Perubahan Perilaku Masyarakat dalam Mengikuti Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tampaknya tidak menghadirkan antusiasme yang sama seperti edisi sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor yang memengaruhi cara masyarakat mengonsumsi informasi dan hiburan.
Transformasi Sosial Akibat Teknologi Digital
Menurut Luluk Dwi Kumalasari M.Si, dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), perubahan tersebut terkait dengan transformasi sosial akibat perkembangan teknologi digital. Masyarakat kini hidup dalam era digital yang membuat pola konsumsi media menjadi semakin instan dan terfragmentasi.
Dulu, menonton sepak bola adalah aktivitas kolektif. Orang rela begadang bersama keluarga atau teman-teman untuk menyaksikan pertandingan. Sekarang, orang lebih memilih tahu hasil akhirnya saja melalui media sosial atau portal berita. Generasi muda cenderung tidak lagi menikmati proses pertandingan secara utuh.
Pengaruh Hiburan Digital Lainnya
Selain itu, hadirnya berbagai pilihan hiburan digital lain yang lebih menarik bagi generasi muda juga turut memengaruhi minat mereka terhadap Piala Dunia. Mulai dari bermain gim, media sosial, hingga aktivitas nongkrong bersama teman.
Perbedaan Zona Waktu
Perbedaan zona waktu juga menjadi penyebab berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia 2026. Sebagian besar pertandingan diperkirakan berlangsung pada dini hari waktu Indonesia, sehingga berbenturan dengan kebutuhan istirahat masyarakat yang memiliki ritme kerja semakin padat.
Kekecewaan Kolektif terhadap Prestasi Sepak Bola Nasional
Luluk juga menyebut adanya faktor psikologis berupa kekecewaan kolektif terhadap prestasi sepak bola nasional. Minimnya pencapaian Indonesia di level dunia membuat sebagian masyarakat merasa tidak memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap Piala Dunia.
Contohnya adalah langkah Timnas Indonesia yang harus terhenti di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Publik sangat berharap Jay Idzes dan kawan-kawan bisa menembus Piala Dunia 2026, tetapi harapan tersebut tidak terwujud.
Pengaruh Ekonomi
Kondisi ekonomi juga turut memengaruhi antusiasme masyarakat. Melemahnya daya beli akibat tekanan ekonomi membuat perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada kebutuhan sehari-hari dibandingkan mengikuti ajang olahraga internasional.
Faktor Geopolitik
Faktor geopolitik dinilai ikut memengaruhi minat publik. Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, yang kerap menjadi sorotan dalam isu politik global, disebut dapat memunculkan sikap apatis dari sebagian kelompok masyarakat.
Solusi untuk Mengembalikan Euforia Sepak Bola
Untuk mengembalikan euforia sepak bola di tengah masyarakat, Luluk menilai diperlukan dukungan yang lebih kuat dari pemerintah dan pemangku kepentingan olahraga. Salah satunya dengan memberikan penghargaan yang layak kepada atlet berprestasi sehingga masyarakat melihat bahwa prestasi olahraga benar-benar dihargai.
Selain itu, promosi sepak bola perlu menyesuaikan perkembangan zaman dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital yang dekat dengan generasi muda.
Pentingnya Prestasi Nyata
Yang paling penting adalah menghadirkan prestasi yang nyata sehingga publik memiliki kebanggaan dan alasan untuk kembali antusias. Dengan demikian, Piala Dunia 2026 bisa kembali menjadi ajang yang dinantikan oleh seluruh masyarakat.
