Tren Aktivitas Penggalangan Dana di Pasar Saham

Beberapa perusahaan terkemuka di pasar modal sedang gencar melakukan berbagai aktivitas penggalangan dana melalui mekanisme seperti private placement maupun rights issue. Investor perlu memperhatikan dengan cermat ketika berinvestasi pada emiten yang menggelar aksi korporasi tersebut. Berikut adalah beberapa contoh perusahaan yang baru-baru ini melakukan aksi korporasi.

PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS)

PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) baru saja menerima dana segar sebesar Rp 7,97 miliar melalui aksi korporasi Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Dalam aksi korporasi ini, DGNS menerbitkan 29,65 juta saham baru dengan nominal Rp 269 per saham. Seluruh saham baru tersebut diserap oleh Gene Richard, selaku investor individu dan tidak terafiliasi dengan perusahaan.

Tujuan dari penggunaan dana private placement ini adalah untuk pengembangan usaha perseroan dalam bentuk modal kerja, penambahan outlet, pembelian saham dan aset atau penyertaan saham pada satu atau lebih perusahaan di industri yang relevan dengan kegiatan usaha grup perseroan.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga berencana melakukan private placement hingga 2,44 miliar saham atau 10% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh perusahaan. Dana yang diperoleh dari private placement ini akan digunakan oleh MDKA untuk kebutuhan modal kerja dan pengembangan usaha perusahaan dan grup perusahaan.

PT Equity Development Investment Tbk (GSMF)

Selain itu, ada PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) yang berencana melakukan private placement dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,4 miliar saham baru Seri C dengan nominal Rp 100 per saham. Dana hasil private placement akan digunakan GSMF untuk mempercepat pengembangan bisnis, memperkuat struktur permodalan, serta mendukung kelancaran kegiatan usaha perusahaan dan entitas anak.

Di luar itu, ada PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME) yang turut mengumumkan agenda private placement pada akhir April 2026 lalu.

Aksi Korporasi Lainnya

Sejumlah emiten juga mengumumkan rencana Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue belakangan ini. Contohnya adalah PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang hendak menerbitkan sekitar 13,5 miliar saham baru Seri B lewat rights issue dengan nominal Rp 100 per saham. Dana yang diperoleh dari aksi korporasi ini akan dipakai untuk mendukung belanja modal serta kebutuhan modal kerja, baik untuk ENRG maupun anak usahanya.

Emiten Grup Bakrie lainnya, yaitu PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) juga berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan sebanyak 25 miliar saham baru. Tujuan penggunaan dananya untuk tambahan modal kerja serta penyertaan modal ke anak usaha. Ada pula PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) yang berencana melaksanakan rights issue Jilid II dengan menerbitkan sebanyak 5,7 miliar saham baru yang disertai penerbitan hingga sekitar 3,8 miliar waran. Dana hasil rights issue tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan serta mengakuisisi pabrik Mayne Pharma di Australia Selatan.

Pandangan Analis

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, tren private placement dan rights issue yang cukup ramai sejak April 2026 menunjukkan bahwa kebutuhan pendanaan emiten masih cukup besar. Namun, tujuan aksi korporasi ini tidak selalu murni ekspansi, karena ada juga yang digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, modal kerja, akuisisi, hingga perbaikan neraca.

Ramainya private placement dan rights issue juga dapat diartikan bahwa likuiditas di pasar saham sebenarnya masih tersedia, meski kondisi pasar sedang volatil. Namun, perlu diingat bahwa likuiditas tersebut bersifat lebih selektif. Investor masih bisa menyerap aksi korporasi apabila prospek bisnisnya jelas, penggunaan dananya produktif, harga pelaksanaannya menarik, serta ada dukungan dari pemegang saham utama atau investor strategis.

Potensi Dilusi

Meskipun private placement dapat menjadi cara cepat bagi emiten untuk mendapatkan dana sekaligus pintu masuk investor strategis, potensi dilusi tetap perlu diwaspadai. Dalam hal ini, private placement dapat menekan kepemilikan investor lama karena tidak semua investor bisa ikut. Begitu juga dengan rights issue yang tetap membawa risiko dilusi jika pemegang saham tidak menebus haknya.

Contohnya, private placement MDKA berpotensi menimbulkan dilusi bagi pemegang saham sekitar 9,09%. Rights issue VKTR dan PYFA bahkan diperkirakan menimbulkan dilusi yang lebih besar yakni masing-masing 36,36% dan 45,69%.

Rekomendasi Investasi

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menyebut, jika private placement atau rights issue kurang dioptimalkan, maka akan menyebabkan derating valuation atau penurunan valuasi sebagai akibat dari jumlah saham beredar yang lebih banyak, sehingga harga saham emiten pelaksana aksi korporasi tersebut berpotensi turun.

Namun, jika emiten dapat dengan gesit menggunakan dana hasil private placement atau rights issue, maka performa dan harga sahamnya akan naik meskipun jumlah saham beredar lebih banyak. Harry merekomendasikan beli saham ENRG dengan target harga di level Rp 2.300 per saham.

ENRG Chart

by TradingView

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version