Penjelasan Sabrang Mowo Damar Panuluh tentang Perannya sebagai Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
Sabrang Mowo Damar Panuluh, putra dari cendekiawan nasional Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), menegaskan bahwa posisinya sebagai Tenaga Ahli (TA) di Dewan Pertahanan Nasional (DPN) bukanlah untuk membuat kebijakan, melainkan memberikan masukan strategis. Ia memposisikan diri sebagai “indra mata, akal, dan telinga” bagi negara dalam memberikan rekomendasi terhadap situasi risiko bangsa.
Sebagai vokalis band Letto dan penggerak intelektual di simpul Maiyah, Sabrang lebih sering terlihat memberikan kritik tajam serta analisis mendalam mengenai persoalan bangsa melalui forum-forum diskusi independen. Pelantikannya sebagai TA DPN cukup mengejutkan mengingat latar belakangnya yang selama ini dikenal sebagai figur merdeka di luar lingkaran kekuasaan.
Banyak yang meragukan apakah Sabrang akan tetap mempertahankan kekritisannya atau justru larut dalam sistem. Namun, Sabrang menjelaskan bahwa perannya murni bersifat teknis substansial untuk kepentingan negara. Ia menyatakan bahwa tenaga ahli tidak membuat peraturan, melainkan memberi masukan kepada pemerintah.
Alasan Masuk ke DPN
Sabrang menegaskan bahwa ia masuk ke DPN bukan sebagai bagian dari pemerintah, melainkan sebagai bagian dari negara. Ia menjelaskan bahwa sistem pemerintahan yang bersifat politis lima tahunan berbeda dengan sistem negara. Menurutnya, ia masuk pada posisi negara bukan pada posisi pemerintah.
Ia juga menjawab skeptisisme para pengikutnya dengan memposisikan diri sebagai subjek uji coba untuk sebuah standar baru. Ia ingin menciptakan framework (kerangka kerja standar) bagaimana pejabat melaporkan atau berinteraksi dengan rakyat. Ia berharap ini menjadi standar dari semua pejabat kita, yang bisa dengan dingin melihat masalah, mengakui bahwa masalah itu ada, tidak lari dari masalah, bisa merespon dengan jujur, apa adanya, transparan, dan punya komitmen yang bisa dilihat bersama.
Kompetensi Pertahanan dan ‘Cognitive War’
Menanggapi keraguan publik soal kompetensinya di bidang pertahanan nasional, Sabrang menjelaskan bahwa ancaman negara modern telah berevolusi melebihi sekadar perang fisik atau kinetik. Ia menegaskan bahwa ia bukan jenderal dan tidak akan pura-pura ngerti taktik militer atau perang-perang kinetik. Namun, ia menekankan bahwa negara hancur bisa karena berbagai bentuk perang, termasuk perang ekonomi, genetik, fisik, dan yang paling modern adalah perang kognitif.
Perang kognitif adalah bentuk peperangan modern yang target utamanya bukan lagi fisik atau wilayah, melainkan otak dan persepsi manusia. Ia menyatakan bahwa perang kognitif sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang sedang terfragmentasi (fractured). Perang kognitif berhubungan dengan yang kita pakai sehari-hari, dan mempengaruhi otak bisa menghancurkan negara.
Independensi dan Janji Mundur
Mengenai kekhawatiran publik bahwa dirinya akan kehilangan kekritisan, Sabrang memastikan integritasnya tetap terjaga. Ia menyatakan mulutnya tidak akan bisa “dipinjam” oleh pemerintah maupun netizen/buzzer. Ia menegaskan bahwa tanggung jawabnya terhadap mulutnya adalah milik Tuhan.
Sebagai bentuk akuntabilitas, Sabrang membuat komitmen terbuka terkait hasil kerjanya. Ia akan menyampaikan rekomendasinya ke publik jika diperlukan. Jika tidak didengarkan, ia akan mundur dengan mudah. Ia menegaskan bahwa jika ia tidak berguna di sana, maka ia akan keluar.
Pelantikan 12 Pakar dan Penguatan Strategis DPN
Sebagai informasi, total ada 12 orang pakar dari berbagai disiplin ilmu yang dilantik sebagai tenaga ahli di DPN berdasarkan Keputusan Ketua Harian DPN Nomor: KEP/3/KH/X/2025. Sabrang dilantik sebagai Tenaga Ahli Madya yang setara dengan pejabat Eselon 2. Pengangkatan ini merupakan langkah nyata Kemhan dalam mengintegrasikan keahlian akademis dan praktis guna mendukung kelancaran tugas-tugas Dewan Pertahanan Nasional.
Jejak Akademis Sabrang di Kanada: Sarjana Ganda Matematika dan Fisika
Sabrang yang kini berusia 46 tahun, menamatkan SMA di Yogyakarta. Setelah tamat SMA, Sabrang melanjutkan studi ke University of Alberta, Kanada, sebuah perguruan tinggi bergengsi yang masuk jajaran elite top 5 nasional dan peringkat 100–150 global. Reputasi kampus tersebut sangat kuat, terutama di bidang riset dan inovasi, sehingga menjadi tempat yang menantang sekaligus prestisius bagi Sabrang untuk menempuh dua jurusan sekaligus: matematika dan fisika.
Krisis moneter membuat Sabrang harus bekerja paruh waktu untuk bertahan hidup, namun ia berhasil menyelesaikan studi dengan gemilang. Pada 2003, Sabrang resmi meraih gelar Bachelor of Science di kedua bidang tersebut. Dalam kehidupan pribadi, Sabrang menikah dengan Fauzia Fajar Putri Khaeruddin (Uci) pada 19 Februari 2009 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, dan hubungan keluarganya berjalan harmonis hingga kini.





