Penjelasan Redaksi Tempo atas Tuduhan Presiden Prabowo Subianto
Setri Yasra, pemimpin redaksi Tempo, memberikan respons terhadap tuduhan yang dilontarkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam pernyataannya, Prabowo menyebut bahwa Tempo tidak pernah menyiarkan berita positif tentang pemerintah dan mengklaim bahwa media ini memiliki kepentingan asing.
Setri menjelaskan bahwa tugas utama pers adalah sebagai pengawas atau watchdog yang bertanggung jawab untuk memantau kinerja pemerintah. “Pers menjadi perpanjangan tangan publik dalam mengontrol pemerintah,” ujar Setri ketika dihubungi pada Ahad, 25 Januari 2026.
Prabowo juga menyebut adanya pengaruh asing yang menyusup ke dalam media, termasuk Tempo. Dalam pidatonya di depan seribuan guru besar dan rektor universitas di Istana Negara pada 15 Januari 2026, ia menuding Tempo tidak pernah meliput keberhasilan pemerintah, seperti soal swasembada pangan.
Dalam pertemuan tersebut, tiga akademikus yang hadir menyampaikan bahwa Prabowo melemparkan dugaan bahwa pihak asing berada di balik pendanaan redaksi Tempo. Selama pidato, Prabowo meminta para akademikus mendukung pemerintah dalam menangkal masuknya intervensi asing. Namun, hingga saat ini, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi belum merespons tudingan tersebut.
Setri menilai tuduhan Prabowo tidak berdasar. Ia menyatakan bahwa Tempo telah berulang kali menulis tentang program swasembada melalui liputan proyek food estate sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono hingga Joko Widodo dan Prabowo sendiri.
Menurut Setri, fungsi media adalah untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dan mengapresiasi jika program itu baik dan bermanfaat. Sebagai media independen, Tempo tidak boleh menjadi corong atau oposisi pemerintah.
Proses Peliputan dan Verifikasi Informasi
Dalam proses peliputannya, redaksi Tempo akan menguji klaim pemerintah. “Produk jurnalistik yang tayang di seluruh platform Tempo adalah fakta yang terjadi di lapangan dan telah melewati verifikasi serta dilengkapi dengan cover both side,” jelas Setri.
Sebelumnya, Tempo sering dituduh sebagai antek asing. Pada Maret 2025, sebuah video berdurasi 2 menit 30 detik yang diunggah akun anonim di TikTok dan WhatsApp menyiarkan informasi bahwa PT Info Media Digital (IMD), anak perusahaan Tempo, menerima pendanaan dari Media Development Investment Fund (MDIF) pada Juli 2024.
Narator video tersebut menyebut bahwa MDIF adalah organisasi di Amerika Serikat yang didanai oleh George Soros Economic Fund. George Soros, dalam konten itu, dituding sebagai dalang utama di balik krisis moneter Indonesia pada 1997–1998.
Konten tersebut menampilkan kompilasi video pidato Prabowo Subianto saat menyebut ada media yang dimiliki asing, rekaman Bocor Alus Politik–siniar milik Tempo, dan berita krisis moneter periode 1997–1998.
Investasi MDIF dan Independensi Redaksi
Tempo dan MDIF telah mempublikasikan kesepakatan investasi dalam pemberitaan dan rilis publik. Pengumuman mengenai kerja sama bisnis itu dimuat di media massa, seperti CNBC dan Kontan. Dana dari MDIF berbentuk surat utang yang dapat dikonversi (convertible performance debenture). Mayoritas saham IMD dikuasai Tempo Inti Media.
MDIF juga mengumumkan bahwa investasi mereka kepada organisasi media tidak mempengaruhi independensi organisasi itu. Pada Maret 2025, Setri menyatakan bahwa keterbukaan ini menunjukkan bahwa independensi ruang redaksi Tempo tak akan terpengaruh dengan investasi MDIF.
Menurut Setri, sebagai perusahaan terbuka, struktur kepemilikan saham Tempo dapat diakses publik. “Tempo memilih MDIF karena mereka berkomitmen untuk tidak mencampuri urusan independensi ruang redaksi,” kata Setri.
Liputan Lengkap Mengenai Pernyataan Prabowo
Liputan lengkap mengenai Prabowo dan pernyataannya soal antek asing dapat dibaca dalam laporan Tempo berjudul “Mengapa Prabowo Menuduh Tempo sebagai Antek Asing” dan versi cetak berjudul “Apa-apa Antek Asing” edisi 25 Januari 2026.





