Pertemuan Prabowo dan Megawati: Upaya Membangun Konsolidasi Nasional
Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Mantan Presiden sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (19/3) menarik perhatian para pakar politik. Menurut mereka, pertemuan ini merupakan langkah penting dalam membangun konsolidasi nasional, terlebih di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Langkah Penting di Tengah Ketegangan Global
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, melihat pertemuan tersebut sebagai upaya Prabowo untuk membaca peta politik nasional secara lebih komprehensif. Ia menilai bahwa dengan mengkomunikasikan diri dengan tokoh-tokoh di luar pemerintahan, Prabowo sedang mencari potensi timbal balik yang bisa memberikan keuntungan bagi stabilitas politik negara.
Pertemuan ini juga tidak dapat dilepaskan dari rangkaian aktivitas sebelumnya yang dilakukan Prabowo dengan mantan presiden. Sebelumnya, ia telah bertemu dengan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 Joko Widodo. Pertemuan pada 3 Maret lalu salah satunya membahas situasi geopolitik belakangan ini.
Dampak Geopolitik Terhadap Kondisi Domestik
Arifki menilai dinamika geopolitik global yang semakin meruncing setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran berpotensi memberikan tekanan terhadap kondisi domestik. Ia menyebut dampak lanjutan itu bisa berupa peningkatan beban subsidi energi atau kenaikan harga energi, terutama bahan bakar minyak (BBM). Hal ini berisiko menekan daya beli masyarakat serta memicu inflasi di sektor pangan dan transportasi.
Ia menilai upaya Prabowo merangkul berbagai pihak penting untuk menjaga stabilitas politik dan mengantisipasi potensi gejolak sosial di tengah tekanan ekonomi global saat ini. “Karena ketika ada narasi pemerintah akan menaikkan harga BBM yang berpotensi menimbulkan gejolak, maka dengan menemui orang-orang ini tentu ruang komunikasinya lebih terbuka,” ujar Arifki.
Hubungan dengan Internal PDIP
Selain itu, Arifki juga melihat adanya hubungan antara pertemuan dua tokoh nasional itu dengan dinamika internal PDIP yang belakangan mengkritik program makan bergizi gratis (MBG) dalam anggaran pendidikan. Ia menilai konsolidasi dengan PDIP penting untuk meredam potensi gejolak sosial, terutama jika pemerintah dihadapkan pada pilihan kebijakan seperti menaikkan harga BBM.
Kenaikan harga energi berpotensi memicu efek berantai terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup masyarakat. Hal ini akhirnya dapat memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah. “Masyarakat tidak akan peduli terhadap oposisi pemerintah maupun sikap politik luar negeri. Namun ketika masyarakat merasakan ada bahan pokok baik, BBM naik, akan memengaruhi gejolak dan persepsi ke pemerintah,” tambahnya.
Perkembangan Positif dalam Politik Nasional
Sementara itu, peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, menilai pertemuan antara Prabowo dan Megawati sebagai perkembangan positif yang berpotensi menghadirkan kesejukan dalam kehidupan politik nasional. Interaksi antara pemerintah dan PDIP sebagai partai terbesar di parlemen turut membuka peluang terciptanya kerja sama dan sinergi politik.
Menurut Bawono, kerja sama tersebut tidak harus diwujudkan dalam bentuk keikutsertaan PDIP di dalam kabinet, tetapi bisa melalui dukungan kepada kebijakan pemerintah. “Sangat mungkin dari pertemuan ini lahir kerja sama dan sinergi antara pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan PDI Perjuangan sebagai partai politik terbesar di parlemen,” katanya.
Pembahasan Berbagai Isu Strategis
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam itu membahas sejumlah hal strategis, mulai dari persoalan kebangsaan hingga dinamika geopolitik global. Menurut Hasto, pengalaman Megawati sebagai Presiden Ke-5 dinilai bisa menghadapi krisis multidimensional. Hal ini menurutnya dapat menjadi rujukan terkait penentuan skala prioritas dan urgensi kebijakan pemerintah ke depan.
“Demikian juga terkait dengan persoalan geopolitik, khususnya kepeloporan Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non Blok, dan berbagai peran penting dalam membangun tata dunia baru melalui politik luar negeri bebas aktif,” ujarnya.




