Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah yang diadakan pada 2 Februari 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Presiden Prabowo kembali menyampaikan pernyataan tentang “kekuatan asing” yang menurutnya memengaruhi demonstrasi di Indonesia. Dalam pidatonya, ia mengklaim memiliki bukti bahwa pihak asing terlibat dalam pengorganisasian aksi unjuk rasa tersebut.
Presiden menjelaskan, “Kelompok-kelompok ini, baik sadar atau tidak, saya yakin mereka dikendalikan oleh kekuatan asing. Saya yakin, saya punya bukti,” ujarnya. Ia menekankan bahwa sebagai kepala negara, dirinya tidak melarang siapa pun untuk melakukan aksi demo. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah akan bertindak tegas jika ada kerusuhan yang terjadi.
“Sedikit-sedikit mau demo. Demo boleh, tapi mereka (kekuatan asing) tidak berharap demo, mereka berharap kerusuhan dan kerusuhan itu mencelakakan bangsa dan negara. Kerusuhan mencelakakan bangsa dan negara,” kata Prabowo. Ia menambahkan bahwa tindakan seperti membakar, melemparkan bom molotov, adalah tindakan yang membahayakan dan bisa dianggap sebagai tindak pidana. “Saya tidak ragu-ragu. Kalau demo, silakan. Tapi bagaimana mau demo, kamu 5 ribu kali demo, tidak akan ada satu pabrik dibuka.”
Sebelumnya, pada akhir Agustus 2025, terjadi demonstrasi besar di Jakarta dan beberapa daerah lainnya. Demo dipicu oleh ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah, termasuk keputusan DPR memberikan tunjangan perumahan bagi anggota DPR di tengah kesulitan ekonomi masyarakat.
Ini bukan pertama kalinya Prabowo menyebut-nyebut adanya antek asing. Menurut catatan Tempo.co, dari tahun 2014 hingga 2025, Prabowo telah menyebut antek asing sebanyak 17 kali. Menurutnya, antek-antek asing tersebut ada di balik keberadaan LSM-LSM di Indonesia.
Hasan Nasbi, mantan Kepala Komunikasi Kepresidenan, pernah menjelaskan ciri-ciri LSM yang disebut sebagai “antek asing” oleh Presiden Prabowo dalam pidato Hari Lahir Pancasila pada Juni 2025 lalu. Ia menekankan bahwa bukan semua LSM adalah antek asing, tetapi ada ciri-ciri tertentu yang menunjukkan LSM tersebut berpotensi merongrong persatuan bangsa.
Ciri-ciri tersebut antara lain: kelompok-kelompok yang selama ini merongrong persatuan, kelompok-kelompok yang mendiskreditkan pemerintah dengan menyebarkan isu-isu tidak benar, serta kelompok-kelompok yang diindikasikan mengadu domba dan memecah belah persatuan bangsa. Selain itu, LSM yang didanai oleh bangsa asing untuk mengadu domba pihak di Indonesia dan sering mencemooh pemerintah juga termasuk dalam kategori ini.
Menurut Hasan, tidak semua LSM atau organisasi non-pemerintahan (NGO) merupakan antek asing. Yang dimaksud Prabowo adalah LSM antek asing yang mengadu domba antar komponen bangsa Indonesia. “Itu yang dimasukkan oleh Presiden, jadi tidak dipukul rata (semua LSM adalah antek asing pengadu domba) secara umum,” katanya.
Dalam upacara Hari Lahir Pancasila di halaman Gedung Pancasila, Jakarta, pada 2 Juni 2025, Prabowo menyoroti LSM “antek asing”. Awalnya, ia mengajak bangsa Indonesia untuk bersatu karena banyak pihak asing yang tidak suka dengan kemajuan Indonesia. “Ini selalu yang diharapkan oleh bangsa-bangsa asing, kekuatan-kekuatan asing yang tidak suka Indonesia kuat, tidak suka Indonesia kaya,” ujarnya.
Pihak asing telah sejak ratusan tahun lalu mengadu domba bangsa ini. Upaya itu terus dilakukan hingga saat ini melalui LSM-LSM yang disoroti Prabowo. “Dengan uang, mereka membiayai LSM untuk mengadu domba kita,” ujar Prabowo dalam pidatonya. Ia menilai pihak asing hanya mengklaim sebagai pihak yang paling demokratis. “Mereka katanya adalah penegak demokrasi, HAM, kebebasan pers, padahal itu adalah versi mereka sendiri.”
Dalam artikel ini, Prabowo menyatakan bahwa ia sudah memiliki bukti keterlibatan asing dalam demo-demo yang terjadi di Indonesia. Meski begitu, Presiden belum menjelaskan dengan detail seperti apa bukti-buktinya itu. Apakah dia akan membuka lebih lanjut? Entahlah!
