Sejarah Baru dalam Penerbangan Indonesia
Langit dini hari Jakarta masih gelap ketika sebuah pesawat kepresidenan lepas landas menuju Paris, Perancis, membawa Presiden RI Prabowo Subianto untuk menjalani kunjungan kenegaraan penting. Namun di balik perjalanan diplomatik itu, tersimpan kisah lain yang diam-diam mencetak sejarah baru di dunia penerbangan Indonesia.
Untuk pertama kalinya sejak berdirinya Garuda Indonesia pada 31 Maret 1950, pesawat yang membawa presiden aktif Indonesia dalam lawatan luar negeri dipiloti oleh seorang perempuan. Sosok tersebut adalah Captain Tania Citra, pilot muda berusia 31 tahun yang kini menjadi sorotan publik.
Kabar itu diungkap oleh Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, melalui keterangannya kepada media pada Selasa (26/5/2026). Dalam penerbangan menuju Perancis yang berlangsung Selasa dini hari pukul 00.08 WIB, Captain Tania dipercaya menerbangkan pesawat yang membawa Presiden Prabowo.
Dirgayuza menyebut pengalaman mendampingi Presiden membuatnya banyak bertemu sosok-sosok luar biasa yang berhasil menembus batas. “Semakin lama saya ikut Presiden Prabowo, semakin banyak saya mengenal para outliers. Mungkin karena Presiden selalu ingatkan, ‘kita harus terus temukan, beri kesempatan, dan apresiasi orang-orang terbaik, cinta merah putih, berapapun usianya’,” ujar Dirgayuza.
Ia kemudian mengaitkan hal itu dengan perhatian Prabowo terhadap pendidikan talenta unggul sejak lama. “Itulah sebabnya ia ajukan pendirian SMA TN di 1988, dan sekarang sebagai Presiden ia dirikan SMA Unggul Garuda, serta jalankan Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD). Sesuai UU Sisdiknas, pendidikan istimewa untuk yang punya bakat dan kecerdasan istimewa,” sambung dia.
Menurut Dirgayuza, Tania bukan sosok biasa di dunia aviasi internasional. Dua tahun lalu, saat masih berusia 29 tahun, ia disebut menjadi pilot perempuan termuda di dunia yang menerbangkan Boeing 777. Kini, selain menjalankan misi penerbangan komersial dan kepresidenan, Tania juga tercatat sebagai instruktur perempuan Boeing 777 termuda di dunia.
Deretan Pilot Perempuan di Lingkar Penerbangan Presiden
Bukan hanya Captain Tania, Dirgayuza juga mengungkap sejumlah nama pilot perempuan lain yang kini menjadi bagian penting dalam penerbangan kepresidenan Indonesia. Salah satunya adalah Captain Ajeng Mahessa, pilot Skadron Udara 17 penerbang Boeing 737 yang membawa Presiden untuk perjalanan domestik maupun tujuan luar negeri jarak dekat. Di usia 30 tahun, Ajeng disebut sebagai pilot 737 kepresidenan termuda di dunia.
Selain itu ada pula Captain Yustikasari Diana Putri yang masih berusia 27 tahun. Pilot lulusan TN 24 tersebut bertugas menerbangkan pesawat CN milik Skadron Udara 2 yang kerap digunakan untuk menjangkau wilayah terpencil dan misi kemanusiaan di daerah dengan landasan pendek. Tak berhenti di situ, sosok perempuan muda lain juga berada di balik operasi logistik kepresidenan menggunakan pesawat Hercules C130. Dia adalah Captain Gini Setya Rahayu, pilot Skadron Udara 31 berusia 24 tahun dan lulusan SMA TN 27.
Melawan Hukum Gravitasi
Dirgayuza menegaskan, keberhasilan para pilot perempuan itu tidak hadir secara instan. Menurutnya, ada perjuangan panjang, disiplin tinggi, dan ribuan jam latihan yang harus dilalui hingga mereka mampu menembus dunia yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki. “Di balik sukses mereka, ada ribuan jam belajar, bekerja dan mengumpulkan tekad agar bisa, secara literal, melawan hukum gravitasi dan berhasil terbang tinggi di langit Nusantara dan dunia. Berhasil di dunia yang mayoritas pikir reserved untuk laki-laki saja,” tegas Dirgayuza.
Ia pun berharap kehadiran sosok-sosok seperti Tania dan para pilot perempuan lainnya bisa menjadi inspirasi lahirnya lebih banyak talenta unggul Indonesia di berbagai bidang. “Untuk maju, Indonesia butuh outliers seperti mereka tidak hanya berhasil dalam tugas utama mereka, tapi juga berhasil menumbuhkan harapan, membangun cita-cita dan mencetak ribuan outliers lainnya di various bidang,” imbuh dia.
