Komunitas Sadar Belajar mengungkapkan risiko yang terjadi akibat penggunaan APAR oleh suporter PSS Sleman yang berpotensi membahayakan penonton disabilitas dalam pertandingan melawan Barito Putera, pada hari Sabtu (31/1/2026).
Insiden tersebut sangat mengecewakan bagi komunitas Sadar Belajar Indonesia. Mereka bekerja sama dengan PSS Sleman untuk memberikan pendampingan dan ruang khusus bagi penonton disabilitas.

Penggunaan APAR dalam pertandingan tersebut menyebabkan asap yang menutup jalur evakuasi bagi penonton disabilitas.
“APAR dinyalakan sekitar 10 meter dari tribun disabilitas, tepat di area ramp yang merupakan satu-satunya akses keluar-masuk bagi penonton disabilitas,” tulis pernyataan Sadar Belajar melalui Instagram.

Situasi saat itu sedang hujan deras. Relawan masih membantu teman-teman difabel memakai jas hujan ketika tiba-tiba asap APAR muncul sangat tebal.
“Asap terbawa angin langsung ke arah tribun disabilitas dan menutup akses evakuasi, membuat penonton difabel dan pendamping tidak dapat berpindah tempat dan menunggu hingga asap mereda,” tambahnya.
Kejadian ini menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa takut bagi para penonton disabilitas.
- Penonton difabel netra tidak memiliki informasi visual dan mengalami paparan asap tanpa adanya peringatan.
- Penonton dengan disabilitas fisik kehilangan akses evakuasi karena ramp tertutup asap.
- Bagi pendamping, paparan asap menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, dan kepanikan.
Untuk itu, Sadar Belajar mengingatkan agar insiden serupa tidak terulang. Kejadian ini menjadi pembelajaran bersama.
“Kita semua perlu tahu bahwa aksesibilitas bukan hanya soal tempat duduk. Tetapi juga termasuk keamanan, informasi dan kesempatan yang setara untuk menyelamatkan diri,” tulis Sadar Belajar.
“Tanpa itu, ruang yang disebut ramah disabilitas bisa berubah menjadi ruang yang berbahaya.”
“Bahwa, ekspresi kekecewaan tidak boleh membahayakan keselamatan orang lain. Bahwa area disabilitas harus diperlakukan sebagai zona prioritas keselamatan, bukan area yang bisa terdampak begitu saja.”
“Bahwa literasi penonton tentang risiko, alat keselamatan dan dampaknya pada kelompok rentan masih sangat dibutuhkan.”
“Sejatinya sepak bola adalah untuk semua, dan untuk semua berarti aman bagi semua tanpa terkecuali,” tambahnya.
Akibat insiden ini, PSS Sleman sendiri sudah melaporkan oknum pelaku agar ditindak oleh pihak berwenang.
Manajemen Super Elja juga terus memantau perkembangan korban berjumlah 7 orang yang dilarikan ke rumah sakit.
“Peristiwa tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi Manajemen PSS Sleman, untuk memastikan peristiwa serupa tidak terulang,” bunyi pernyataan PSS Sleman.
“Dari lubuk hati, marilah kita bersama-sama membangun prestasi dan menjaga nama baik PSS Sleman dan Sepak Bola Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu Komdis PSSI langsung memberikan hukuman berupa sanksi bertanding tanpa penonton di Stadion Maguwoharjo dalam 4 laga dan denda 15 juta.
“Terdapat spanduk bermakna umpatan kepada klub PS Barito Putera serta adanya suporter PSS Sleman dari Tribun Barat Utara yang dengan sengaja membuka dan menggunakan alat pemadam api ringan,” demikian rilis Komdis PSSI yang diterima Infomalangraya.net.
“PSS Sleman diberikan sanksi dilarang menyelenggarakan pertandingan dengan penonton sebanyak 4 pertandingan.”
“Denda sebesar 15 juta rupiah.”





