Persiapan Menyeluruh untuk Tes Kemampuan Akademik di Surabaya
Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya telah memastikan kesiapan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang rencananya akan dilaksanakan pada April 2026. Kesiapan ini mencakup berbagai aspek teknis, mulai dari sarana prasarana hingga kesiapan jaringan dan kelistrikan.
Verifikasi Langsung ke Sekolah
Kepala Dispendik Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, S.Si., M.M., menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan verifikasi langsung ke sekolah-sekolah terkait kesiapan perangkat dan sistem pendukung ujian berbasis komputer. Ia menegaskan bahwa seluruh aspek teknis telah melalui tahap pengecekan menyeluruh.
“Untuk TKA di Kota Surabaya insyaallah kesiapannya sudah kita cek semuanya. Dari sarana masing-masing sekolah, ketersediaan PC seperti apa itu sudah kami lakukan pengecekan. Jaringan juga sudah kami cek, dipastikan semuanya siap,” ujar Febrina saat ditemui Infomalangraya.com, Jumat (13/2/2026).
Uji Coba Bersama Tim IT dan Operator Sekolah
Selain itu, Dispendik juga telah menggelar uji coba bersama tim IT dan operator sekolah. Koordinasi dilakukan secara intensif melalui desk meeting atau pembahasan langsung antar pihak untuk memastikan kesiapan teknis di tiap sekolah.
“Minggu lalu kita sudah lakukan tes dengan para tim IT dan operator sekolah. Kita sudah desk, head to head, ngobrol langsung sekolah ini sudah siap apa, ada berapa perangkat, jaringannya bagaimana,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi gangguan listrik, Dispendik turut berkoordinasi dengan PLN agar tidak ada pemadaman listrik maupun perawatan jaringan pada hari pelaksanaan TKA.
“Kita sudah minta koordinasi dengan PLN supaya di hari pelaksanaan tidak ada perawatan atau pembatalan listrik. Jadi kalau ngomongin infrastruktur, insyaallah sudah ready semua,” tegasnya.
Peserta Optimal, Tidak Wajib
Terkait kepesertaan, Febrina menyebut jumlah siswa yang mendaftar tergolong optimal. Meski demikian, ia menegaskan bahwa TKA tidak bersifat wajib.
“Memang sifatnya tidak wajib. Banyak orang tua yang sudah konfirmasi positif mengikutkan anaknya. TKA ini bukan penentu kelulusan, tapi menjadi salah satu syarat untuk naik jenjang,” katanya.
Ia menambahkan, hasil TKA juga berpotensi menjadi salah satu pertimbangan pada jenjang pendidikan berikutnya, meskipun bukan menjadi faktor penentu kelulusan siswa.
“Kalau ditanya apakah menentukan kelulusan, tidak. Ini lebih untuk memotret capaian pendidikan dengan indikator dunia,” jelasnya.
Mengukur Kemampuan Analitik Siswa
Menurut Febrina, TKA dirancang untuk mengukur kemampuan analitik siswa, bukan sekadar hafalan. Model soal lebih menekankan pada implementasi konsep dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang indikator dunia itu lebih kepada analitiknya. Jadi bukan sekadar 1 + 1 berapa, tapi ada problem solving, ada cerita keseharian yang direct dengan matematika,” ungkapnya.
Untuk mendukung kesiapan siswa dan guru, Dispendik telah menyiapkan beberapa paket try out berdasarkan kisi-kisi yang dibagikan Kementerian Pendidikan.
“Kisi-kisi dari kementerian sudah dibagikan ke daerah. Dari indikator itu kita produksi soal untuk try out siswa. Sudah beberapa paket kita lakukan,” ujarnya.
Harapan Siswa Meraih Hasil Maksimal
Febrina berharap berbagai ikhtiar yang dilakukan dapat membantu siswa meraih hasil maksimal dalam pelaksanaan TKA perdana ini.
“Karena ini memang baru, mudah-mudahan anak-anak kita dengan persiapan yang sudah kita lakukan bisa mendapatkan hasil maksimal,” kata Febrina.
Meski demikian, Dispendik tetap mengedepankan pendekatan persuasif kepada orang tua yang memiliki pertimbangan tertentu untuk tidak mengikutkan anaknya.



