Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Pulau Miangas, yang menjadi gambaran keras dari kehidupan di perbatasan Indonesia. Di pulau kecil dengan penduduk sebanyak 823 jiwa, masyarakat hanya mengandalkan satu puskesmas tua dengan satu dokter umum. Selain itu, sekolah setingkat SMA bahkan tidak memiliki guru Bahasa Indonesia selama dua tahun terakhir.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Pulau Miangas dilakukan pada hari Sabtu (9/5). Pulau ini berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Tujuan kunjungan ini adalah untuk memeriksa kondisi kehidupan masyarakat, infrastruktur kesehatan, dan pendidikan di daerah tersebut. Prabowo menyatakan bahwa dirinya merupakan presiden Indonesia kedua yang pernah mengunjungi Miangas.
“Pak Jokowi sudah sebelumnya, meresmikan bandara. Saya nanti memperbaiki atau memelihara supaya lebih bagus lagi,” ujar Prabowo di Miangas.
Prabowo mengunjungi Miangas setelah menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina. Ia tiba di Bandara Miangas sekitar pukul 10.45 WITA bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, kemudian meninjau Puskesmas Miangas dan masuk ke lokasi balai pertemuan warga di Lapangan SMKN 2 Talaud sekitar pukul 11.15 WITA.
Hanya Satu Dokter di Puskesmas
Puskesmas di Miangas merupakan satu-satunya fasilitas kesehatan di Bumi Nyiur Melambai. Kepala Puskesmas Miangas, Cefrilia Pesik, merupakan satu-satunya dokter umum di bangunan tua dan sederhana ini. Dalam segala keterbatasan, puskesmas itu berdiri sebagai satu-satunya tumpuan harapan bagi warga terhadap layanan kesehatan dasar. Tidak ada rumah sakit, tidak ada klinik lain. Puskesmas yang dihidupi oleh satu dokter umum dan 10 staf pelayanan ini memikul tanggung jawab besar, karena harus mengakomodasi kebutuhan kesehatan 823 jiwa yang bergantung pada satu titik layanan ini.
“Dari segi sumber daya manusia masih sangat kurang, bidan hanya seorang,” kata Cefrilia saat ditemui di Puskesmas.
Obat-obatan dikirim dari Melonguane, ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud, setiap bulannya. Namun, distribusi produk farmasi itu sering tidak sesuai kebutuhan. Obat yang diminta sering kosong, sementara yang tidak diperlukan justru datang berbulan-bulan. Dalam situasi darurat, tantangan menjadi rumit. Tidak semua penyakit bisa ditangani. Rujukan ke rumah sakit seperti RSUD Mala di Kapal Melonguane harus menunggu atau pesawat yang datang tidak menentu, tergantung cuaca.
Cefrilia mengatakan kapal perintis bisa memakan waktu hingga 10 hari untuk singgah, sementara pesawat hanya dua kali seminggu. Selain pasokan obat, kebutuhan dasar oksigen sebagai kebutuhan dasar penanganan medis belum tersedia.
“Saat itu ada pasien dan di Puskesmas tidak ada oksigen. Untunglah pasien itu memang sudah ada riwayat asma, sehingga sudah ada oksigennya sendiri. Ini salah satu contoh fasilitas di sini yang kurang,” ujarnya.
Di tengah kondisi itu, Cefrilia menyampaikan harapan yang sederhana namun mendesak, yakni tambahan tenaga medis, ketersediaan obat, dan perbaikan fasilitas. Baginya, Miangas bukan sekadar wilayah pinggiran, tetapi garis depan yang seharusnya mendapat perhatian utama.
Sekolah Tanpa Guru Bahasa Indonesia
Tak jauh dari Puskesmas, Jems Meyer Edam memimpin satu-satunya sekolah setingkat SMA di pulau itu. SMK Negeri 2 Talaud berdiri sejak 2004, namun hingga kini hanya menampung 38 siswa. SMKN 2 Talaud mengajarkan dua bidang kejuruan, yakni jurusan agribisnis pengolahan hasil perikanan dan akuntansi. Dari 13 lulusan tahun lalu, tujuh di antaranya masuk TNI AD, sebagian kecil melanjutkan kuliah, dan sisanya mencari pekerjaan seadanya.
Di balik angka itu, ada tantangan yang tidak kasatmata. Jems mengatakan 80% tenaga pengajar berasal dari luar pulau. Mereka membutuhkan rumah dinas yang kini jumlahnya masih terbatas.
“Ada yang dari Makassar, Gorontalo, Minahasa, dilukiskan di sini. Jadi kami butuh tambahan rumah dinas untuk guru,” kata Kepala SMKN 2 Talaud itu.
Jems menjelaskan, permasalahan pokok lainnya yakni sekolah tidak memiliki guru bahasa Indonesia selama dua tahun terakhir. Hal ini berdampak langsung pada kemampuan literasi dan numerasi siswa. Guru Bahasa Inggris ini menyampaikan kebutuhan lebih konkret untuk jurusan agribisnis yang mencakup alat praktik dasar seperti alat pelumat daging, mixer, dan perangkat pengemasan makanan.
Kebutuhan akan alat-alat itu menjadi mimpi untuk membangun teaching factory yang bisa mengolah hasil laut lokal menjadi produk bernilai tambah. Di tengah beragam persoalan, SMKN 2 Talaud telah mengatasi kendala akses internet. Sekolah berinisiatif membeli layanan satelit Starlink sebagai sebuah langkah mandiri di tengah keterbatasan.
“Tahun kemarin memang kesulitan internet karena hanya ada Telkomsel Bakti, tetapi dua tahun terakhir kami sudah mengupayakan Starlink,” ujar Jems.
Janji Prabowo
Di tengah berbagai keterbatasan itu, Prabowo berusaha menjawab beragam komitmen. Ia berjanji meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat dengan memperbaiki seluruh puskesmas di Indonesia. Sementara di sektor pendidikan, Prabowo menjanjikan rekonstruksi sekolah secara menyeluruh dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Tidak hanya bangunan, tetapi juga melengkapi perlengkapan belajar dengan papan tulis pintar atau smart board.
Prabowo secara spesifik mengatakan ada bantuan satu kapal nelayan berkapasitas 15 gross ton untuk masyarakat Miangas. Lebih jauh lagi, pemerintah juga berencana membangun desa nelayan di Pulau Miangas. Prabowo mengatakan, di dalamnya akan tersedia pabrik es, cold storage hingga SPBU khusus nelayan. Program ini ditargetkan berjalan mulai tahun ini, dengan ribuan desa nelayan yang akan diresmikan secara nasional.
“Pemerintah akan secara besar-besaran memperbaiki kondisi nelayan di seluruh Indonesia mulai tahun ini. Jadi tahun ini bulan Desember akan kami resmikan 1.386 desa nelayan di seluruh Indonesia,” kata Prabowo.
Selain itu, Prabowo menjanjikan adanya penguatan jaringan komunikasi di Miangas melalui penyaluran 250 unit Starlink dan 250 telepon genggam atau handphone (HP) ke warga.
Di sela kunjungan, suasana sempat mencair. Lagu-lagu daerah dan nasional dinyanyikan bersama. Prabowo bahkan ikut berjoget bersama anak-anak dan warga sekitar. Momen ini tampak menampilkan sisi hangat di tengah kunjungan kerja yang sarat persoalan di kawasan perbatasan.
Prabowo mengajak anak-anak sekolah untuk menyanyikan lagu Maju Tak Gentar, Pulau Miangas, Di sini Senang, Di sana Senang, lagu Hymne Guru dan Kasih Ibu. Prabowo dan warga juga menyanyikan lagu Nyiur Melambai, Sio Mama, Indonesia Pusaka, Si Patokaan, O Ina Ni Keke, hingga Tabola Bal.
Ketua Umum Partai Gerindra itu menyempatkan diri bergabung dengan kerumunan warga dan anak-anak saat menyanyikan lagi Tabola Bale.
Dalam kunjungan ke Miangas kali ini, Prabowo didampingi oleh Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel TNI Teddy Indra Wijaya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Selain itu, turut hadir Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Pekerjaan Umum Doddy Hanggodo, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita, hingga KSAU Marsekal TNI Tonny Harjono.





