18,9 persen secara tahunan. Sementara XPeng mencatat penjualan 31 ribu unit. Kenaikan bulanan ditopang sedan Mona M03 generasi terbaru, meski perusahaan masih dibayangi persoalan profitabilitas dan posisi premium mereka di pasar.
Xiaomi juga mulai menunjukkan peningkatan produksi kendaraan. Pengiriman mobil mereka menembus 30 ribu unit pada April berkat produksi penuh sedan SU7. Namun dengan total pengiriman sekitar 109 ribu unit sepanjang empat bulan pertama, Xiaomi masih menghadapi tekanan besar untuk memenuhi target tahunan mereka.
Sementara itu, Nio mencatat pengiriman 29.400 kendaraan atau naik 22,8 persen dibanding tahun lalu. Strategi multi-merek melalui Nio, Onvo, dan Firefly mulai memperluas portofolio perusahaan, meski sebagian model baru mereka masih menunggu peluncuran lebih luas pada Mei.
Perlambatan April menunjukkan bahwa pasar otomotif Tiongkok kini tidak hanya ditentukan oleh banyaknya model baru atau agresivitas diskon. Konsumen menjadi semakin selektif, sementara produsen harus terus mencari keseimbangan antara volume penjualan, profitabilitas, dan ekspansi global.




