Teknologi EEG untuk Memahami Aktivitas Otak Anak

Brain Visualizer adalah inovasi teknologi yang mampu menampilkan aktivitas otak anak secara real-time. Alat ini menggunakan teknologi electroencephalogram (EEG) yang dikembangkan untuk membantu orangtua memahami cara kerja otak anak ketika bermain maupun belajar. Dengan tiga sensor kering yang aman dan nyaman digunakan, alat ini dapat digunakan bahkan oleh balita sejak usia enam bulan.

Teknologi ini mampu memetakan lima fungsi utama otak, yaitu fokus, memori, pemecahan masalah, kreativitas, dan bahasa. Hasil pemindaian menunjukkan bahwa setiap anak memiliki pola aktivitas otak yang berbeda meski memperoleh stimulasi yang sama. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada dua individu yang memiliki cara berpikir yang identik.

Dengan memahami karakteristik otak anak, orangtua dapat memberikan stimulasi yang lebih tepat sesuai kebutuhan masing-masing. Kehadiran Brain Visualizer diharapkan menjadi sarana edukasi yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Orangtua sering kali kesulitan memahami apa yang terjadi di dalam kepala anak saat bermain atau belajar, meskipun mereka mengamati perilaku dan kebiasaan anak setiap hari.

Untuk mengatasi hal tersebut, hadir inovasi pemindai gelombang elektrik otak bernama Brain Visualizer. Alat ini merupakan hasil kerja sama antara PT Wyeth Nutrition S-26 dengan perusahaan mindtech asal Inggris, Mindplay UK. Brain Visualizer dapat dicoba dalam acara edukatif imersif “S-26 Exceptional Journey: Journey Inside the Brain” yang berlangsung di Senayan City Mall, Jakarta, pada 24–26 Juli 2026.

Membaca Aktivitas Saraf Otak Melalui Visualisasi Langsung

Kolaborasi teknologi bersama ahli neurosains ini menghadirkan pemindai yang mengadopsi teknologi EEG pertama di Indonesia. Perangkat ini dirancang agar masyarakat dapat mengenali minat anak dengan lebih mudah. Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26, Vera Niki Gozali, menyatakan bahwa banyak orangtua dapat melihat aktivitas sehari-hari anak, tetapi tidak mengetahui bagaimana sebenarnya cara kerja otak mereka.

Secara teknis, perangkat ini bekerja dengan membaca aktivitas elektrik pada kepala tanpa memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Ahli neurosains sekaligus pendiri NeuroCreate, dr. Shama Rahman, menjelaskan bahwa instrumen tersebut memantau tingkat perhatian dan relaksasi pengguna saat berinteraksi dengan berbagai permainan.

“Exceptional Brain Visualizer 100 persen aman dan menggunakan tiga sensor kering di dahi untuk mengukur aktivitas gelombang elektrik otak,” jelasnya melalui tayangan video di lokasi pameran. Teknologi tersebut dikemas dalam bentuk yang tidak mengintimidasi sehingga nyaman digunakan, bahkan oleh balita.

“Bahasa gampangnya, Brain Visualizer ini seperti smartwatch, tetapi digunakan untuk melihat apa yang terjadi pada lima fungsi area otak si kecil,” ujar Vera.

Mendeteksi Lima Fungsi Utama Otak

Data aktivitas listrik yang ditangkap tiga sensor kemudian dikirim melalui koneksi Bluetooth ke layar tablet. Pemetaan tersebut mencakup lima fungsi utama otak, yaitu fokus, memori, pemecahan masalah, kreativitas, dan bahasa. Seluruh proses aktivitas otak divisualisasikan secara real-time.

“Melalui alat ini, kita bisa melihat secara real-time mana dari lima milestone perkembangan otak yang terstimulasi berdasarkan berbagai aktivitas yang berbeda,” terang dr. Rahman. Kemampuan perangkat ini diuji langsung kepada Ashton Alexander Fung, anak dengan IQ 145 yang gemar mengeksplorasi berbagai aktivitas.

Saat Ashton diminta menyelesaikan soal matematika yang rumit, layar monitor langsung menampilkan perubahan warna mencolok pada indikator tertentu. “Warnanya makin terlihat condong ke warna pink atau merah, itu berarti fokus. Kalau terlihat warna hijau di ujung kiri otak, itu menunjukkan problem solving,” jelas Vera saat menguraikan grafik aktivitas otak Ashton.

Setiap individu memiliki respons saraf yang berbeda ketika menghadapi tantangan yang sama. Perbedaan tersebut tercermin dari indikator warna yang muncul pada layar.

“Beberapa mungkin berpikir lebih kreatif saat melakukan sebuah aktivitas, sedangkan yang lain mungkin lebih banyak menggunakan keterampilan pemecahan masalah mereka saat melakukan aktivitas yang sama,” tambah dr. Rahman.

Mengungkap Keunikan Cara Kerja Otak Anak

Brain Visualizer dirancang fleksibel untuk berbagai kelompok usia. Vera mengungkapkan perangkat ini bahkan aman digunakan sejak bayi berusia enam bulan. Pemetaan aktivitas listrik otak tersebut menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki pola berpikir yang unik.

“Setiap dari kita memiliki kepribadian yang berbeda, dan hal yang sama berlaku untuk bagaimana pikiran kita bekerja. Tidak ada dua pikiran yang identik sama,” tegas dr. Rahman. Hal serupa juga disampaikan Vera. Menurutnya, visualisasi tersebut mematahkan anggapan bahwa pola asuh yang sama akan menghasilkan bentuk kecerdasan yang sama pada setiap anak.

“Walaupun punya anak kembar, di usia yang sama, lahir dengan stimulasi yang sama, nutrisi yang sama, tidak ada otak yang bekerja sama persis. Pasti punya keunikannya masing-masing,” tutur Vera.

Berbekal hasil pemindaian gelombang otak tersebut, orangtua diharapkan dapat menyesuaikan jenis stimulasi yang diberikan sesuai dengan cara kerja otak masing-masing anak.


Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version