Pengalaman Menteri Iftitah Sulaiman dalam Tugas di Lebanon
Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman mengenang kembali momen 20 tahun lalu ketika ia masih bertugas sebagai prajurit TNI. Saat itu, ia berpangkat letnan satu dan ditugaskan untuk pertama kalinya ke misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Ia bersama dua politikus lainnya dari Partai Demokrat menjadi pasukan TNI gelombang pertama yang dikirim bertugas ke Lebanon. Dua prajurit TNI lainnya yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ossy Darmawan.
Iftitah mengatakan, saat ia berangkat, pangkatnya masih letnan satu. Namun, selama tugas di Lebanon, ia naik pangkat menjadi kapten. Ia berangkat menuju Pelabuhan Beirut dengan menumpang kapal kargo berbendera Amerika Serikat (AS) dari Jakarta pada 4 November 2006. Ia merupakan satu dari 850 prajurit TNI yang saat itu dikirim bertugas untuk misi UNIFIL.
Tugas utamanya adalah mengawal logistik batalion mekanis agar tiba dengan selamat sampai di Lebanon. Rute yang ditempuh mulai dari Jakarta, melewati Selat Malaka, lalu menuju ke perairan Somalia, lalu ke Terusan Suez dan tiba di Beirut. Ia bertugas di Lebanon selama satu tahun, durasi terlama dibandingkan biasanya sembilan bulan.
Tugas Iftitah Menjaga Makam yang Diperebutkan Israel dan Lebanon
Salah satu tugas menarik yang disampaikan oleh Iftitah adalah menjaga situasi kondusif di area makam yang diperebutkan oleh warga Israel dan Lebanon. Lokasi makam tersebut terbelah dua dan dipisahkan oleh pagar. Iftitah menjelaskan bahwa makam tersebut memiliki sejarah yang berbeda dari masing-masing pihak. Lebanon mengklaim makam Syekh Abbad yang meninggal 500 tahun yang lalu, sementara Israel mengklaim makam Rabbi Assy yang meninggal 1.500 tahun yang lalu.
Namun, Iftitah melihat dari sudut pandang personel militer, wajar bila lokasi makam itu menjadi rebutan. Sebab, lokasi makam berada di wilayah yang tinggi. Lokasi makam yang cukup tinggi menyebabkan ada ruang untuk manuver maupun tembakan yang cukup bagi siapapun yang menguasai bukit itu. Di militer, mereka menyebutnya medan kritik.
Iftitah melakukan serah terima pengamanan dengan pasukan asal Spanyol. Tetapi, pasukan UNIFIL asal Spanyol memberikan aturan tidak tertulis agar pasukan UNIFIL tak membawa senjata ketika berpatroli ke area makam. Alasan Spanyol agar tidak membuat tensi dengan pasukan Israel (IDF). Jadi, jangan sampai kita dianggap membuat provokasi.
Iftitah juga menyebut, sebagai pasukan UNIFIL mereka menjalankan mandat chapter 6.5 PBB. Artinya, meskipun mereka pasukan penjaga perdamaian tetapi dibolehkan membawa senjata untuk membela diri.
Pasukan UNIFIL Indonesia Inisiasi Mobil Perpustakaan Keliling
Iftitah juga menceritakan strategi yang digunakan oleh pasukan UNIFIL asal Indonesia untuk membangun hubungan baik dengan warga Lebanon yang berada dekat markas. Kebijakan itu disebut Civic Military Cooperation (CMI). Pasukan UNIFIL asal India berinisiatif membantu membuatkan kaki palsu bagi warga Lebanon.
Sementara, Iftitah dan AHY mencetuskan ide penggunaan mobil pintar yang sudah diinisiasi oleh Ani Yudhoyono di Tanah Air. Mereka membuat satu mobil yang didesain dengan teknologi digital, buku-buku, permainan dan sebagainya. Iftitah menjelaskan, anak-anak dari warga sekitar harus disentuh hatinya supaya berempati terhadap pasukan UNIFIL asal Indonesia. Usai mereka menggunakan fasilitas mobil perpustakaan keliling itu, diharapkan anak-anak tersebut akan menceritakan kembali ke orang tuanya.
Orang tuanya kan akan memiliki semacam penerimaan kepada kita. Strategi kedua untuk mengambil hati warga Lebanon yakni ketika berpatroli, kontingen Garuda tidak mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Mereka akan melewati dengan kecepatan pelan sambil menyapa warga sekitar. Ternyata itu menyentuh hati mereka.
Banyak Prajurit UNIFIL Gugur Saat Bertugas
Lebih lanjut, Iftitah mengatakan, salah satu hikmah mendalam usai ditugaskan selama 12 bulan di Lebanon yakni agar tidak ada lagi peperangan. Ia menyebut, selama satu tahun bertugas di sana, Iftitah melihat sendiri sejumlah prajurit UNIFIL gugur akibat terkena serangan.
Ada satu prajurit UNIFIL dari Prancis gugur karena terkena ranjau. Iftitah ikut mengantar jenazahnya ketika itu. Kemudian, peristiwa tragis menimpa kontingen UNIFIL asal Spanyol. Pada hari Minggu mereka menerima medali kehormatan PBB karena keesokan harinya akan kembali ke negara asal. Tetapi Minggu sore mereka kena bom dan enam prajurit meninggal dunia. Jadi itu cukup mengejutkan dan kami semua turut berbela sungkawa.
