Kehidupan Seorang Ustadz Muda di Banjarmasin
Di satu sudut Jalan Belitung, Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar indah. Tempat sederhana itu dikelola oleh seorang pemuda 21 tahun bernama Muhammad Rais Ash-Shiddieqy. Rais melanjutkan jejak sang ayah yang juga seorang ustadz. Di usianya yang masih muda, dia mengajari mengaji anak-anak di lingkungan sekitarnya.
Meski jumlah muridnya tidak banyak, bagi Rais, menjaga keberlanjutan ilmu jauh lebih penting daripada sekadar angka. Ia percaya bahwa membimbing anak-anak dalam belajar Al-Qur’an adalah bagian dari tanggung jawab sebagai seorang muslim. Dari kecil, ia sudah terbiasa melihat ayahnya mengajar mengaji di rumah. Dari situ, ia pelan-pelan paham bahwa mengajar Al-Qur’an bukan hanya sekadar rutinitas, tapi juga bagian dari kewajiban berbagi ilmu.
Apa yang Menginspirasi Rais untuk Berperan di Masyarakat?
Sejak kecil, Rais sudah terbiasa melihat ayahnya mengajar mengaji di rumah. Dari situ, ia mulai memahami bahwa mengajar Al-Qur’an bukan hanya soal rutinitas, tetapi juga tanggung jawab sebagai seorang muslim. Awalnya, ia hanya membantu, mendampingi, atau ikut duduk. Tapi lama-lama tumbuh rasa ingin melanjutkan apa yang sudah dilakukan ayahnya.
Selain itu, Rais merasa bahwa ilmu agama harus dibagikan, walaupun dengan cara sederhana. Ketika ia merasa cukup mampu, ia berani untuk mengajar, meskipun hanya dari lingkungan sekitar dulu.
Teladan yang Ingin Diajarkan kepada Anak-Anak
Untuk anak-anak, Rais selalu menekankan bahwa mengaji bukan hanya tentang bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka belajar adab. Misalnya, bagaimana bersikap kepada orangtua, guru, dan teman. Ia juga ingin mereka terbiasa dengan hal-hal baik sejak kecil, seperti disiplin waktu, datang tepat waktu saat mengaji, dan menghargai proses belajar.
Menurut Rais, jika adabnya sudah tertanam, maka ilmunya akan mengikuti dengan sendirinya. Ia tidak ingin anak-anak hanya pintar membaca, tetapi juga memiliki akhlak yang baik.

Motivasi untuk Tetap Istikamah Meski Murid Tidak Banyak
Jujur saja, kadang Rais merasa sedikit kecewa karena jumlah muridnya tidak banyak. Tapi ia mencoba kembali ke niat awal. Ia tidak mengajar untuk mengejar jumlah murid, tapi untuk menjalankan kewajiban berbagi ilmu. Ia percaya bahwa dalam kebaikan, yang dilihat bukan jumlahnya, tapi keikhlasan dan konsistensinya.
Walaupun hanya satu atau dua anak yang datang, jika itu bisa menjadi amal jariyah dan memberi manfaat bagi mereka ke depan, itu sudah cukup. Selain itu, ia merasa ini bagian dari proses belajar sendiri. Dengan mengajar, ia jadi ikut mengulang dan memperbaiki bacaan serta pemahaman dirinya.
Ayat atau Hadis yang Menjadi Pegangan
Satu di antara hadis yang selalu Rais ingat adalah riwayat Imam Bukhari yang menyebutkan, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” Dari situ, ia merasa bahwa apa yang ia lakukan ini, walaupun kecil, tetap punya nilai besar kalau dijalankan dengan niat yang benar.
Selain itu, ia percaya bahwa ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya, bahkan ketika ia sudah tidak ada. Itu yang membuatnya ingin terus istikamah, karena ini bukan hanya untuk sekarang, tapi juga untuk bekal jangka panjang.
Menyikapi Perkembangan Teknologi dan Zaman
Rais mengatakan bahwa anak-anak sekarang tidak bisa dilepaskan dari teknologi, terutama gadget. Ia tidak bisa hanya melarang, karena itu bagian dari zaman mereka. Yang bisa dilakukan adalah mengarahkan. Misalnya, tetap mengaji, tapi juga mengenalkan teknologi bisa digunakan untuk hal yang baik, seperti belajar membaca Al-Qur’an lewat aplikasi, mendengar murottal, atau mencari ilmu agama.
Ia percaya bahwa teknologi itu netral, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Jika diarahkan dengan baik, justru bisa menjadi sarana pendukung dalam belajar.
Pesan untuk Generasi Muda Saat Ini
Pesan Rais untuk generasi muda adalah jangan terlalu cepat merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki. Kadang kita merasa nyaman di zona kita sendiri, padahal masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk orang lain. Cobalah cari kegiatan yang bermanfaat, sekecil apa pun itu. Tidak harus langsung besar, yang penting konsisten dan punya niat baik.
Dari situ, kita belajar arti tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dan yang tidak kalah penting, tetap menjaga nilai-nilai agama di tengah perkembangan zaman. Karena itu yang akan menjadi pegangan kita dalam menjalani hidup.
Investasi Akhirat
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin, Habib Ali Al-Kaff, memberikan apresiasi terhadap langkah yang dilakukan Rais dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di lingkungannya. Menurut Habib Ali, di tengah perkembangan zaman, istikamah dalam mengajarkan Al-Qur’an menjadi hal yang sangat berharga dan patut dijaga.
Dia berpesan agar Rais tetap menjaga niat dan keikhlasan dalam setiap langkah dakwahnya. Sebab, mengajarkan Al-Qur’an bukan hanya soal aktivitas duniawi, tetapi juga berkaitan erat dengan bekal akhirat.
“Teruslah istikamah dalam mengajarkan Al-Qur’an dan luruskan niat hanya mengharap balasan dari Allah Subhannahu Wa Ta’ala,” ucap Habib Ali.
Dia juga mengingatkan tentang keutamaan Al-Qur’an sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: “Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi siapa saja yang menjadikannya sebagai pedoman hidup.”
Ali menyebut, orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan golongan terbaik di sisi Allah. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang menyebutkan, “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an.”
Tak hanya itu, ia mengutip perkataan sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, yang menyebut, “Dalam Al-Qur’an terkandung ilmu orang terdahulu hingga ilmu di akhir zaman.”
Habib Ali turut mengajak masyarakat untuk mulai menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini kepada anak-anak. Menurut dia, pembelajaran Al-Qur’an bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga menjadi fondasi dalam membentuk karakter, kecerdasan emosional, hingga kedekatan spiritual anak kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
“Orangtua adalah madrasah pertama. Ajarkan anak mengaji dengan kasih sayang, bukan paksaan, agar menjadi pedoman hidup yang kuat,” tutur dia.
Ali mengatakan, membimbing anak membaca Al-Qur’an juga menjadi investasi akhirat bagi orangtua. Sebab, anak yang saleh dan terbiasa mengaji akan menjadi sumber doa yang tidak terputus.
“Ini bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk orang tua. Pahalanya akan terus mengalir,” pungkasnya.




