Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik yang Melambat

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) akan melambat pada tahun 2026 akibat berbagai guncangan eksternal. Pada tahun ini, pertumbuhan regional diperkirakan turun menjadi 4,2 persen, dari sebelumnya 5,0 persen. Kenaikan harga energi yang disebabkan oleh konflik di Timur Tengah memperburuk dampak negatif dari meningkatnya hambatan perdagangan.

Aaditya Mattoo, Kepala Ekonom Asia Timur dan Pasifik, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh dua faktor utama: guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah dan peningkatan hambatan perdagangan. Selain itu, ketidakpastian kebijakan internasional serta tantangan ekonomi domestik juga turut berkontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan.

“Ini adalah dua faktor negatif yang sangat memengaruhi kawasan kita karena ketergantungan energi dan ketergantungan perdagangan. Salah satu perkembangan positif secara global adalah ledakan kecerdasan buatan, dan kekhawatiran kami adalah, sama seperti kawasan ini lebih rentan terhadap guncangan negatif, saat ini mungkin kurang siap untuk memanfaatkan manfaat positifnya. Saya akan membahasnya nanti,” ujarnya.

Beban Biaya Logistik Picu Tekanan untuk Menstabilkan Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Mattoo, lonjakan harga minyak dan gas menjadi pemicu utama tekanan tersebut. Kenaikan biaya energi mendorong ongkos produksi di berbagai sektor, yang kemudian menjalar ke harga barang dan jasa.

Bahkan, berdasarkan indikasi pasar berjangka, harga minyak diperkirakan bisa lebih tinggi hingga 20 dolar AS per barel dalam satu tahun ke depan dibandingkan sebelum krisis saat ini.

“Gangguan dalam rantai pasokan, baik melalui hambatan maritim maupun biaya transportasi yang lebih tinggi yang mungkin akan memukul, misalnya, industri keripik, yang akan berdampak pada seluruh rantai produksi. Kondisi pembiayaan yang lebih ketat, pelebaran selisih harga antara minyak dan gas, serta biaya pinjaman yang lebih tinggi akan menghambat investasi, yang semuanya, ditambah dengan ketidakpastian, sentimen bisnis yang lemah, dan investasi yang rendah akan merugikan pertumbuhan global,” ujarnya.

Dihadapkan Dilema Ganda Yakni Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Di sisi lain, kenaikan harga minyak global memberikan tekanan terhadap pemerintah di Asia Timur dan Pasifik menghadapi dilema ganda yakni menahan inflasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Di sisi moneter, bank sentral diminta berhati-hati. Guncangan harga energi sebaiknya tidak direspons berlebihan, kecuali memicu ekspektasi inflasi tinggi yang bisa menaikkan upah dan harga input. Di negara dengan inflasi tinggi, seperti Myanmar, Lao PDR dan Tuvalu, sikap moneter yang lebih ketat mungkin diperlukan.

“Sementara di negara dengan inflasi rendah, termasuk Indonesia dan Filipina, pemantauan tetap penting untuk mencegah tekanan harga jangka panjang,” ujarnya.

Dukungan Fiskal Diminta Lebih Tepat Sasaran

Dari sisi fiskal, subsidi energi untuk melindungi rumah tangga atau perusahaan bisa memperlebar defisit dan meningkatkan utang, yang berpotensi menekan investasi dan pertumbuhan. Risiko ini lebih tinggi di negara dengan utang besar dan ruang fiskal terbatas, seperti beberapa Negara Kepulauan Pasifik dan Lao PDR.

Oleh karena itu, dukungan fiskal yang tepat sasaran, khususnya bagi masyarakat miskin dan kelas menengah rentan, menjadi kunci untuk menjaga daya beli tanpa membebani APBN secara berlebihan.

“Kenaikan harga minyak memengaruhi inflasi melalui dua saluran: secara langsung melalui biaya bahan bakar dan energi, serta secara tidak langsung melalui meningkatnya biaya input untuk transportasi, manufaktur, dan pertanian yang menular ke seluruh rantai pasok, menekan daya beli rumah tangga dan margin perusahaan,” ujarnya.

Share.
Leave A Reply

Portal berita yang menyajikan informasi terkini tentang peristiwa di Malang Raya dan Nasional, politik, ekonomi, entertainment, kuliner, gaya hidup, wisata dan olahraga.

Kanal Utama

Kontak kami

Berlangganan

Exit mobile version