Pengalaman Berobat yang Membuat Lelah dan Putus Asa
Pernahkah Anda mengalami pengalaman berobat yang membuat lelah? Datang dengan penuh harapan berharap dapat mendapatkan kesembuhan, namun di tengah proses itu antrean yang panjang, alur yang berjenjang, dan suasana yang tidak nyaman justru menguras tenaga. Bukan hanya rasa sakit yang membuat seseorang lelah, tetapi juga pengalaman berobat yang tidak manusiawi.
Yang sebenarnya membuat orang miskin merasa lelah dan putus asa bukanlah hidupnya, melainkan cara mereka diperlakukan. Seringkali mereka disalahkan atau dimarahi saat berobat, atau dipersulit dalam meminta bantuan. Empati yang tidak hadir bukan hanya karena kemiskinan, tetapi juga rasa dipermalukan. Tidak sedikit dari mereka yang trauma ketika datang untuk berobat, sehingga pengalaman tersebut justru membuat mereka lebih lelah daripada rasa sakit itu sendiri.
Antrean yang panjang, bolak-balik alur yang tidak simpel, serta bahasa pelayanan petugas yang dingin menjadi faktor utama keengganan masyarakat kecil untuk datang ke fasilitas kesehatan. Takut biaya dan administrasi yang ribet sering kali lebih menakutkan daripada penyakit itu sendiri. Mereka takut ke fasilitas kesehatan karena biaya, takut dirujuk karena transportasi, dan juga takut kehilangan gaji hariannya.
Pengalaman Seorang Warga yang Mengalami Pelayanan Kesehatan yang Tidak Memadai
Bayangkan saja pengalaman dari salah satu warga yang pernah memulai perjalanan menemani istrinya berobat. Ia membawa kedua anaknya yang masih kecil ke puskesmas. Saat di puskesmas, ia diminta untuk menunggu giliran dipanggil. Tanya jawab tidak lebih dari 5 menit dengan petugas, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan oleh dokter untuk mendapatkan persetujuan rujukan ke faskes lebih tinggi, yaitu rumah sakit.
Istrinya mengalami benjolan di bagian punggung, dan anak pertamanya izin tidak masuk sekolah karena sang ayah ikut mendampingi istri berobat. Kedua anaknya dibawa, termasuk salah satu yang belum bisa berjalan sehingga harus digendong sepanjang pelayanan. Suami yang menemani adalah pekerja buruh perkebunan sawit yang sedang mengambil cuti untuk menemani istri berobat.
Setelah hampir 2 jam di puskesmas, akhirnya mendapatkan rujukan ke rumah sakit. Jarak yang lumayan pun ditempuh, tiba di rumah sakit kembali ke bagian pendaftaran dan diminta menunggu. Singkat cerita, setelah menunggu antrean di pendaftaran sampai ke poli penyakit dalam, barulah tiba giliran dipanggil untuk menghadap dokter hampir 4 jam setelahnya. Pemeriksaan tidak lebih dari 15 menit, mereka keluar dengan rekomendasi untuk periksa lab, dan diminta kontrol di bulan berikutnya. Akhirnya, mereka pulang dengan sisa-sisa kekuatan. Sehari sudah waktunya hilang dengan lelah. Ini bukan salah fasilitas kesehatan atau petugasnya, tetapi sistem yang tidak memanusiakan.
Masalah yang Terus Dialami Oleh Masyarakat
Realitas ini akan terus dialami oleh masyarakat, terutama yang menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Antrean lama dan panjang, alur yang di bolak-balik, konsultasi petugas yang singkat, dan akhirnya pulang dengan tanda tanya. Persoalan ini tidak berpihak kepada masyarakat menengah ke bawah yang memiliki pengorbanan upah harian yang terpaksa hilang. Bagi pekerja upah bulanan, izin ini akan mengorbankan waktu dan penghasilannya yang juga dipotong, ditambah biaya perjalanan dan uang makan. Pada kondisi inilah masyarakat kecil lebih memilih untuk menerima dengan lapang.
Fasilitas kesehatan juga tidak kalah melelahkannya menghadapi sistem seperti ini. Bukan berarti ini mudah bagi petugas kesehatan di pelayanan. Sistem yang memaksa mereka untuk melayani dengan cara yang kurang manusiawi juga membuat hati dan pikiran petugas lelah. Sistem yang memaksa alur terlayani dengan digital dan aplikasi, panjang, rumit, dan dengan beban kerja yang tinggi ini membuat petugas ikut kewalahan.
Layanan Kesehatan yang Harus Lebih Baik
Layanan kesehatan kita harus hadir bukan hanya secara angka dan prosedur, tetapi bagaimana layaknya masyarakat yang berobat diperlukan diperlakukan dengan adil. Tentunya sebagai manusia bukan objek yang menghasilkan keuntungan dari sebuah pelayanan. Dari sisi ini, kemanusiaan harus hadir melayani bukan sekadar prosedur yang perlu ditaati. Bagaimana akhirnya datang untuk berobat untuk menyembuhkan setidaknya membawa harapan bukan rasa lelah yang muncul sampai di rumah.
Prioritas kita adalah mencari solusi dari pelayanan kesehatan yang rumit ini. Administrasi yang berbelit-belit akibat antrean yang mengular, dokumen yang tidak lengkap karena kompleksnya prosedur. Ada pula yang akses menjadi penghalang seperti lokasi jauh, biaya perjalanan rujukan menggunakan ambulans, dan terkadang tidak terinventarisasinya kepesertaan BPJS Kesehatan masyarakat sehingga harus mengurus ulang seperti tidak aktif lagi, atau tidak bisa digunakan.
Resolusi 2026 untuk Pelayanan Kesehatan yang Lebih Baik
Resolusi 2026 menjadi harapan bagaimana pelayanan kesehatan harus lebih baik dari sebelumnya. Sejumlah persoalan ini menegaskan bahwa sistem pelayanan kita masih prematur dan tidak berpihak untuk seluruh kelompok masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah atau miskin. Belum lagi temuan-temuan yang pernah diungkapkan oleh Ombudsman RI pada tahun 2024 berupa penyimpangan prosedur, pelayanan yang ditolak, hingga perilaku tidak pantas dari petugas pada layanan kesehatan.




