Peran Posyandu yang Berubah
Posyandu kini tidak lagi hanya menjadi tempat ibu-ibu menimbang berat badan balita. Di ruang sederhana ini, harapan anak-anak yang nyaris putus sekolah, keluarga tak mampu berobat, hingga warga yang terjebak dalam masalah sosial mulai ditautkan kembali ke negara. Transformasi besar Posyandu ini mengemuka dalam Konsultasi Publik Rancangan Awal Renstra Posyandu Kabupaten Batang, yang dihadiri oleh istri Bupati Batang, Faelasufa dan Wakil Bupati Batang, Suyono di aula Pemkab Batang, Senin (19/1/2026).
Istri Bupati Batang, Faelasufa, menegaskan bahwa Posyandu telah memasuki babak baru pasca terbitnya Permendagri Nomor 13 Tahun 2024. Namun di balik regulasi dan dokumen perencanaan, Wakil Bupati Batang, Suyono, mengingatkan bahwa wajah asli Posyandu sejatinya adalah wajah masyarakat kecil.
“Yang paling penting itu praktik di lapangan. Anak tidak sekolah, orang tua tidak mampu, bingung ujian, bingung biaya. Negara harus hadir, jangan sampai anak-anak kita putus sekolah hanya karena orang tuanya tidak tahu harus mengadu ke mana,” kata Suyono kepada Tribunjateng, Senin (19/1/2026).
Ia mencontohkan kasus anak yang harus tetap mengikuti ujian meski kondisi keluarga tidak memungkinkan. Menurutnya, pendidikan adalah hak warga negara yang wajib dijamin negara, setidaknya hingga jenjang SMA.
“Jangan sampai karena orang tua tidak paham, tidak punya akses, akhirnya anak berhenti sekolah. Itu bukan salah mereka,” tegasnya.
Melalui Posyandu enam bidang layanan dasar, pendidikan kini menjadi bagian penting yang harus dikolaborasikan dengan dinas terkait. Posyandu tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi simpul awal mendeteksi persoalan warga, lalu menghubungkannya dengan sistem negara.
“Posyandu ini titik terdekat dengan rakyat. Kalau ada anak tidak sekolah, tidak bisa berobat, tidak punya sanitasi layak, di situlah negara seharusnya bergerak,” ujarnya.
Ia mengingatkan, negara telah mengalokasikan anggaran pendidikan hingga 20 persen dari APBN. Tantangannya bukan lagi dana semata, tetapi koordinasi dan keberanian mencari solusi konkret.
“Jangan sampai kita hanya rapat, hanya presentasi, tapi tidak bisa memberi solusi. Kita ini pelayan masyarakat, bukan penyelenggara panggung,” ungkapnya.
Persoalan sosial yang masuk ke Posyandu pun semakin kompleks. Mulai dari keluarga miskin yang tidak terdata, warga punya rumah tetapi tak memiliki akses sanitasi layak, hingga anak muda yang terjerat judi online, pinjaman daring, dan narkoba.
“Ada anak muda pinjam uang sampai puluhan juta karena judi online. Orang tuanya menutup utang, tapi anaknya tidak sembuh. Ini soal pendidikan karakter, soal ketahanan keluarga,” jelasnya.
Suyono menekankan pentingnya Posyandu sebagai ruang sosialisasi berkelanjutan, bukan sekadar layanan bulanan. Dari isu pendidikan, kesehatan, perumahan, hingga ketertiban dan keamanan masyarakat, Posyandu diharapkan menjadi cahaya awal bagi masa depan anak-anak Batang.
“Posyandu harus jadi cahaya bagi putra-putri kita. Tempat orang tua sadar, tempat anak-anak kembali punya jalan terang untuk menjemput cita-citanya,” pungkasnya.
Dengan Renstra Posyandu yang mulai disusun dan dijalankan bertahap dari desa, kecamatan, hingga kabupaten, Batang berharap Posyandu benar-benar menjadi wajah negara yang hadir, bukan hanya terdengar di atas kertas, tetapi dirasakan langsung oleh masyarakat paling kecil.





