Presiden Prabowo Subianto Minta Dukungan Ulama Terkait Situasi Global
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengundang para tokoh agama untuk berdiskusi mengenai posisi dan sikap pemerintah terhadap situasi yang sedang berkembang di kawasan Teluk dan Timur Tengah. Peristiwa ini muncul setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat hubungan antara pemerintah dan komunitas keagamaan dalam merespons dinamika global.
Dalam pertemuan yang diadakan di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta pada hari Kamis (5/3) malam, Presiden menjelaskan kebijakan yang diambil guna menjaga keutuhan dan kedaulatan negara. Meski demikian, ia menyatakan bahwa pihaknya tetap terbuka terhadap masukan dari para ulama.
“Pertemuan ini dimaksudkan untuk saling memahami dan mendengar perkembangan informasi geopolitik dan geoekonomi yang terjadi akhir-akhir ini,” ujar Ketua MPR RI Ahmad Muzani dalam jumpa pers seusai pertemuan.
Muzani menambahkan bahwa para ulama memahami penjelasan Presiden. Dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga jam lebih, Presiden juga menyampaikan bahwa dirinya terbuka terhadap usulan dan masukan dari para hadirin.
Pertemuan Berlangsung Secara Periodik
Menurut Muzani, pertemuan seperti ini diharapkan bisa berlangsung secara periodik dalam beberapa pekan atau bulan mendatang. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pemerintah dan komunitas keagamaan tetap bersinergi dalam menghadapi tantangan global.
Selain itu, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Muhadjir Effendy menjelaskan bahwa Presiden Prabowo juga menyampaikan informasi tentang keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) Gaza. Ia menyebut bahwa proses bergabung dalam BoP sudah melalui proses panjang.
“Strategi yang dipilih adalah strategi dari dalam. Setelah selama ini kita berada di luar, sekarang kita mencoba berjuang dari dalam,” kata Muhadjir.
Rangkaian Acara yang Berlangsung Selama Berjam-jam
Pertemuan dengan para ulama berlangsung sejak jam buka puasa. Acara dialog dimulai pukul 20.00 WIB hingga melewati pukul 23.00 WIB. Sebanyak 160 lebih kiai, ulama, pimpinan pondok pesantren, serta organisasi kemasyarakatan Islam turut hadir dalam acara tersebut. Hadir pula petinggi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan jajaran pejabat negara, termasuk menteri-menteri Kabinet Merah Putih.
Apresiasi atas Sikap Presiden
Sementara itu, sejumlah tokoh Islam memberikan apresiasi terhadap sikap Presiden yang mengucapkan belasungkawa atas gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Surat duka tersebut dinilai mencerminkan sikap kemanusiaan dan kepedulian Indonesia terhadap dinamika geopolitik global saat ini.
Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie, menilai langkah Presiden merupakan sikap yang tepat karena mencerminkan solidaritas sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim.
“Tepat sekali kemarin Presiden sudah menyampaikan turut berduka kepada seluruh rakyat Iran. Kami sebagai negeri muslim terbesar, yang menganut Pancasila, ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, tidak bisa menerima pembunuhan biadab,” ujar Jimly.
Pentingnya Perdamaian dan Kerja Sama Internasional
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyampaikan bahwa penyampaian belasungkawa oleh Presiden merupakan sikap yang wajar dan manusiawi. Namun menurutnya, yang tidak kalah penting adalah upaya nyata dari berbagai pihak untuk menghentikan kekerasan dan konflik bersenjata.
“Kita tidak punya pilihan selain berjuang sekuat tenaga supaya damai. Berhenti perang, damai sekarang. Tidak ada alternatif lain,” kata Gus Yahya.
Dia juga menekankan pentingnya memanfaatkan berbagai forum dan mekanisme kerja sama internasional yang dimiliki Indonesia untuk mendorong upaya perdamaian, termasuk keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang diinisiasi oleh Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, Presiden Prabowo mengirimkan surat resmi belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran yang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan militer AS dan Israel.
Surat tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di Jakarta sebagai bentuk penghormatan diplomatik dari pemerintah Indonesia. Melalui langkah tersebut, pemerintah menyampaikan empati mendalam kepada pemerintah dan rakyat Iran atas kehilangan tokoh penting yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan politik dan kehidupan masyarakat Iran.





