Klarifikasi Jusuf Kalla Mengenai Dugaan Penistaan Agama
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), memberikan klarifikasi terkait dugaan penistaan agama saat ia berceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026. Dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya di Jalan Brawijaya IV Nomor 12, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026), JK juga menyampaikan pernyataan mengenai ijazah palsu Joko “Jokowi” Widodo.
1. JK Memutar Video Konflik Poso
Saat jumpa pers dimulai, JK memutarkan video mengenai konflik Poso, Sulawesi Tengah, pada 1998 hingga 2001 dan konflik Ambon pada 1999 hingga 2002. Ia menjelaskan perannya sebagai penengah dalam meredakan kedua konflik tersebut. Selain itu, JK juga membahas asal mula munculnya tudingan penistaan agama. Menurutnya, tuduhan itu terjadi tepat setelah ia melaporkan ahli digital forensik, Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri. Rismon dilaporkan ke polisi atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik. Rismon menuding JK mendanai kasus ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko “Jokowi” Widodo.
2. JK Bahas Soal Ijazah Jokowi

JK memaparkan alasan mengapa dirinya sempat meminta kepada Jokowi agar menunjukkan ijazah aslinya. Ia memastikan, tidak ada niatan untuk menyerang Jokowi. JK lantas menyinggung kedekatan dirinya dengan Jokowi. Di mana, JK merupakan sosok yang berjasa dalam karier politik Jokowi, termasuk dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta hingga Pemilihan Presiden (Pilpres). Tokoh asal Sulawesi Selatan itu pun menampilkan foto ketika Jokowi berkunjung ke rumah JK usai menang Pilkada DKI Jakarta.
3. Pernyataan Lengkap JK Soal Ijazah Jokowi dan Dugaan Penistaan Agama

Berikut ini pernyataan lengkap JK terkait isu ijazah Jokowi dan dugaan penistaan agama:
“Inilah suasana ya wartawan bisa dibilang yang tidak ada media lebih kejam lagi, lebih parah lagi. Orang-orang yang memfitnah saya, pernah gak ada di situ? Saya ada di situ, Hamid ada di situ, Uceng sebagai wartawan waktu itu pergi melihat itu.”
“Inilah, ini baru awalnya ini, awalnya ini. Yang lain potong leher… 7.000 orang meninggal, emangnya karena apa? 7.000! Yang Anda lihat fotonya tadi tiga atau empat yang kelihatan, 7.000 orang meninggal di situ. Nah, yang paling mengetahui keadaan justru Ketua PGI, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia yang dulu Ketua Sinode di Maluku. Tahu betul. Coba lihat pernyataannya supaya lebih lengkap lagi, bagaimana keadaan sebenarnya yang terjadi di sana. Ya, dalam wawancara, ini Pendeta John Ruhulessin.”
“Nah, tadi kan dibilang tadi, Pendeta John. Sekali lagi. Pendeta John. Pak, ini Pendeta John. Tadi dia ceritakan bagaimana orang dipotong kepalanya dan kepalanya dijadikan bola, main. Inilah konflik yang paling kejam mungkin setelah G30S, karena jenderal yang dibunuh, tapi paling ganas paling jahat inilah.”
“Bayangkan kalau saya potong kepalanya Hamid baru kepalanya dibawa baru dijadikan… tadi saya katakan kan, tadi ada, bagaimana kepala orang dijadikan bola. Bagaimana kejamnya waktu itu, dan itu jelas dikatakan tadi, itu karena agama masuk di situ. Islam-Kristen berbuat begitu.”
“Kalau orang Islam, orang Kristen masuk di daerah Islam, tanya “apa?” “Islam”, biar lewat. “Islam, coba Assalamualaikum”, lewat. Tapi kemudian banyak orang begitu, sebaliknya kalau ke Kristen, “Shalom”, lewat. Tapi kemudian banyak yang disuruh baca Al-Fatihah. Tidak bisa baca Al-Fatihah, langsung dipotong.”
“Sebaliknya, juga di Kristen begitu. Kami bertiga masuk ke situ untuk menenangkan. Ada yang berani gak? Berani gak? Ade Armando itu ke situ? Berani gak itu Edy Darmawan begitu? Berani gak Anda semua?”
“Jadi saya ingin jelaskan tentang di UGM itu. Nanti dibagikan, mungkin ada sebagian sudah baca lengkap, tapi ini tertulis supaya Anda baca berkali-kali. Acara di UGM itu, acara ceramah bulan puasa seperti dilakukan di mana-mana di masjid. Saya diundang, datang, karena temanya adalah perdamaian. Perdamaian. Jadi khususnya temanya tentang langkah-langkah ke perdamaian, apa itu, kurang lebih begitu.”
“Saya jelaskan tentang apa itu perdamaian. Perdamaian itu adalah akhir dari pada konflik. Apa itu konflik? Akhir perdamaian. Kemudian mulai konflik di dunia ini, konflik di Eropa, Perang Dunia I saya uraikan. Dan bagaimana 15 konflik di Indonesia, bagaimana apa yang terjadi.”
“Ada konflik karena ideologi kayak Madiun, ada konflik karena ideologi, ada konflik karena wilayah kayak Timtim, ada konflik karena ekonomi kayak di Aceh. Saya jelaskan satu per satu. Kemudian satu menit saja, eh satu dua menit, bicarakan konflik karena agama. Itulah antara lain Ambon-Poso.”
“Hanya mengatakan, ini nanti dibagikan sama Anda untuk Anda pelajari kembali, benar gak saya menista agama? Saya damaikan ini, apa saya menista agama? Saya pertaruhkan jiwa saya dengan Hamid, masuk ke daerah yang Anda lihat tadi itu. Masuk ke daerah itu. Tidak ada Menteri, Presiden Gus Dur, Ibu Megawati tidak ada yang bisa. Jenderal-jenderal datang tidak bisa mendamaikan itu. Tokoh-tokoh Maluku waktu itu militer itu berapa, dua puluhan? Tidak bisa. Saya datang tanpa pengawal masuk ke daerah itu.”
“Dan saya tahu kenapa dia berbuat begitu. Karena dia pikir ini perang agama. Siapa yang meninggal akan syahid untuk Islam. Kristen menamainya martir. Tapi sebenarnya saya berada di masjid dan tidak mengerti martir. Yang saya katakan ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma bedanya caranya. Kalau syahid semua sama, mati karena membela agama, Itu syahid. Martir juga begitu, membela, mati karena membela agama. Jadi hanya istilah saja. Tapi karena saya di masjid, maka saya pakai kata syahid. Karena kalau saya pakai kata martir, jemaah tidak tahu.”
“Untuk menjelaskan, jangan sama sekali agama dipakai untuk berkonflik, jangan! Anda calon-calon pemimpin, coba ini, calon-calon pemimpin semua ini. Kau mesti adil dan tidak boleh memakai agama unsur-unsur politik. Ini akibatnya saya bilang, 7.000 orang meninggal dalam tiga tahun, 7.000 dalam tiga tahun. Aceh 30 tahun meninggal 15.000. Artinya di Aceh tiap tahun itu 500 orang. Ini tiap tahun itu 3.000 orang, ya 2.500 orang tiap tahun. Bayangkan gak? Anda bayangkan yang muda-muda ini, lihat kejadiannya.”
“Lihat kejadiannya, bagaimana orang menangis, pengungsi Poso saja 100 ribu yang mengungsi. Saya datang ke Poso-Ambon itu sebagai Menko Kesra (Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat) untuk menyelesaikan pengungsi. Tapi saya lihat keadaan, tidak mungkin saya selesaikan pengungsi, salah satu cara, damaikan.”
“Karena itulah saya ambil alih, saya bilang sama Pak Menko Polkam, saya ambil alih ini kasus ini. Saya korbankan jiwa saya, bagaimana kalau saya diparangi, bagaimana kalau saya… biar, insyaallah kita berdoa. Tenang Mid (Hamid Awaluddin), tenang Mid. Saya bertiga Dokter Farid, cuma bertiga orang. Tenang Mid, insyaallah kita berdoa dulu, jadi begitu kita keluar kita salat dulu, mudah-mudahan tidak apa-apa.”
“Mana pengacara itu? Kau ini orang Ambon nih, dia tahu bagaimana keadaan. Dia mahasiswa di situ, Pattimura dibakar! Hanya saya saja, siapa yang mau pindah sekolah ke Makassar-Manado, saya pindah ini. Saya pikir masa depannya anak-anak ini. Kalau dia ikut pemberontakan, yang muda-muda saya keluarkan yang mau sekolah. Tanya semua dia. Dari Pattimura pindahkan ke Unhas. Siapa mau pindah Unhas, pindah ke Unhas. Saya bicara rektor kasih pindah.”
“Saya bicara rektor di Manado, siapa anak-anak yang mau sekolah pindahkan ke Manado. Hancur Ambon waktu itu. Sekolah-sekolah habis, masjid dibakar, gereja dibakar, rumah dibakar. Anda bertetangga, saya Islam, dia Kristen, saling berkelahi rumah dibakar masing-masing. Dia bakar rumah saya, saya bakar rumah dia, para bertetangga. Itulah yang terjadi di Maluku itu.”
“Siapa orang Ambon di sini? Wartawan. Itu yang terjadi. Saya hanya bicara dua kalimat. Kenapa agama, saya bacakan ulang supaya tahu, kenapa agama menjadi alasan konflik kayak di Poso dan Ambon? Dengar ya, jadi ini kalau buku, ini ayat tentang Ambon. Karena yang lain ada tentang DI, ada tentang Aceh, tentang Permesta. Ini kemudian saya tidak bahas tentang khusus Poso, tidak.”
“Hanya satu ayat yang berbunyi: Kenapa agama gampang menjadikan jadi alasan konflik kayak di Ambon? Karena dua-duanya, Islam dan Kristen, artinya orang Islam dan orang Kristen di tempat itu, bukan Islam keseluruhan. Islam-Kristen di tempat itu, di Ambon itu, di Poso itu berpendapat mati dan menewaskan orang mati atau menewaskan itu syahid. Itu saja dipersoalkan, padahal ini tentang Maluku.”
“Saya tidak bicara tentang dogma agama, saya tidak bicara tentang ideologi agama, tidak. Tentang kenapa mereka saling membunuh? Kenapa mereka saling membunuh? Ada gak Islam dan Kristen? Tidak ada. Jadi mereka semua melanggar ajaran agama. Saya tidak mengajarkan memuji agama Kristen, tidak. Tentang kayak Ambon dan Poso. Anda kan para jurnalis tahu kata-kata begitu kan? Konteksnya apa? Semua pihak, Kristen juga berpikir begitu.”
“Artinya karena saya bicara di kalangan Islam, sehingga saya katakan semua pihak, jadi artinya Islam dan Kristen juga berpikir begitu. Kalau saya bunuh orang Islam maksudnya, saya syahid, kalau saya mati pun syahid. Akhirnya saya suruh berhenti konfliknya orang yang membawa agama.”
“Dan saya bilang kedua-duanya, saya karena kedua-duanya, Islam-Kristen, kedua-duanya berpendapat, jadi orang itu yang berperang tadi itu kedua-duanya berpendapat. Saya tidak katakan Islam seluruhnya, Kristen seluruh, tidak. Konteksnya ini cuma dua kalimat saja. Setelah itu saya bicara tentang internasional, cuma dua kalimat. Kalau Anda lihat video apa? Saling membunuh kan? Ada ajaran agama kan yang mengatakan ini? Saya bilang tidak ada ajaran agama.”
“Jelas saya katakan bahwa tidak ada ajaran agama. Karena itu saya selesaikan ini dengan satu kata, satu kata. Rapat umum di Tentena, rapat umum di… saya undang, kumpulkan di lapangan orang-orang yang berkelahi ini. Bahwa kalian masuk neraka! Karena tidak ada ajaran Kristen dan ajaran Islam yang mengatakan saling membunuh saudaranya. Itu bukan syahid.”
“Jadi kenyataannya begini dan saya bantah, lihat di belakangnya, bahwa kalian semua masuk neraka. Jangan hanya itu, lihat kalimat berikutnya, bahwa kalian semua kan tidak ada Islam dan Kristen tidak mengajarkan itu. Jadi ini mereka paham tapi tidak sesuai dengan ajaran Islam dan ajaran Kristen. Itu, itu artinya kalimat-kalimat ini. Karena ini cara lisan, tentu strukturnya tidak seperti bikin buku. Tapi saya bicara, tapi tetap terstruktur.”
“Itu tentang ini, ya. Nah, karena itu coba yang tadi itu, apa pendapat Ketua Sinode yang waktu itu, Pak John, Pak John Luruptte. John Ruhulessin. Ini.”
“John Ruhulessin:
Saya Pendeta John Ruhulessin, mantan Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku dan Direktur Program Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri Ambon, tokoh masyarakat dan tokoh agama dari Maluku. Menyikapi perkembangan-perkembangan media sosial belakangan ini, terutama yang berkaitan dengan tanggapan banyak sekali mengenai pernyataan Pak Jusuf Kalla, Pak JK yang memberikan ceramah di UGM.”
“Saya berkeinginan untuk memberikan perspektif saya. Saya memberikan perspektif dalam kapasitas sebagai orang yang ikut dalam konflik Maluku dan berkewajiban dan bertanggung jawab untuk menjaga kondisi yang kondusif di Maluku supaya kondisi ini tetap terpelihara dan perdamaian di Maluku tetap terjaga. Lebih dari itu kita menjaga keutuhan bangsa kita.”
“Saya kira tanggapan saya fokus pada dua tindakan. Saya merasa dan mengikuti betul ceramah Pak Jusuf Kalla dan saya berkesimpulan bahwa apa yang dikemukakan oleh Pak JK sebetulnya konteksnya adalah konflik di Maluku dan Poso ya. Kita tahu bahwa Pak JK adalah arsitek yang bersama-sama dengan Pemerintah Indonesia ketika itu ikut menyelesaikan konflik Maluku.”
“Berapa-berapa kali beliau datang di Ambon dan kemudian proses Malino II, beliau adalah arsitek perdamaian di Maluku dan kita berterima kasih kepada Pak JK. Saya kira itu dulu saya mau mengatakan itu. Berkaitan dengan pernyataan Pak JK, saya harus mengatakan bahwa pernyataan Pak JK itu latar belakangnya adalah konteks Maluku. Pak JK dalam konteks itu tidak berbicara pada kepentingan doktrin satu agama, apalagi doktrin yang menyangkut agama Kristen.”
“Saya kira Pak JK tidak bermaksud seperti itu. Yang beliau lihat adalah kondisi sosiologis ketika penyelesaian konflik terjadi bahwa orang mencari legitimasi-legitimasi agama untuk terus berperang. Dan oleh karena itu, dalam perspektif semacam itu, di kalangan Kristen pun orang akan berdoa untuk masuk surga, menjaga gereja.”
“Di balik pemahaman seperti itu ada pemahaman bahwa yang dibela adalah bukan cuma agama tapi juga yang dibela adalah Tuhan. Padahal Tuhan tidak perlu dibela. Jadi itu pemahaman yang terjadi di masyarakat ketika itu. Pak JK hanya merekam pendapat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat ketika itu.”
“Beliau tidak berbicara dalam perspektif doktrin satu agama dan oleh karena itu saya mau menjernihkan posisi itu ya. Saya kira Pak JK sampai pada taraf semacam itu tidak bermaksud melecehkan satu agama ya, hanya beliau melihat fakta sosiologis historis bahwa orang mencari legitimasi agama untuk terus berperang.”
“Dan saya kira ini pandangan yang harus saya luruskan supaya apa yang dikemukakan tidak lalu memicu ketegangan-ketegangan di basis masyarakat dan kita terus menjaga tentang keutuhan bangsa kita. Saya kira itu yang mau saya sampaikan, demikian dan terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom.”





